Mubadalah.id – Sebagian besar lecet atau luka pada alat kelamin terjadi akibat infeksi penyakit menular seksual (PMS) yang ditularkan melalui hubungan seksual. Sulit menentukan penyebab luka tersebut hanya dari bentuknya, sebab luka akibat sifilis dan chancroid (kangkroid) sering kali tampak serupa. Selain itu, luka pada alat kelamin juga dapat mempermudah masuknya virus HIV ke dalam tubuh.
Pertama, sifilis. Sifilis merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Penyakit ini berbahaya karena dapat menyerang berbagai organ tubuh dan bertahan selama bertahun-tahun apabila tidak segera diobati. Meski demikian, sifilis dapat disembuhkan apabila mendapatkan penanganan sejak dini.
Tanda-tanda:
Gejala paling awal biasanya berupa lecet atau luka kecil yang tidak terasa nyeri. Bentuknya dapat menyerupai jerawat, lecet biasa, luka datar yang tampak basah, atau lepuh seperti kulit yang terkena air panas.
Luka tersebut biasanya bertahan selama beberapa hari hingga beberapa minggu, kemudian menghilang dengan sendirinya. Namun, hilangnya luka bukan berarti penyakit telah sembuh. Pada tahap itu, bakteri penyebab sifilis justru telah menyebar ke seluruh tubuh.
Gejala lanjutan umumnya muncul beberapa bulan setelah luka awal menghilang. Penderitanya dapat mengalami demam, tenggorokan terasa kering dan nyeri, luka di mulut yang menyerupai sariawan, ruam atau lecet terutama pada telapak tangan dan telapak kaki, serta pembengkakan pada persendian. Pada tahap ini, penderita masih dapat menularkan penyakit kepada orang lain.
Gejala lanjutan tersebut juga dapat hilang dengan sendirinya. Namun, bakteri penyebab sifilis tetap berada di dalam tubuh dan terus berkembang. Karena itu, jangan terburu-buru menganggap seseorang telah sembuh hanya karena luka dan gejalanya sudah tidak tampak lagi.
Apabila tidak segera Anda obati, sifilis dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, antara lain:
Pertama, penyakit jantung. Kedua, kelumpuhan. Ketiga, gangguan mental dan keempat kematian. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 348.








































