Mubadalah.id – Pekerja kesehatan atau orang lain yang telah terlatih melakukan pemeriksaan pelvis dapat mengikuti langkah-langkah berikut untuk membantu pasien pasca aborsi yang mengalami pendarahan hebat sebelum rahim benar-benar dikosongkan.
Penting! Karena mulut rahim masih terbuka, apa pun yang dimasukkan ke dalam vagina dapat membahayakan pasien dan meningkatkan risiko terjadinya infeksi berat.
Oleh karena itu, lakukan pertolongan dengan sangat hati-hati. Ingat, cara ini HANYA boleh dilakukan apabila pendarahan pasca aborsi sudah sedemikian berat sehingga mengancam nyawa pasien.
Pertama, setelah potongan jaringan kehamilan berhasil Anda keluarkan, masukkan kembali dua jari tangan yang telah mengenakan sarung tangan ke dalam vagina pasien, tepat di bawah rahimnya. Dengan tangan yang lain, pijat bagian bawah perut pasien.
Tindakan ini dapat membantu menghentikan pendarahan. Pastikan rahim berada tepat di antara kedua tangan Anda, yaitu satu tangan berada di dalam vagina dan satu tangan lainnya berada di luar, pada bagian bawah perut.
Kedua, suntikkan ergometrin dosis 0,2 miligram ke dalam otot besar, misalnya pada bagian pantat atau paha. Setelah itu, setiap empat jam berikan tablet ergometrin 0,2 miligram atau suntikan ergometrin 0,1 miligram. Lakukan selama 24 jam.
Ketiga, untuk mencegah infeksi, segera berikan antibiotik kepada pasien. Karena mulut rahim masih terbuka, kuman dapat dengan mudah masuk ke dalam rahim sehingga meningkatkan risiko terjadinya infeksi.
Keempat, apabila pasien tetap sadar selama proses ini, berikan ia minum. Namun, apabila pasien pingsan, ikuti petunjuk pada halaman berikutnya.
Kelima, meskipun Anda merasa telah berhasil mengeluarkan sisa-sisa jaringan kehamilan dan menghentikan pendarahan, pasien tetap harus segera Anda bawa ke rumah sakit.
Rahim masih perlu kita kosongkan secara menyeluruh dengan peralatan yang hanya tersedia di rumah sakit. Apabila pendarahan belum berhenti, teruskan memijat bagian bawah perut pasien selama perjalanan menuju rumah sakit.
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 330.










































