Senin, 13 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Attention Span Menurun, Media Sosial Jadi Pelaku

Seseorang yang memiliki attention span yang baik memungkinkan untuk fokus pada tugas hingga selesai tanpa mengalami distraksi dari sekitarnya

Firda Rodliyah by Firda Rodliyah
12 Agustus 2024
in Publik
A A
0
attention span

attention span

16
SHARES
776
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Pada suatu waktu, saya sempat bertanya kepada beberapa teman. Mengapa di tengah semangat literasi yang menggebu, saya pribadi tidak memiliki ketahanan diri yang cukup untuk membaca buku atau menonton film dalam jangka waktu lama. Sebentar-sebentar, ponsel pintar selalu mengalihkan pandangan dan fokus saya. Saya selalu mengeceknya, padahal tidak ada notifikasi apa-apa.

Salah seorang teman pun mengatakan. Bahwa saya telah mengalami penurunan attention span.

Bahasa mudahnya, attention span merupakan kemampuan seseorang untuk memusatkan perhatian pada suatu tugas atau aktivitas tertentu dalam jangka waktu tertentu. Seseorang yang memiliki attention span yang baik memungkinkan untuk fokus pada tugas hingga selesai tanpa mengalami distraksi dari sekitarnya.

Saya pun kembali menanyakan kepadanya. “Apakah hal ini ada kaitannya dengan short video Youtube, Reels di Instagram, tweet di X, atau postingan di TikTok yang selalu menyajikan video berdurasi pendek maupun ribuan informasi yang tiada habisnya?”

Saya selalu curiga, namun tak berani bergema kata. Kurang ilmu bahasanya. Tapi cukup menerka-nerka. Karena tiap bosan dengan film yang saya tonton, pandangan saya teralihkan dengan media sosial. Kembali scroll-scroll reels Instagram tiada henti. Atau ketika saya mulai gagal fokus untuk melanjutkan bacaan, maka tangan saya langsung reflek mencari ponsel pintar, padahal tidak ada notifikasi penting apa-apa dairnya.

Kemudian teman saya mengiyakannya.

Bagian dari Kehidupan

Kalau kita pikir-pikir, media sosial memang telah menjadi bagian yang tidak bisa memisahkan diri dengan kehidupan sehari-hari. Baik Instagram, TikTok, Facebook, maupun Twitter, telah begitu banyak menawarkan berbagai macam konten dan informasi yang bisa kita akses dengan mudah, secara instan, tanpa jeda, tanpa ujung, dan tak ada habis-habisnya.

Lantas dengan kemudahan ini, di sisi lain memang bisa memberikan manfaat terntentu bagi kita semua. Seperti halnya kemudahan mencari dan mendapatkan pengetahuan dengan durasi yang begitu singkat dengan isi yang padat, keluasaan dalam berkomunikasi dengan siapapun, kapanpun, dan di manapun. Namun di sisi lain, juga bisa berpengaruh buruk, lebih-lebih kepada mengubah pola attention span kita dalam berbagai kegiatan.

Dalam melakukan suatu pekerjaan yang membutuhkan waktu panjang, misalnya. Barangkali tanpa sadar, kita seringkali merasa hilang attentition span saat berada dalam keadaan stagnan dalam durasi yang cukup lama. Baik dalam pelajaran, pekerjaan, maupun melaksanakan sebuah tugas tertentu.

Hal ini tak lain merupakan pengaruh dari media sosial yang mendesain dirinya untuk membuat otak kita hanya bisa menerima informasi yang singkat darinya. Konten pendek ini kemudian membuat otak biasa berpindah dari satu informasi ke yang lain dengan begitu cepat. Dan ketika kita mulai menghadapi suatu hal yang panjang dan kompleks, baik bacaan, tontonan, maupun tugas tertentu, otak kita tidak tahu bagaimana caranya memproses dengan benar.

Algoritma Media Sosial

Algoritma-algoritma media sosial yang telah membaca ketertarikan dan minat kita. Kemudian turut membuat kita makin betah untuk scroll–scroll tanpa henti. Niatnya sebentar, biar istirahat dulu sebelum lanjut kerjaan lain, tapi malah lupa waktu. Media sosial telah membuat kita jatuh dalam pangkuannya. Hingga kita mudah gagal fokus dan ditarik lagi untuk membuka ponsel pintar, lagi dan lagi.

Salah satu survei dari Pew Research Center pun membuktikan, bahwa ada 31% remaja yang mengatakan kehilangan fokus karena seringkali mengecek ponselnya. 49% dari mereka pun menyatakan bahwa seringkali menggunakan teknologi dengan alasan yang tidak ada hubungannya dengan kelas, bahkan sebenarnya mengganggu proses belajar mereka.

Setelahnya riset ini National Institutes of Health lanjutkan dengan menemukan bahwa begitu banyak remaja yang menghabiskan lebih dari dua jam waktunya di depan layar ponsel memiliki nilai yang buruk. Mengapa demikian?

Karena mereka tidak belajar dengan baik. Bagaimana mau belajar, untuk fokus saja susahnya minta ampun. Attention span mereka telah teralihkan oleh media sosial. Sehingga otak mereka jadi bingung saat berhadapan dengan buku-buku pelajaran yang padat informasi. Karena seringnya mengakses informasi-informasi singkat.

Bahkan saya sendiri pun mengakuinya. Bahwa media sosial telah membuat mudah sekali merasa bosan untuk membaca satu buku yang harusnya bisa habis dalam beberapa hari saja. Bahkan tak jarang juga melakukan multitasking atau bahasanya merapel banyak pekerjaan dalam satu waktu. Dampaknya adalah tidak fokus, pekerjaan makin lama, konsentrasi pecah, dan kualitas pekerjaan tidak maksimal.

Notifikasi dan Reward

Apalagi saat notifikasi tiap media sosial kita hidupkan semua. Sudah berapa banyak notifikasi muncul berkali-kali dari layar ponsel kita? Saat kita mencoba untuk menghidupkan semua notifikasi. Ia takkan habis waktu memberikan kita kabar baru, mereduksi attention span kita akan pekerjaan di dunia nyata.

Belum lagi saat kita telah memposting sesuatu di media sosial. Kemudian ada orang-orang yang memberikan respon positif pada kita. Baik dengan like maupun komentar. Tentu otak akan melepaskan dopamin. Memberikan kita rasa puas dan senang secara cepat dan instan. Karena kita tak perlu susah-suah lagi untuk mendapatkan reward dari orang lain. kita bisa mendapatkannya dengan mudah.

Tingginya orang yang merespon. Banyaknya notifikasi yang muncul. Menurunkan attention span kita terhadap sekian pekerjaan yang memerlukan waktu panjang dan tidak memberikan dampak yang seketika.

Dengan itu, kita akan berubah menjadi orang yang tidak sabar. mudah gagal fokus, mudah mengalihkan perhatian pada hal-hal yang lebih menarik, singkat, padat, dan tidak membosankan.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menghadapi pengaruh media sosial. Terlebih kepada menurunnya attention span baik saat belajar ataupun bekerja.

Yang pertama adalah membatasi waktu penggunaan media sosial. Mengatur waktu penggunaan media sosial dengan bijak dapat membantu mengurangi distraksi dan menjaga attention span pada tugas-tugas penting.

Kedua yakni menciptakan lingkungan bebas gangguan. Saat bekerja atau belajar, sebaiknya menjauhkan ponsel dan mematikan notifikasi untuk menghindari gangguan.

Selanjutnya bisa dengan menggunakan teknik manajemen waktu. Teknik seperti Pomodoro, yang melibatkan periode fokus singkat dengan jeda teratur, bisa menjadi opsi untuk membantu menjaga konsentrasi dan meningkatkan produktivitas.

Dan terakhir adalah melakukan latihan mindfulness. Mindfulness atau kesadaran penuh dapat membantu meningkatkan kemampuan attention span kita agar tetap fokus dan mengurangi pengaruh distraksi dari lingkungan sekitar. []

 

 

 

Tags: AlgoritmaattentionspanfacebookgagalfokusinstagramkurangfokusmediasosialTikTok
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Untuk Apa Khitan Perempuan?

Next Post

Tidak Ada Sumber yang Mewajibkan Khitan Perempuan

Firda Rodliyah

Firda Rodliyah

Anggota Puan Menulis

Related Posts

Pelecehan Seksual
Personal

Pelecehan Seksual yang Dinormalisasi dalam Konten POV

6 Februari 2026
Qawwam
Keluarga

Memaknai Qawwam dalam Relasi Pernikahan: Refleksi Kewajiban Suami untuk Menafkahi Istri

14 Januari 2026
HAKTP
Publik

Praktik HAKTP dalam Jurnalisme Algoritmik

8 Desember 2025
Isu Disabilitas
Disabilitas

Mengapa Isu Disabilitas Perlu Diperjuangkan di Media Sosial?

22 September 2025
Kehamilan Perempuan
Personal

Kehamilan Perempuan Bukan Kompetisi: Memeluk Setiap Perjalanan Tanpa Penghakiman

18 Juli 2025
Inses
Publik

Grup Facebook Fantasi Sedarah: Wabah dan Ancaman Inses di Dalam Keluarga

17 Mei 2025
Next Post
Khitan Perempuan

Tidak Ada Sumber yang Mewajibkan Khitan Perempuan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan
  • Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan
  • Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya
  • Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?
  • Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0