Selasa, 14 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Integritas

    Integritas Melawan Korupsi: Sikap Gereja Katolik terhadap Korupsi

    Memasak

    Memasak Menyembuhkan Saya dari Patah Hati di Usia Matang

    Anak Guru SLB

    Melihat Disabilitas dari Rumah: Cerita Anak Guru SLB

    The Personal is Political

    Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    Normal

    Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    sifilis

    Sifilis pada Ibu Hamil dan Kangkroid, Dua Infeksi Menular Seksual yang Perlu Diwaspadai

    Lecet di Kelamin

    Jangan Abaikan Lecet di Area Kelamin, Bisa Menjadi Gejala Awal Sifilis

    Kutil di Kelamin

    Kutil di Kelamin: Kenali Gejala, Cara Mengobati, dan Kapan Harus Waspada

    Alat Kelamin

    Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin

    Cairan Vagina

    Apa Saja Penyebab Munculnya Cairan Vagina yang Tidak Normal?

    Cairan Vagina

    Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Integritas

    Integritas Melawan Korupsi: Sikap Gereja Katolik terhadap Korupsi

    Memasak

    Memasak Menyembuhkan Saya dari Patah Hati di Usia Matang

    Anak Guru SLB

    Melihat Disabilitas dari Rumah: Cerita Anak Guru SLB

    The Personal is Political

    Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    Normal

    Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    sifilis

    Sifilis pada Ibu Hamil dan Kangkroid, Dua Infeksi Menular Seksual yang Perlu Diwaspadai

    Lecet di Kelamin

    Jangan Abaikan Lecet di Area Kelamin, Bisa Menjadi Gejala Awal Sifilis

    Kutil di Kelamin

    Kutil di Kelamin: Kenali Gejala, Cara Mengobati, dan Kapan Harus Waspada

    Alat Kelamin

    Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin

    Cairan Vagina

    Apa Saja Penyebab Munculnya Cairan Vagina yang Tidak Normal?

    Cairan Vagina

    Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Integritas Melawan Korupsi: Sikap Gereja Katolik terhadap Korupsi

Integritas perlu menjadi pondasi utama dalam kepemimpinan. Dengan integritas tersebut, pemimpin bisa disebut sebagai pemimpin bijak

L. Rio Hardianto by L. Rio Hardianto
14 Juli 2026
in Publik
A A
0
Integritas

Integritas

6
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Beberapa waktu terakhir, kasus korupsi kembali menjadi perhatian masyarakat. Berbagai pemberitaan mengenai penyalahgunaan jabatan dan penyimpangan wewenang terus mengisi ruang publik. Setiap kali sebuah kasus terungkap, masyarakat kembali mempertanyakan kualitas moral dan integritas para pemegang kekuasaan.

Dalam kehidupan berbangsa, korupsi sering dipahami sebagai pelanggaran hukum yang merugikan keuangan negara. Pandangan tersebut tentu benar, tetapi belum cukup. Perspektif Katolik mengajak melihat persoalan ini lebih dalam.

Korupsi bukan sekadar tindakan mengambil sesuatu yang bukan haknya. Korupsi merupakan penyalahgunaan kepercayaan, pengkhianatan terhadap kesejahteraan bersama, dan kegagalan menjaga integritas dalam menjalankan tanggung jawab.

Karena itu, perjuangan melawan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum. Bangsa ini juga memerlukan pembentukan hati nurani yang mampu menjaga integritas dalam setiap keputusan, baik dalam kehidupan pribadi maupun ketika menerima kepercayaan untuk melayani masyarakat.

Jabatan sebagai Amanah, Bukan Kesempatan

Dalam tradisi Katolik, setiap bentuk kepemimpinan selalu berakar pada semangat pelayanan. Yesus sendiri menegaskan, “Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mrk. 10:43). Sabda ini menunjukkan bahwa jabatan bukanlah sarana untuk memperoleh keuntungan pribadi, melainkan kesempatan untuk mengusahakan kebaikan bersama.

Pandangan tersebut juga tampak ketika Yesus membasuh kaki para murid (Yoh. 13:1–15). Tindakan itu membalik cara pandang dunia tentang kekuasaan. Seorang pemimpin tidak menunjukkan kebesaran melalui dominasi, tetapi melalui kerendahan hati dan pelayanan.

Korupsi lahir ketika seseorang melupakan makna pelayanan. Jabatan yang seharusnya menjadi amanah berubah menjadi alat untuk memperkaya diri. Kekuasaan yang semestinya melindungi masyarakat justru digunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi atau kelompok. Pada titik inilah integritas mulai terkikis.

Ajaran Sosial Gereja menegaskan bahwa setiap penyelenggara kehidupan publik memiliki tanggung jawab untuk mengupayakan bonum commune, yaitu kesejahteraan bersama. Kekuasaan hanya memperoleh makna apabila berguna bagi  kepentingan masyarakat. Karena itu, integritas menjadi syarat utama bagi siapa pun yang menerima tanggung jawab publik.

Korupsi Melukai Martabat Sesama

Sering kali masyarakat melihat korupsi hanya melalui angka kerugian negara. Padahal, dampaknya jauh melampaui persoalan finansial. Korupsi mengurangi kesempatan masyarakat memperoleh pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan yang memadai, pembangunan yang merata, dan perlindungan sosial yang adil.

Nabi Yesaya telah mengkritik para pemimpin yang “mencintai suap dan mengejar sogok” (Yes. 1:23). Kritik tersebut menunjukkan bahwa penyalahgunaan kekuasaan selalu membawa penderitaan bagi masyarakat.

Demikian pula Nabi Amos menyerukan agar keadilan mengalir seperti air dan kebenaran seperti sungai yang tidak pernah kering (Am. 5:24). Keadilan tidak akan bertumbuh ketika korupsi menguasai kehidupan bersama.

Katekismus Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa mencuri dan merampas hak sesama bertentangan dengan perintah Allah. Korupsi bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan tindakan yang melukai martabat manusia.

Ketika seseorang menyalahgunakan uang atau fasilitas publik, ia sesungguhnya sedang mengurangi hak orang lain untuk hidup lebih baik. Karena itu, membangun integritas berarti menghormati martabat setiap pribadi. Integritas mendorong seseorang menyadari bahwa setiap keputusan akan memengaruhi kehidupan banyak orang.

Integritas Berawal dari Hati Nurani

Korupsi tidak muncul secara tiba-tiba. Banyak tindakan besar berawal dari kompromi-kompromi kecil yang terus terjadi. Ketika seseorang mulai menganggap ketidakjujuran sebagai sesuatu yang biasa, perlahan-lahan hati nuraninya kehilangan kepekaan.

Yesus pernah bertanya, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mrk. 8:36). Pertanyaan ini mengingatkan bahwa keberhasilan tidak pernah dapat menggantikan nilai integritas. Jabatan, kekayaan, atau popularitas tidak akan membawa kebahagiaan apabila mengorbankan kejujuran.

Demikian pula Yesus mengajarkan, “Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar” (Luk. 16:10). Integritas tidak lahir ketika seseorang memperoleh jabatan tinggi. Integritas justru tumbuh melalui kebiasaan memilih yang benar dalam hal-hal sederhana. Kejujuran saat mengelola uang, tanggung jawab dalam pekerjaan, dan keberanian menolak jalan pintas merupakan latihan yang membentuk karakter.

Gereja memandang hati nurani sebagai tempat manusia mendengar panggilan Allah untuk melakukan kebaikan. Oleh sebab itu, pendidikan integritas tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dalam keluarga, komunitas, tempat kerja, dan kehidupan beriman. Ketika hati nurani terus terbentuk, seseorang akan lebih mampu menolak godaan yang merusak dirinya maupun sesamanya.

Membangun Budaya Integritas

Pemberantasan korupsi membutuhkan sistem hukum yang kuat, pengawasan yang efektif, dan penegakan hukum yang adil. Namun, semua itu tidak akan cukup apabila masyarakat kehilangan budaya integritas.

Budaya ini tumbuh ketika kejujuran menjadi kebiasaan bersama. Orang tua mengajarkan kejujuran kepada anak-anak sejak dini. Guru memberi teladan melalui sikap yang adil. Pemimpin menunjukkan tanggung jawab dalam menggunakan kewenangan. Pegawai bekerja dengan profesional tanpa memanfaatkan jabatan untuk keuntungan pribadi. Dengan cara seperti inilah integritas menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti mengingatkan bahwa masyarakat yang sehat lahir dari kepedulian terhadap kesejahteraan bersama. Tidak ada seorang pun yang dapat membangun kehidupan yang adil sendirian. Semua orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya. Karena itu, membangun integritas bukan hanya tugas pejabat negara atau aparat penegak hukum. Setiap warga negara ikut menentukan kualitas kehidupan bersama melalui pilihan-pilihan kecil setiap hari.

Integritas sebagai Kesaksian Iman

Iman Kristiani tidak berhenti pada doa, liturgi, atau kegiatan keagamaan. Iman juga tampak melalui cara seseorang bekerja, mengelola tanggung jawab, dan memperlakukan sesama. Kejujuran dalam pekerjaan merupakan bentuk nyata kesaksian iman.

Yesus mengajarkan bahwa panggilan para murid menjadi garam dan terang dunia (Mat. 5:13–16). Garam memberi rasa, sedangkan terang mengusir kegelapan. Panggilan tersebut mengajak setiap orang menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui integritas.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang cerdas, tetapi kecerdasan saja tidak cukup. Bangsa ini juga membutuhkan pribadi-pribadi yang berani mempertahankan integritas ketika menghadapi godaan kekuasaan, uang, maupun kepentingan pribadi. Masyarakat membutuhkan teladan yang menunjukkan bahwa kejujuran masih memiliki tempat dalam kehidupan publik.

Pada akhirnya, perjuangan melawan korupsi tidak hanya berlangsung dalam ruang sidang atau lembaga penegak hukum. Perjuangan itu juga berlangsung dalam hati setiap orang.

Ketika seseorang memilih integritas daripada keuntungan sesaat, ketika seseorang mengutamakan pelayanan daripada kepentingan pribadi, dan ketika seseorang berani berkata benar meskipun harus menanggung risiko, saat itulah harapan bagi kehidupan bersama mulai tumbuh.

Korupsi mungkin merusak kepercayaan masyarakat, tetapi integritas selalu membuka jalan bagi pemulihan. Dari integritas yang hidup dalam diri setiap pribadi, lahirlah masyarakat yang lebih adil, lebih bermartabat, dan lebih mampu menjaga amanah demi kesejahteraan bersama. []

Tags: gerejaintegritasKorupsipemimpinRakyat
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Sifilis pada Ibu Hamil dan Kangkroid, Dua Infeksi Menular Seksual yang Perlu Diwaspadai

L. Rio Hardianto

L. Rio Hardianto

Seorang biarawan dan calon Imam  Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ).  Saat ini, dia sedang menjalani pendidikan calon imam dan hidup membiara di Yogyakarta. Dia juga menempuh pendidikan S1 dengan Program Studi Filsafat Keilahian di Fakultas Teologi Wedhabakti, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Related Posts

Pemimpin
Publik

Pemimpin Tanpa Kepala: Membaca Kondisi Indonesia Hari Ini

18 Juni 2026
Korupsi
Publik

Korupsi di Meja Makan Anak Sekolah

12 Juni 2026
Skandal Kekuasaan
Publik

Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

12 Maret 2026
Selibat
Personal

Selibat dan Kemurnian Sebagai Panggilan Luhur dalam Gereja

5 Februari 2026
WKRI
Publik

WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

28 Januari 2026
Dialog Lintas Iman
Publik

Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

23 Januari 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Integritas Melawan Korupsi: Sikap Gereja Katolik terhadap Korupsi
  • Sifilis pada Ibu Hamil dan Kangkroid, Dua Infeksi Menular Seksual yang Perlu Diwaspadai
  • Memasak Menyembuhkan Saya dari Patah Hati di Usia Matang
  • Jangan Abaikan Lecet di Area Kelamin, Bisa Menjadi Gejala Awal Sifilis
  • Melihat Disabilitas dari Rumah: Cerita Anak Guru SLB

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0