Mubadalah.id – Beberapa waktu ini, Indonesia mengalami beberapa kali fenomena gempa bumi di berbagai wilayah. Pada Hari Kamis (25/9/2025), di Banyuwangi, Jawa Timur terjadi guncangan bumi sebesar magnitudo (M) 5,7. Selanjutnya, gempa bumi sebesar M 6,5 kembali muncul di daerah Sumenep, Jawa Timur pada hari Selasa (30/9/2025).
Rentetan fenomena alam ini tidak hanya menimpa warga di pulau Jawa. Tercatat bahwa gempa bumi dengan M 6,1 meletup di Kota Tiakur, Maluku Barat Daya.
Para ahli menilai bahwa rangkaian gempa ini merupakan alarm atas ancaman megathrust di wilayah Jawa. Ancaman ini dapat memicu gempa bumi berkekuatan besar dan berpotensi menyebabkan tsunami. Peneliti BRIN, Nuraini Rahma Hanifa, mengingatkan bahwa megathrust di selatan Jawa terbentang sepanjang 1.000 km dengan bidang kontak selebar 200 km. Melihat besarnya bidang megathrust di pulau Jawa, tentu menimbulkan kekhawatiran besarnya guncangan yang akan terjadi.
Banyaknya peristiwa gempa yang terjadi membuat penulis berpikir, bagaimana panduan Islam dalam menghadapi gempa bumi yang terjadi?
Dalam khazanah fikih klasik, terdapat beberapa panduan menarik yang bisa kita ikuti dan amalkan. Syekh Zakaria al-Anshari dalam kitabnya, Asna al-Mathalib menulis anjuran untuk keluar dari rumah menuju tanah lapang saat terjadi gempa bumi.
وَيُسَنُّ الْخُرُوجُ إلَى الصَّحْرَاءِ وَقْتَ الزَّلْزَلَةِ
“Dan disunnahkan keluar menuju tanah lapang ketika terjadi gempa.”
Anjuran ini adalah bagian dari prinsip besar dalam Islam, yakni hifdz al-nafs (menjaga jiwa). Syariat Islam sangat menghargai keselamatan jiwa pemeluknya. Keluar dari bangunan yang berpotensi runtuh adalah bentuk ikhtiar yang juga diajarkan oleh agama. Bahkan, bila berada di bangunan dapat berpotensi kehilangan nyawa, menyelamatkan diri dengan keluar ruangan menjadi wajib untuk dilakukan.
Selain itu, Islam juga memberikan panduan spiritual untuk menghadapi bencana alam seperti gempa bumi. Dalam kitab Shahih Muslim terdapat hadis yang berbunyi,
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إذَا عَصَفَتْ الرِّيحُ قَالَ: اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِك مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ
“Ketika angin kencang bertiup, Nabi berdoa: ‘Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan apa yang Engkau kirimkan dengannya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburukan apa yang ada padanya, dan keburukan apa yang Engkau utus dengannya.'”
Kendati hadis tersebut berbicara mengenai fenomena angin kencang, namun pada prinsipnya keduanya merupakan fenomena alam yang membuat jantung berdetak kencang. Rasulullah mengajarkan kita untuk bersikap tenang dan tetap mengharap kebaikan dari-Nya.
Selain doa di atas, dalam kitab al-Ghurar al-Bahiyah juga disebutkan,
وَرَوَى الشَّافِعِيُّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ: مَا هَبَّتْ رِيحٌ إلَّا جَثَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَقَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رَحْمَةً وَلَا تَجْعَلْهَا عَذَابًا اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رِيَاحًا وَلَا تَجْعَلْهَا رِيحًا
“Imam Syafi’i meriwayatkan dari Ibn Abbas: ‘Tidaklah angin bertiup melainkan Nabi ﷺ berlutut (bersimpuh di atas kedua lututnya) dan berdoa: Ya Allah, jadikanlah ia sebagai rahmat dan jangan Engkau jadikan sebagai azab. Ya Allah, jadikanlah ia sebagai angin (yang membawa manfaat) dan jangan Engkau jadikan sebagai angin (yang membawa kehancuran).'”
Lalu, apakah gempa bumi merupakan azab yang diturunkan oleh Allah lantaran kelompok masyarakat tertentu yang membangkang terhadap Allah SWT? Mengenai hal ini, Allah telah menyebutnya pada firman-Nya dalam Q.S. Hud [11]:17,
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرٰى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ
“Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim sedangkan penduduknya berbuat kebaikan.” (Q.S. Hud [11]:117)
Imam Fakhruddin ar-Razi ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa alasan Allah menurunkan bencana adalah lantaran tindakan manusia yang berbuat buruk dalam bergaul dengan sesama manusia dan alam. Bukan hanya perihal iman dan syirik. Ayat ini sarat dengan muatan nilai ekologis yang mengajarkan manusia untuk selalu menjaga hubungan baiknya dengan lingkungan.
Dari uraian singkat ini, ada tiga hikmah penting yang bisa kita pelajari. Pertama, Islam mengajarkan kita untuk berikhtiar melindungi diri dengan keluar ke tempat aman saat gempa terjadi. Kedua, ketenangan menjadi kunci dalam menghadapi situasi sulit. Memperbanyak doa, zikir, dan istighfar merupakan langkah utama dalam menjaga diri supaya tidak terserang perasaan panik. Ketiga, gempa tidak hanya sekedar fenomena alam. Ia merupakan momentum introspeksi hubungan kita dengan alam tempat kita tinggal.
Kita tidak bisa mengendalikan fenomena alam tersebut, namun kita bisa mengusahakan yang terbaik dalam meminimalisir dampak kehancuran yang diakibatkan oleh gempa. []



















































