Mubadalah.id – Memang biasanya lebih penting mengubah perilaku yang tidak aman daripada menjalani tes HIV. Namun, Anda dan pasangan sebaiknya menjalani tes HIV apabila:
Pertama, kalian ingin menikah (atau ingin menjalin hubungan seksual monogamis/tanpa pasangan lain) atau ingin memiliki anak.
Kedua, Anda, pasangan, atau bayi kalian menunjukkan tanda-tanda AIDS.
Ketiga, Anda dan pasangan pernah melakukan hubungan seksual yang tidak aman.
Mengapa Harus Tes HIV?
Tes HIV penting karena menjadi tonggak penentu bagi berbagai keputusan yang akan Anda ambil pada masa selanjutnya. Bila hasil tes menunjukkan negatif, Anda dapat belajar melindungi diri agar tidak terinfeksi HIV di masa depan. Bila hasil tes menunjukkan positif, Anda dapat mulai melakukan hal-hal berikut:
Pertama, mencegah penularan kepada pasangan seksual.
Kedua, segera mendapatkan perawatan sedini mungkin apabila muncul masalah kesehatan.
Ketiga, mengubah pola hidup agar dapat tetap sehat lebih lama.
Keempat, mendapatkan kekuatan dan dukungan, sekaligus memberi semangat kepada sesama pengidap HIV di sekitar Anda.
Kelima, merencanakan masa depan bersama keluarga.
Bila Anda Positif Terkena HIV
Begitu menerima hasil tes yang menunjukkan positif HIV, perasaan Anda mungkin akan kacau atau campur aduk. Adalah hal yang wajar apabila pada awalnya Anda membantah hasil tes tersebut, menyangkal adanya HIV dalam tubuh, atau menolak mempercayainya. Anda juga bisa merasa marah dan sedih, serta menyalahkan diri sendiri maupun orang lain.
Masa itu tentu sangat berat. Namun, apabila Anda dapat menemukan seseorang yang dapat dipercaya untuk diajak berbicara, hal tersebut dapat membantu meringankan beban perasaan Anda.
Meski demikian, berhati-hatilah dalam memilih orang yang akan diberi tahu mengenai status HIV Anda. Suami atau pasangan mungkin saja menyalahkan Anda sebagai penyebab penyakit ini, padahal bisa jadi dialah yang terlebih dahulu membawa virus tersebut.
Keluarga, tetangga, dan teman-teman mungkin akan merasa takut setiap kali melihat Anda. Mereka bisa menjauh atau bahkan mengucilkan Anda karena khawatir tertular. Maafkanlah mereka, karena kemungkinan besar mereka belum memahami bagaimana HIV/AIDS sebenarnya menyebar. Jika mereka mengetahuinya dengan benar, sikap mereka mungkin akan berbeda.
Bila memungkinkan, temuilah seorang penasihat HIV/AIDS yang telah terlatih. Ia dapat membantu Anda mengambil keputusan tentang bagaimana menghadapi perubahan besar dalam kehidupan setelah mengetahui status HIV Anda. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 374.











































