Jumat, 13 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    Sejarah Difabel

    Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

    Krisis Lingkungan

    Perempuan, Alam, dan Doa: Tafsir Fikih Ekoteologis atas Krisis Lingkungan

    Kehilangan Tak Pernah Mudah

    Kehilangan Tak Pernah Mudah: Rasul, Duka, dan Etika Menjenguk yang Sering Kita Lupa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    Kegagalan Perkawinan

    Kegagalan Adaptasi dan Pentingnya Kafa’ah dalam Perkawinan

    Relasi Suami-Istri

    Relasi Suami-Istri dan Dinamika Perubahan dalam Perkawinan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    Sejarah Difabel

    Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

    Krisis Lingkungan

    Perempuan, Alam, dan Doa: Tafsir Fikih Ekoteologis atas Krisis Lingkungan

    Kehilangan Tak Pernah Mudah

    Kehilangan Tak Pernah Mudah: Rasul, Duka, dan Etika Menjenguk yang Sering Kita Lupa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    Kegagalan Perkawinan

    Kegagalan Adaptasi dan Pentingnya Kafa’ah dalam Perkawinan

    Relasi Suami-Istri

    Relasi Suami-Istri dan Dinamika Perubahan dalam Perkawinan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Santriwati dan Bahtsul Masail

Sudah saatnya para santriwati, ustadzah dan para ibu nyai pun mengambil posisi dalam kegiatan Bahtsul Masa’il karena memang keputusan dan hasilnya akan sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat.

Hilyatul Aulia by Hilyatul Aulia
23 September 2020
in Featured, Khazanah
A A
0
menghormati perempuan

menghormati perempuan

8
SHARES
423
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Salah satu tradisi pesantren yang masih eksis hingga saat ini adalah Bahtsul Masail. Secara bahasa, Bahtsul Masa’il berarti pembahasan masalah-masalah. Tradisi Bahtsul Masa’il terus dilanggengkan hingga hari ini oleh berbagai pesantren di pelosok negeri.

Dalam Bahtsul Masa’il santri dituntut untuk memiliki wawasan dan pandangan yang luas mengenai suatu permasalahan. Yang menjadi rujukan utama dalam pencarian jawaban atas masalah-masalah yang dibahas dalam Bahtsul Masa’il adalah kitab klasik.

Biasanya Bahtsul Masa’il hanya dilakukan oleh santri yang sudah cukup lama belajar di pesantren karena untuk mengikuti Bahtsul Masa’il tidak hanya kemampuan membaca teks berbahasa Arab saja yang dibutuhkan, namun kemampuan analisis teks dan konteks juga menjadi modal penting dalam mencari jawaban atas berbagai permasalahan dalam Bahtsul Masa’il.

Sayangnya, meski sudah sedemikian kuat menjadi tradisi, ternyata masih banyak pesantren putri yang belum aktif melakukan Bahtsul Masa’il. Mereka memandang Bahtsul Masa’il sebagai sebuah aktivitas tingkat tinggi dan hanya dapat diikuti oleh orang-orang tertentu yang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi juga.

Sedangkan banyak santri putri yang menjadi korban dari kontruksi budaya patriarkhi berpikir bahwa mereka hanya dituntut untuk menjadi perempuan seutuhnya (menurut versi patriarkhi); ahli dalam kerja-kerja domestik, tidak terlalu lantang saat bersuara, lugu, alim dan harus siap menjadi pendamping suami.

Fenomena lain yang amat disayangkan lagi, meski di beberapa wilayah banyak pesantren putri yang telah aktif melakukan Bahtsul Masa’il namun masih banyak di antara mereka yang belum mengandalkan ibu nyai dan ustadahnya untuk menjadi perumus dan mushohih dalam Bahtsul Masa’il. Mereka masih mengandalkan kiyai dan ustad untuk menjadi pengambil kebijakan dalam Bahstul Masa’il.

Tidak masalah memang, siapapun yang memiliki kapasitas yang cukup sah-sah saja untuk menjadi perumus dan mushohih dalam Bahtsul Masa’il. Namun jika masalah yang dibahas menyangkut permasalahan perempuan rasanya tidak fair jika tidak ada satu pun perempuan yang menjadi perumus atau mushohih dalam Bahtsul Masa’il, karena bagaimana pun permasalahan yang menyangkut perempuan hanya dapat dipahami secara penuh oleh perempuan itu sendiri. Paling tidak, perspektif atau cara pandang dari kacamata perempuan dapat dihadirkan dalam pengambilan keputusan Bahstul Masa’il.

Saya pernah mengikuti Bahtsul Masa’il Nasional yang mengangkat permasalahan tentang kepemimpinan perempuan. Saat itu peserta Bahtsul Masa’il terdiri dari santri perempuan dan laki-laki, sedangkan Dewan Lajnah yang terdiri dari moderator, notulen, perumus dan mushohih seluruhnya adalah laki-laki. Dan saat itu, hampir seluruh peserta Bahtsul Masa’il tidak setuju jika ada perempuan yang menjadi pemimpin dalam skala nasional.

Teks-teks kitab kuning yang mereka jadikan referensi hanya memperbolehkan para perempuan memimpin dalam skala lokal. Padahal beberapa tahun yang lalu Indonesia pernah dipimpin oleh seorang presiden perempuan. Apakah fakta tersebut tidak cukup untuk dijadikan bukti bahwa perempuan boleh menjadi pemimpin apapun dan dimanapun?

NU sendiri, sebagai ormas agama yang menaungi banyak pesantren di Indonesia, sudah mulai terbuka dengan kehadiran perempuan dalam Bahtsul Masa’il baik dalam Muktamar maupun Munas. Salah satunya adalah Bahtsul Masa’il Munas di Lombok pada tahun 1994. Munas tersebut melegitimasi kesetaraan laki-laki dan perempuan untuk melakukan peran-peran sosial politik mereka masing-masing.

Pernah lagi, suatu hari pesantren saya akan mengadakan Bahtsul Masa’il dengan didukung sepenuhnya oleh salah satu lembaga Bahtsul Masa’il Nasional. Saat itu kami berencana akan membuat dua komisi, yaitu komisi putra dan komisi putri. Khusus untuk komisi putri, saya meminta agar Dewan Lajnah diisi oleh para nyai dan ustadah.

Namun lembaga Bahtsul Masa’il tersebut seperti sedikit kebingungan saat saya mengajukan permintaan itu. Mereka mengatakan bahwa belum ada seorang nyai pun yang berjejaring dengan lembaga mereka. Seluruh anggota mereka adalah laki-laki. Sungguh keadaan ini amat sangat disanyangkan. Padahal Indonesia memiliki lebih dari lima ratus ulama perempuan yang pada 2017 lalu mengikuti Kongres Ulama Perempuan di Pondok Kebon Jambu. Lalu, mengapa tidak ada satu pun dari mereka yang masuk dalam jaringan lembaga nasional tersebut?

Jika diurai lebih luas lagi, mungkin beberapa faktor inilah yang menjadi penyebab terasingkannya perempuan dari forum Bahtsul Masa’il, baik sebagai peserta maupun sebagai Dewan Lajnah.

Pertama, anggapan bahwa perempuan memiliki kapasitas intelektual di bawah laki-laki. Para peserta Bahtsul Masa’il adalah mereka yang memiliki kapasitas intelektual dan daya kritis yang cukup tinggi. Perumus dan Mushohihnya pun demikian. Selain itu juga harus memiliki kemampuan untuk menarik kesimpulan dari setiap ibaroh yang ditunjukkan oleh para peserta.

Patriarkhi masih banyak mempengaruhi masyarakat kita terutama masyarakat mengengah ke bawah. Salah satu pengaruhnya, perempuan masih dianggap memiliki akal yang naqishoh (tidak sempurna) sehingga kemampuan intelektual mereka seringkali diragukan, akibatnya untuk sampai ke tingkat Bahtsul Masa’il pun sulit.

Kedua, anggapan bahwa perempuan hanya bertanggung jawab atas kewajiban-kewajiban domestik, sedangkan Bahtsul Masa’il adalah kegiatan dalam ranah publik. Bahtsul Masa’il biasanya tidak akan selesai dalam waktu yang sebentar. Bahkan Bahtsul Masa’il dalam tingkat tertentu bisa diadakan selama dua sampai tiga hari berturut-turut hingga larut malam. Keadaan ini membuat para perempuan yang dianggap bertanggung jawab penuh atas kerja-kerja domestik seperti mengasuh anak misalnya, akan keberatan untuk megikuti Bahtsul Masa’il.

Padahal, kewajiban mengasuh anak bukan hanya milik perempuan saja. Banyak para perempuan di luar sana yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, namun juga aktif dalam kegiatan-kegatan sosial kemasyarakatan karena dapat berbagi peran dalam urusan domestik dengan suami dan anggota keluarga lainnya. Saya yakin, banyak ulama perempuan yang tidak mempermasalahkan hal ini. Mereka bahkan sudah biasa mengisi berbagai kegiatan di luar rumah tanpa merasa dibebani oleh pekerjaan domestik.

Ketiga, teks-teks kitab klasik yang digunakan untuk ibaroh dalam Bahtsul Masa’il kental akan keterangan misoginis dan ketidakadilan gender sehingga seringkali menyudutkan kaum perempuan. Misalnya dalam masalah kepeminpinan perempuan, tidak banyak ulama klasik yang memperbolehkan perempuan untuk menjadi pemimpin.

Dalam masalah hukum keluarga pun perempuan lebih banyak menjadi objek dibandingkan menjadi subjek sehingga akan sulit ditemukan keterangan yang menunjukkan bahwa perempuan boleh mengambil kebijakan sekalipun dalam urusan rumah tangga. Keterangan-keterangan inilah yang terus dilanggengkan hingga saat ini dan masih sering digunakan sebagai referensi dalam Bahtsul Masa’il.

Keempat, ketidak percayaan diri para perempuan sebetulnya menjadi faktor yang cukup kuat dan dapat membuat mereka enggan untuk mengikuti Bahtsul Masa’il. Para perempuan yang telah terbiasa hanya berkecimpung dalam ranah domestik dalam jangka waktu yang cukup lama sekalipun pernah menuntut ilmu di pesantren dalam waktu yang cukup lama pula, akan merasa kesulitan ketika harus terjun ke dalam forum Bahtsul Masa’il. Minimnya waktu mereka untuk “ngaji kitab lagi” membuat mereka enggan untuk mengikuti Bahtsul Masa’il.

Padahal Bahtsul Masa’il bukan hanya soal apa kata teks kitab kuning dan siapa yang paling pintar, namun juga membutuhkan kesesuaian teks dengan konteks hari ini pada bidang-bidang tertentu yang hanya diketahui oleh ahlinya ataupun yang sudah berpengalaman. Misalnya saja permasalahan mengenai haid. Jawabannya tidak hanya terbatas pada apa yang ada pada kitab saja, namun juga membutuhkan pandangan para perempuan yang memiliki pengalaman berbeda-beda saat haid.

Terakhir, dalam AD/ART NU, tugas dan fungsi BM adalah menghimpun, membahas dan memecahkan masalah-masalah yang mawquf (tertunda) dan waqi’iyyah (kasuistik) untuk mendapatkan kepastian hukum agama. Artinya, keputusan Bahstul Masa’il setingkat dengan lembaga fatwa yang oleh sebagian besar masyarakat dianggap sangat penting meskipun sebetulnya tidak mengikat.

Jika sedemikian besar pengaruh hasil atau keputusan Bahtsul Masa’il, akan sangat disayangkan jika dalam prosesnya pengaruh perempuan sebagai bagian utuh dalam suatu kelompok masyarakat tidak diperhitungkan. Apabila hal ini terjadi, bisa jadi akan menjadi pemicu adanya ketimpangan sosial dalam kehidupan masyarakat sehingga akan menyebabkan keadilan dan kesejahteraan tidak merata.

Melalui tulisan ini, saya berharap agar peran dan pengaruh perempuan dalam berbagai hal dapat diakui secara utuh. Karena yang dibutuhkan dalam memecahkan permasalahan di tengah masyarakat tidak hanya kecerdasan intelektual saja, namun juga pengalaman dan pemahaman konteks dengan cara pandang tertentu yang sebetulnya akan memberikan pengaruh yang amat sangat besar dalam menentukan kebijakan.

Karena itu, sudah saatnya para santriwati, ustadzah dan para ibu nyai pun mengambil posisi dalam kegiatan Bahtsul Masa’il karena memang keputusan dan hasilnya akan sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Bukan persoalan untuk menunjukkan siapa yang paling cerdas, namun untuk bersama-sama menemukan jalan keluar atas berbagai persoalan yang hanya dialami dan dapat dipahami oleh perempuan. Sekian. Wa Allah a’lam bi ash-shawab. []

Tags: Bahtsul Masa'ilIbu NyaikiaiNUpesantrenSantri
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Ibu Shinta Nuriyah : Merajut Perdamaian Melalui Sahur Keliling

Next Post

Selaput Dara, Masihkah Menjadi Indikator Perawan?

Hilyatul Aulia

Hilyatul Aulia

Mahasantri Ma'had Aly Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon

Related Posts

Cat Calling
Publik

Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

7 Februari 2026
Lingkungan NU
Lingkungan

NU Dorong Pendekatan Keagamaan dalam Upaya Pelestarian Lingkungan

2 Februari 2026
NU dan Lingkungan
Lingkungan

Di Era Gus Dur, NU Konsisten Menyuarakan Isu Lingkungan

2 Februari 2026
Lingkungan di Pesantren
Lingkungan

Pesantren Jadi Basis Pendidikan yang Peduli Terhadap Lingkungan

2 Februari 2026
Alam di pesantren
Lingkungan

Pesantren Jadi Ruang Strategis Membangun Kepedulian Kelestarian Alam

2 Februari 2026
Pelestarian di Pesantren
Lingkungan

Pesantren Memiliki Peran Strategis dalam Pelestarian Lingkungan

2 Februari 2026
Next Post
Selaput Dara, Masihkah Menjadi Indikator Perawan?

Selaput Dara, Masihkah Menjadi Indikator Perawan?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh
  • Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural
  • Konsep Keluarga dalam Islam
  • Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan
  • Makna Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0