Mubadalah.id – Sekitar satu dari tiga bayi yang lahir dari ibu yang positif HIV juga dapat tertular virus tersebut. Artinya, tidak semua bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan HIV akan terinfeksi. Sebagian besar bayi lainnya lahir tanpa tertular HIV.
Bayi dapat tertular HIV sejak masih berada di dalam kandungan, saat proses persalinan, atau ketika menyusu. Saat ini, berbagai obat antiretroviral telah dikembangkan dan diuji untuk membantu menurunkan risiko penularan HIV dari ibu kepada bayi.
Selama kehamilan, penting bagi ibu yang hidup dengan HIV untuk memeriksakan kehamilannya kepada bidan atau dokter yang memiliki kompetensi dalam penanganan HIV/AIDS.
Seorang ibu yang positif HIV akan mewariskan antibodi HIV kepada bayinya, tetapi tidak selalu mewariskan virus HIV itu sendiri. Karena itu, bila bayi yang baru lahir menjalani tes HIV, hasilnya bisa menunjukkan positif akibat adanya antibodi dari sang ibu, bukan karena bayi benar-benar terinfeksi HIV.
Oleh sebab itu, bayi perlu menjalani pemeriksaan ulang setelah beberapa waktu. Banyak bayi yang pada pemeriksaan awal menunjukkan hasil positif, tetapi kemudian hasil tes berikutnya menunjukkan bahwa mereka tidak terinfeksi HIV.
Sulit memastikan apakah seorang bayi benar-benar positif HIV hanya berdasarkan keberadaan antibodi dalam darahnya sebelum berusia sekitar 18 bulan.
Pada usia tersebut, antibodi yang berasal dari tubuh ibu biasanya sudah hilang dari tubuh bayi. Jika setelah itu masih Anda temukan antibodi HIV, berarti antibodi tersebut tereproduksi oleh tubuh bayi sendiri, yang menunjukkan bahwa bayi telah terinfeksi HIV. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 380.







































