Senin, 13 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Normal

    Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Cairan Vagina

    Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Normal

    Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Cairan Vagina

    Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Disabilitas

Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

Inilah pelajaran dari kisah Manami Ito. Ketika ia memainkan biolanya di hadapan dunia, yang sedang ia tunjukkan bukanlah keberhasilan menjadi "normal" kembali.

Muhammad Satrio A by Muhammad Satrio A
13 Juli 2026
in Disabilitas, Rekomendasi
A A
0
Normal

Normal

9
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Tepuk tangan bergemuruh memenuhi Stadion Nasional Jepang ketika Manami Ito menggesek busur biolanya pada Upacara Pembukaan Paralimpiade Tokyo 2020. Berbagai media segera memberitakan penampilannya. Ribuan komentar bermunculan. “Luar biasa.” “Tetap bisa bermain biola meski kehilangan lengan.” Hampir semua pujian berangkat dari cara pandang yang sama, yakni bahwa Manami berhasil melakukan sesuatu yang lazim dilakukan oleh orang tanpa disabilitas.

Sekilas, tidak ada yang salah dengan kekaguman tersebut. Namun, ketika kita melihatnya lebih dekat, muncul sebuah kegelisahan yang jarang kita renungkan. Mengapa kita hampir selalu mengukur keberhasilan penyandang disabilitas dari kedekatan mereka dengan kehidupan yang kita sebut “normal”?

Kegelisahan itu tidak hanya berkaitan dengan kisah Manami Ito. Ia membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar tentang bagaimana masyarakat membentuk ukuran mengenai kemampuan, kondisi fisik, bahkan nilai seseorang. Barangkali, persoalan terbesar bukan terletak pada keberagaman kondisi fisik, melainkan pada keyakinan bahwa hanya ada satu standar yang layak dijadikan ukuran bagi semua orang.

Ketika “Normal” Menjadi Standar Kehidupan

Manami Ito merupakan seorang perawat, mantan atlet Paralimpiade, sekaligus pemain biola asal Jepang. Pada 2004, ia kehilangan lengan kanannya akibat kecelakaan lalu lintas. Banyak orang mengira hidupnya sebagai musisi telah berakhir. Namun, ia memilih mencari cara lain agar tetap dapat memainkan biola. Dengan bantuan lengan prostetik khusus, Manami mengembangkan teknik bermain yang mengandalkan koordinasi bahu, keseimbangan tubuh, dan tangan kirinya.

Dalam wawancara bersama NHK World, Manami menjelaskan bahwa ia tidak berusaha mengembalikan kehidupannya seperti sebelum kecelakaan. Ia hanya ingin tetap memainkan musik yang ia cintai. Ucapannya memperlihatkan bahwa ia tidak mengejar tubuh yang pernah ia miliki, melainkan memilih membangun kemungkinan baru dari kondisi fisiknya saat ini.

Lengan prostetik tidak mengembalikan keadaan fisik Manami seperti sebelum kecelakaan. Teknologi itu justru memperluas kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Musik yang lahir dari biolanya bukan hasil dari pemulihan kondisi fisik, melainkan buah dari kemampuan manusia untuk terus beradaptasi.

Jika demikian, mengapa kita masih memaknai kisah Manami sebagai keberhasilan kembali menjadi “normal”? Bukankah yang lahir justru cara baru memainkan biola, bukan sekadar upaya meniru cara lama?

Pengalaman Manami memperlihatkan bahwa persoalan sesungguhnya tidak berhenti pada kehilangan satu lengan. Persoalan muncul ketika masyarakat lebih dahulu menetapkan satu ukuran tentang tubuh yang dianggap ideal, lalu mengukur setiap orang dengan standar yang sama.

Mengapa Konsep “Normal” Terus Bertahan?

Pada awalnya, konsep “normal” berkembang dalam dunia kedokteran sebagai alat untuk membantu tenaga kesehatan mengenali kondisi tubuh, mendiagnosis penyakit, dan menentukan penanganan yang tepat. Dalam konteks tersebut, ukuran normal memiliki fungsi ilmiah, bukan fungsi moral.

Persoalan muncul ketika ukuran medis meluas ke kehidupan sosial. Tubuh yang berada di luar rata-rata perlahan dipandang sebagai tubuh yang kurang ideal. Standar yang semula hanya berfungsi menjelaskan kondisi tubuh berubah menjadi ukuran untuk menilai kemampuan, produktivitas, bahkan martabat seseorang.

Menariknya, ukuran tentang “normal” tidak pernah benar-benar tetap. Masyarakat dapat mengubah makna “normal” seiring perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Karena itu, “normal” bukan identitas yang melekat secara alamiah pada tubuh manusia. Masyarakat terus membentuk, menegosiasikan, dan mempertahankan konsep sosial tersebut.

Sosiolog Inggris Mike Oliver memperkenalkan social model of disability pada 1983 sebagai kritik terhadap cara pandang tersebut. Menurut Oliver, pendekatan medis terlalu berfokus pada kondisi fisik individu sehingga masyarakat seolah-olah menjadikan penyandang disabilitas sebagai sumber persoalan.

Sebaliknya, ia mengalihkan perhatian pada hambatan sosial yang membuat penyandang disabilitas sulit berpartisipasi secara setara. Artinya, persoalan utama tidak selalu terletak pada kondisi fisik seseorang, melainkan pada lingkungan yang gagal mengakomodasi keberagaman manusia.

Pandangan tersebut semakin relevan jika melihat data World Health Organization (WHO). WHO memperkirakan lebih dari 1,3 miliar orang, atau sekitar 16 persen populasi dunia, hidup dengan disabilitas. Artinya, satu dari enam orang di dunia mengalami bentuk disabilitas tertentu. Jika jumlahnya sebesar itu, masih pantaskah kita menganggap tubuh mereka sebagai pengecualian dari apa yang disebut normal?

Ableism: Ketika Standar Berubah Menjadi Diskriminasi

Ableism muncul ketika masyarakat menjadikan tubuh tanpa disabilitas sebagai ukuran ideal. Bentuk diskriminasi ini tidak selalu hadir melalui penghinaan atau perlakuan yang terang-terangan merendahkan. Justru karena hadir dalam kebiasaan sehari-hari, ableism sering luput dari perhatian.

Masyarakat mereproduksi ableism melalui bahasa, kebiasaan, dan berbagai standar yang terus mereka ulang. Pengulangan itu membuatnya tampak sebagai sesuatu yang wajar. Kita jarang mempertanyakan mengapa perancang ruang publik menganggap semua orang mampu berjalan, menaiki tangga, melihat, medengar, atau menggenggam benda dengan cara yang sama. Ketika masyarakat menerima anggapan itu tanpa kritik, keberagaman kondisi fisik perlahan diposisikan sebagai pengecualian.

Cara pandang tersebut juga hidup dalam bahasa sehari-hari. Media turut memperkuatnya melalui frasa seperti “tetap bisa”, “meski memiliki keterbatasan”, atau “berhasil seperti orang normal”. Banyak orang mengucapkan frasa itu sebagai bentuk apresiasi.

Namun, pilihan bahasa tersebut tanpa sadar terus menjadikan tubuh tanpa disabilitas sebagai titik pembanding. Akibatnya, masyarakat lebih sering memandang penyandang disabilitas sebagai pengecualian yang berhasil melampaui keterbatasannya daripada sebagai manusia yang memiliki cara hidup dan kemampuan yang sama-sama bernilai.

Memuliakan Manusia, Bukan Menyeragamkan Tubuh

Cara pandang tersebut sejalan dengan perspektif Mubadalah yang menolak relasi berdasarkan superioritas satu kelompok atas kelompok lain. Mubadalah memandang setiap manusia sebagai subjek yang setara, yang sama-sama memiliki hak untuk hidup bermartabat, berpartisipasi dalam kehidupan sosial, dan memperoleh kesempatan yang adil.

Al-Qur’an menegaskan, “Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam” (QS. Al-Isra’: 70). Ayat tersebut menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak bergantung pada kesehatan, produktivitas, ataupun kondisi fisik tertentu. Kemuliaan melekat pada setiap manusia karena kemanusiaannya, bukan karena kesempurnaan fisiknya.

Mungkin inilah pelajaran terbesar dari kisah Manami Ito. Ketika ia memainkan biolanya di hadapan dunia, yang sedang ia tunjukkan bukanlah keberhasilan menjadi “normal” kembali. Ia menunjukankan bahwa manusia selalu dapat menemukan menemukan cara baru untuk hidup, berkarya, dan memaknai kehidupan tanpa kehilangan identitas dirinya.

Barangkali, kita justru perlu mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas, bukan memulihkan tubuh mereka. Yang lebih mendesak ialah cara pandang kita terhadap manusia. Selama kita masih menjadikan “normal” sebagai ukuran untuk menghargai seseorang, kita belum sepenuhnya memahami makna kemanusiaan.

Sebab, masyarakat yang adil bukanlah masyarakat yang berhasil menyeragamkan tubuh manusia, melainkan masyarakat yang mampu menghormati setiap orang dalam seluruh keberagamannya. Mungkin, Manami Ito tidak sedang mengubah cara orang menciptakan musik melalui biolanya. Ia sedang mengingatkan kita bahwa tidak pernah ada satu cara yang mutlak untuk menjadi manusia. []

Tags: DisabilitasKesalinganKesetaraanMubadalahMubadalah Goes to Communitynormal
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

Next Post

Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

Muhammad Satrio A

Muhammad Satrio A

Adalah seorang mahasiswa yang memiliki minat pada dunia kepenulisan, jurnalisme, dan kajian sosial. Aktif menulis opini, esai, serta reportase di media kampus dan komunitas. Saat ini ia terus belajar mengembangkan kemampuan menulis sebagai sarana berbagi gagasan dan pengetahuan kepada masyarakat.

Related Posts

Kreator Disabilitas
Disabilitas

Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

11 Juli 2026
Kemandirian Manusia
Disabilitas

Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

9 Juli 2026
Mitos Disabilitas
Disabilitas

Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

8 Juli 2026
Gender and Our Brains
Buku

Ulasan Buku Gender and Our Brains: Apakah Perbedaan Laki-laki dan Perempuan itu Bawaan Lahir?

8 Juli 2026
Disabilitas Kekurangan Fisik
Disabilitas

Benarkah Disabilitas Sama dengan Kekurangan Fisik?

7 Juli 2026
Demonstrasi
Publik

Mengapa Demonstrasi Tetap Penting?

4 Juli 2026
Next Post
Cairan Vagina

Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya
  • Ketika Normal Menjadi Diskriminasi
  • Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan
  • Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan
  • Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0