Judul: Mereguk Mata Air Kebijaksanaan Gus Mus: Hikmah dan Nasihat
Penulis: Imam Muhtar.
Pengantar: KH. Husein Muhammad.
Penerbit: Noktah. Tahun Terbit: 2019. Jumlah Halaman: 2720. ISBN: 978-602-5781-49-0.
Mubadalah.id – Demi harapan yang kita junjung setinggi langit, manusia selalu mengusahakannya dengan segenap hati, pikiran, dan tenaga. Perihal masa depan, kita cenderung mengantisipasinya sedemikian rupa guna menghindari lubang kesalahan yang pernah tergali pada masa lalu. Namun, dalam hiruk-pikuk perencanaan itu, sering kali ada yang luput dari dekapan. Yakni kenikmatan hidup yang nyata, yaitu hari ini, saat yang sedang kita jalani.
Demi meraih masa depan gemilang, kecemasan berlebihan sering kali sulit kita hindari. Di saat yang sama, kegetiran masa lalu turut hadir membayangi langkah. Akibatnya, hari ini, satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki, terasa hampa dan fana. Lalu bagaimana caranya berdamai dengan kefanaan?
Fenomena ini mengingatkan kita pada pesan Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto). Dia sering mengajak generasi muda untuk menjalani hidup hari ini tanpa rasa sakit yang terlahirkan oleh sesuatu yang fana, yaitu masa lalu dan masa depan. Baginya, berlebih-lebihan memikirkan masa depan atau meratapi masa lalu hanya akan melenyapkan arti hidup yang sedang dijalani.
Secara psikologis, kecemasan ini sebenarnya berakar pada ego manusia yang ingin mengendalikan segala hal yang fana
Nasihat-nasihat Gus Mus
Refleksi ini menemukan momentumnya dalam buku Mereguk Mata Air Kebijaksanaan Gus Mus: Hikmah dan Nasihat (2019) karya Imam Muhtar. Buku ini menyajikan nasihat-nasihat KH Mustafa Bisri (Gus Mus). Sosok ulama sekaligus budayawan, sebagai oase bagi para pengelana yang sedang kehausan di tengah jalan (hlm. 9).
Tak hanya menjadi panduan individual, buku ini merambah etika sosial seperti rendah hati (tawadhu), introspeksi (muhasabah), ketidakberlebihan pada duniawi (zuhud), serta rasa kesalingan. Pembahasan-pembahasan di dalamnya, menurut KH Husein Muhammad dalam pengantarnya adalah keindahan dan cahaya pengetahuan manusia yang selalu kita butuhkan dalam segala waktu dan ruang kehidupan (hlm, 12-13).
Karena melalui nasihat Gus Mus yang dijelaskan ulang dalam buku ini, mengajak kita membedah bahwa berdamai dengan kefanaan waktu hanya bisa kita lakukan jika kita sudah selesai dengan ego kita sendiri.
Rendah Hati dan Introspeksi Diri
Dalam perjalanan mengejar cita-cita, manusia terkadang terjebak pada sikap yang menghalalkan segala cara. Padahal, justru ambisi tanpa kendali etika sering kali mengantarkan kita ke jurang kegagalan. Gus Mus mengingatkan akan hal itu, dengan sebuah prinsip mendasar, “Persaingan untuk mendapatkan kemuliaan seharusnya dilakukan dengan beradu kemuliaan.”
Nasihat itu, menemukan relevansinya di era media sosial saat ini, di mana fanatisme akut sering muncul dalam adu argumen. Perdebatan sering kali bukan lagi mencari kebenaran, melainkan ajang caci maki dan upaya merendahkan martabat orang lain. Di titik ini, nasihat Gus Mus menjadi krusial, bahwa kita perlu untuk memahami hak orang lain dalam memilih apa yang mereka anggap benar.
Sebagaimana petikan syair Kiai Kanjeng berjudul Semau-maumu: “Ke utara atau ke selatan, ke cahaya atau kegelapan, kau sendiri yang menentukan sesudah Tuhan.” Larik ini, selain menjunjung penghormatan terhadap liyan, ia juga menjadi pengingat kita untuk selalu introspeksi diri (hlm. 42-43).
Hal ini sejalan dengan maqalah masyhur Imam Syafi’i, yang mengungkapkan “Pendapatku benar, namun mengandung kemungkinan salah. Begitu pun, pendapat orang lain salah, namun mengandung kemungkinan benar.”
Kesadaran akan hal ini, dapat meruntuhkan sikap keangkuhan kita sekaligus mengajarkan bahwa kemuliaan sejati justru diraih dengan kerendahan hati dan pengakuan atas kekurangan diri sebagai manifestasi nyata dari definisi kemuliaan. Dan ketika kita berhenti memutlakkan kehendak diri, beban masa lalu dan ketakutan akan masa depan perlahan meluruh karena kita mulai menerima kekurangan diri.
Zuhud, Hati, dan Duniawi
Dalam membahas konsep zuhud, sering kali kita terjebak pada persepsi sempit tentang pengasingan diri dari dunia dan seisinya. Namun dalam kacamata Gus Mus, zuhud ia artikan sebagai seni menata letak, di mana aspek duniawi kita letakkan di tangan, bukan di dalam hati.
Secara logika, pemaknaan ini lebih bersifat rasional, karena ketika hati tidak lagi terdikte oleh benda-benda fana, manusia dapat memperoleh kemerdekaan penuh atas diri sendiri. Harta dan jabatan tidak lagi menjadi tuan yang memerintah, melainkan alat yang terkendalikan untuk mencapai kemaslahatan.
Dalam hal ini, Gus Mus berhasil membangun wibawa spiritualnya yang kuat melalui pesan, “Waspadalah bila mempunyai kepentingan duniawi, sering kali ia membuat kita lupa kepada hal yang jauh lebih penting dan agung.”
Nasihat tersebut, telah memanifestasikan intisari kenikmatan dunia yang tiada lain adalah permainan. Sebagaimana yang yang Allah firmankan dalam Surat al-Hadid ayat 20: “Wa ma al-hayatuddunya illa mata’ul ghurur, Tiadalah kehidupan dunia ini kecuali kenikmatan yang menipu.”
Ketiadaan keterikatan hati pada dunia ini, dapat melahirkan kejernihan untuk tetap bersikap manusiawi di tengah persaingan yang tidak sportif. Secara daya tarik emosional, zuhud juga menjadi sumber dari sikap pemaafan. Karena seseorang yang telah selesai dengan urusan dunianya, ia akan lebih mudah merangkul sesama dan menyadari bahwa kebencian hanya akan menjadi beban dalam kehidupan bersama.
Sebagai Buku Manual Spiritual
Dalam kutipan yang lain, Gus Mus juga menekankan bahwa “Memanusiakan manusia adalah bagian dari mencintai Tuhan.” Pesan ini, telah menyentuh sisi emosional terdalam kita. Bahwa untuk meraih cinta Tuhan dan kebahagiaan hidup hari ini, bukan lagi terletak pada apa yang kita capai, melainkan pada seberapa tulus kita melayani sesama.
Buku karya Imam Muhtar, telah menjadi sebuah manual spiritual yang sangat relevan bagi kehidupan modern saat ini. Buku ini mampu menerjemahkan pemikiran Gus Mus yang multidimensi ke dalam bahasa yang lebih sederhana, jernih, dan menyentuh keseharian hidup.
Imam Muhtar berhasil merangkai nasihat-nasihat tersebut sebagai etika universal yang melampaui sekat-sekat keyakinan. Namun, tidak bisa kita pungkiri juga, kedalaman makna yang ingin tersampaikan terkadang membuat beberapa pembahasan terasa sedikit berulang di beberapa bagian.
Sebagian pembaca yang mengharapkan analisis akademis yang sangat ketat mungkin tidak menemukannya di sini. Karena buku ini memang lebih dirancang sebagai narasi reflektif yang mengedepankan sisi rasa dan hati.
Meski demikian, ia telah menjawab kegelisahan kita tentang masa lalu dan masa depan dengan satu solusi. Yaitu berusaha untuk menjadi manusia yang utuh. Buku ini adalah pengingat bahwa ketakutan akan waktu, baik masa lalu atau masa depan, hanya bisa kita sembuhkan dengan cara menurun menuju sikap rendah hati, bukan mendaki menuruti ambisi.
Dengan menjadi manusia yang utuh, tidak angkuh, mengakui kekurangan diri, dan tidak berambisi, maka masa lalu bukan lagi menjadi luka. Lalu, masa depan bukan lagi misteri yang harus kita takuti, dan hari ini menjadi kemenangan yang patut kita syukuri. []




















































