Mubadalah.id – Bila pasien pingsan setelah mengalami pendarahan pasca aborsi maka ini yang dapat anda lakukan:
Pertama, baringkan pasien dalam posisi miring, namun kedua kaki tetap lurus dan lebih tinggi daripada kepala. Kepala harus lebih rendah dari kaki dan menghadap ke samping.
Kedua, bila pasien tampak tercekik atau tersedak, tarik lidahnya dengan jari Anda.
Ketiga, bila pasien habis muntah, segera bersihkan mulutnya. Muntahan dapat mengancam keselamatan pasien. Pastikan kepalanya tetap lebih rendah daripada kedua kakinya, menghadap ke samping, dan tidak menunduk. Dengan posisi ini pasien dapat dicegah menghirup muntahan ke dalam paru-paru.
Keempat, angan memberi pasien makan atau minum apa pun, termasuk obat, sebelum ia benar-benar sadar selama sedikitnya satu jam.
Kelima, bila Anda mampu melakukan pemberian infus atau cairan melalui dubur, lakukanlah.
Untuk keluarga pasien: jangan menunggu datangnya pekerja kesehatan. Segera bawa pasien ke rumah sakit bila muncul tanda-tanda syok. Jangan sampai terlambat mendapatkan pertolongan medis!
Infeksi
Bila aborsi dilakukan saat usia kandungan kurang dari 3 bulan (12 minggu) sejak hari pertama haid terakhir, risikonya mungkin hanya infeksi ringan.
Infeksi parah terjadi bila infeksi sudah menyebar ke aliran darah (sepsis). Bila aborsi dilakukan setelah kandungan berusia 3 atau 4 bulan, risiko infeksi parah menjadi lebih besar.
Infeksi juga dapat terjadi bila aborsi menyebabkan luka pada rahim. Sepsis sangat berbahaya dan dapat menyebabkan syok.
Mengapa terjadi infeksi? Karena:
Pertama, ada tangan atau benda kotor yang masuk atau menyentuh rahim. Kedua, masih ada sisa-sisa kandungan yang tertinggal di dalam rahim sehingga mengganggu proses pemulihan.
Ketiga, pasien sudah mengalami infeksi sebelum menjalani aborsi. Dalam proses aborsi yang aman, bila dokter menemukan infeksi pada pemeriksaan pendahuluan, pasien tidak akan diizinkan menjalani aborsi sebelum infeksi tersebut diatasi. Keempat, ada lubang pada dinding rahim.
Gejala infeksi ringan: pertama, demam ringan. Kedua, rasa nyeri ringan pada bagian bawah perut. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 330.






































