Mubadalah.id – Maroko menjadi tim Afrika paling akhir yang berpulang dari gelaran Piala Dunia 2026. Bersua Prancis di babak perempat final, Achraf Hakimi cum sui harus mengakui keunggulan Kylian Mbappe dan tim. Meski Yassine Bounou tampil spektakuler, jala Maroko terkoyak dua kali.
Sebelumnya, tetangga mereka, Mesir, juga harus angkat kaki dari Piala Dunia 2026. Menghadapi sang juara bertahan Argentina pada Selasa (7/7) kemarin, Moh. Salah dan kolega sempat memberi perlawanan serius. Nahas, The African Lion mesti kalah dramatis 2-3.
Berpulangnya negara-negara Afrika dari ajang pesta sepakbola sejagat itu menandai berakhirnya narasi poskolonialisme yang semula mencuat kuat. Lolosnya sembilan dari sepuluh wakil Afrika ke babak knock-out yang sempat membikin banyak pihak berekspektasi kini tinggalah menjadi busa air liur.
Sayangnya, tim-tim wakil Afrika berguguran satu persatu. Negara-negara Eropa yang sedari awal telah menjadi unggulan nomor wahid tak lagi ada yang membendung. Setidaknya, dua unggulan Spanyol dan Prancis bahkan telah memastikan tiket semi-final.
Sementara, tiga wakil benua Biru lainnya, yakni Inggris, Norwegia, serta Swiss, akan saling gigit satu sama lain. Inggris bentrok dengan Norwegia, sedangkan Swiss bakal adu kekuatan melawan La Albiceleste yang bermotorkan sang megabintang, Lionel Messi alias La Pulga.
Poskolonialisme dan Re-kolonialisme sebagai Siklus tak Berujung
Tumbangnya wakil-wakil Afrika di hadapan para raksasa Eropa dan Amerika Latin menunjukkan bahwa laju gerak poskolonialisme memang seakan tak berujung. Resistensi yang mereka tunjukkan sedari awal belum berbayar lunas.
Podium utama yang sudah pasti bakal memberi tempat untuk wakil Eropa membikin Piala Dunia 2026 ini tetap menjadi panggung bagi Europe’s Dance. Mereka menari-nari di atas lapangan, menunjukkan keunggulannya atas kompetitor poskolonial, serupa Afrika dan Asia.
Namun, perkara yang tak boleh luput dari sorot mata publik, wajah poskolonialisme hari ini juga melahirkan re-kolonialisme. Hal itu tampak gamblang dalam laga Mesir kontra Argentina. Sebagai tim kuda hitam yang membawa bendera poskolonialisme, banyak orang mengunggulkan Mesir.
Harapan menguat agar Argentina tumbang. Asa itu berubah menjadi laku re-kolonialisme. Argentina beroleh persekusi dan cap tak layak lolos. Isu persekongkolan dengan FIFA menjadi gorengan khalayak ramai. Sementara, Mesir beroleh pemosisian sebagai mazhlum (korban).
Pertarungan antara poskolonialisme dan re-kolonialisme seperti mewajah dalam duel Mesir kontra Argentina itu menunjukkan bahwa virus kolonialisme dapat menjangkiti siapa saja. Pembawa narasi poskolonialisme tak berarti lantas suci dari agenda kolonisasi pihak lain.
Tirani dan Unfinished Misery
Europe’s dance sebagai fenomena yang mengemuka di gelaran Piala Dunia 2026 bagaimanapun juga akan melahirkan tirani baru. Kompetisi sepakbola akan melahirkan raja—baru ataupun lama—sebagaimana mewujud dalam hukum rimba: Yang kuat, yang berkuasa.
Itu berarti bahwa tirani dan derita tak akan pernah berkesudahan (unfinished misery). Apabila kita pertautkan dengan pandangan eksistensialisme Sartre-an, siklus ini memanglah bagian dari wajah nyata kehidupan. Sartre memandang bahwa segala sesuatu di luar diri adalah neraka (the hell is other).
Kesadaran ini tentu yanbaghi akan menggugah kesadaran bersama, bahwa setiap narasi tidaklah betul-betul suci. Distorsi dan deklinasi selalu muncul, bahkan dalam niatan semurni apapun. Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu pernah memberi peringatan untuk jangan sekali-kali percaya dengan keikhlasan.
Piala Dunia 2026 yang masih akan menjadi ajang Europe’s Dance juga mengingatkan kita bagaimana misi relasi setara yang berkesalingan (mubadalah) belum lagi mewajah. Kita masih membutuhkan kerja-kerja jangka panjang yang menuntut kesetiaan dan introspeksi, bahwa kita tak sungguh-sungguh baik. []









































