“Seringkali, sejarah tidak ditulis di atas kertas, melainkan di atas tubuh perempuan yang dipaksa menjadi medan perang bagi kekuasaan dan patriarki.”
Mubadalah.Id. Beberapa hari terakhir saya menghabiskan waktu untuk ‘bertarung’ dengan narasi hebat Eka Kurniawan dalam Cantik Itu Luka. Membaca Novel Cantik Itu Luka berarti bersedia memasuki dunia yang sengaja Eka Kurniawan bangun dengan gelap dan kejam. Novel ini tidak memanjakan pembaca; sebaliknya, ia memaksa kita menatap kekerasan yang terus-menerus menimpa tubuh perempuan.
Melalui Dewi Ayu, Eka menunjukkan bagaimana kecantikan tidak pernah netral. Justru karena cantik, Dewi Ayu menjadi sasaran kuasa: orang-orang yang ‘berkuasa’ saat itu, memaksanya, memperjualbelikannya, lalu sampai pada ketika ia menormalisasi ‘pelacuran’ itu sebagai bagian dari hidupnya.
Eka Kurniawan menolak romantisasi penderitaan. Ia menegaskan bahwa kecantikan dalam novel itu, bukan hadiah, melainkan lebih sebagai kutukan dalam struktur sosial yang timpang. Luka-luka yang muncul bukan kebetulan, melainkan hasil dari sistem yang membiarkan tubuh perempuan dikuasai dan dieksploitasi.
Luka yang Turun-temurun
Dewi Ayu bukan tokoh yang lahir dari ruang kosong. Ia membawa sejarah panjang dalam tubuh dan hidupnya. Ia adalah keturunan dari keluarga campuran. Darah Eropa dan pribumi. Nenek moyangnya berasal dari garis kolonial, salah satunya terhubung dengan keluarga bangsawan Eropa yang datang ke Hindia Belanda. Dari garis inilah, Dewi Ayu mewarisi kecantikan.
Kecantikan Dewi Ayu tidak sekadar berkaitan dengan rupa. Kecantikannya menandai kelas, ras, dan kuasa. Sejak awal, orang-orang sudah menyoroti tubuhnya. Darah campuran membuat masyarakat terus memosisikannya sebagai “yang lain”: mereka mengaguminya sekaligus mengeksploitasinya.
Dari Dewi Ayu, luka itu tidak berhenti. Ia menurun ke anak-anak perempuannya: Alamanda, Adinda, Maya Dewi, dan Cantik. Masing-masing membawa luka dengan bentuk berbeda. Ada yang terluka oleh cinta yang timpang, ada yang terus-terusan dalam kekerasan dalam rumah tangga. Lalu, ada pula yang memikul dendam yang tak pernah selesai. Nama mereka indah, tapi hidup mereka jauh dari kata tenang.
Menariknya, setelah melahirkan tiga anak, Dewi Ayu kembali mengandung anak keempat dan ia memberinya nama “Cantik”. Sayangnya, si “Cantik” justru terlahir dengan rupa yang sangat buruk dan diserupakan dengan monster.
Kilas balik Kisah Keluarga Dewi Ayu
Eka Kurniawan memulai rantai luka dan zina dalam Cantik Itu Luka melalui kisah Ma Iyang, nenek Dewi Ayu. Dalam konteks kolonial, Ted Stammler, kakek Dewi Ayu, lelaki Belanda yang berkuasa, menjadikan Ma Iyang sebagai gundik.
Ted tidak membangun relasi setara. Ia memanfaatkan posisi sosial dan kolonialnya untuk menguasai tubuh Ma Iyang. Hubungan seksual itu lahir dari paksaan struktural, bukan dari kehendak bebas. Dengan demikian, kekerasan dalam novel ini sejak awal muncul sebagai produk kuasa, bukan sekadar pelanggaran moral individual.
Ma Iyang menanggung trauma dari relasi tersebut sepanjang hidupnya. Ketika ia menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar memiliki kendali atas tubuh dan hidupnya, ia memilih mengakhiri hidupnya sendiri dengan melompat dari sebuah bukit (yang kemudian bernama Bukit Ma Iyang). Tindakan bunuh diri itu menandai kehancuran total seorang perempuan yang sistem sosial paksa masuk ke dalam relasi kekerasan yang timpang.
Dari hubungan Ma Iyang dan Ted, lahirlah Aneu. Alih-alih memutus mata rantai luka, sejarah justru mengulang dirinya. Henri, Anak Ted, menjalin hubungan dan menikah dengan Aneu, yang juga anak Ted dari istrinya yang lain. Relasi ini kembali memuat problem moral dan kuasa, sebab keluarga kolonial itu membiarkan hubungan sedarah tersebut berlangsung.
Eka Kurniawan menunjukkan bahwa ‘kekerasan’ dan relasi seksual yang rusak tidak berhenti pada satu generasi, melainkan terus bergerak melalui legitimasi sosial dan keluarga.
Dari hubungan Henri dan Aneu, lahirlah Dewi Ayu. Sejak kelahirannya, sejarah dosa dan luka sudah melekat pada tubuhnya. Dewi Ayu tidak memulai hidup dari ruang yang netral. Ia mewarisi relasi yang cacat sejak nenek dan orang tuanya.
Ketika dewasa, kekuasaan kembali menguasai tubuhnya. Pada masa pendudukan Jepang, para tentara memaksa Dewi Ayu menjadi pelacur. Kekerasan seksual kembali membungkus dirinya, kali ini dengan wajah yang lebih terang-terangan.
Sistem Sosial, Kolonialisme, Patriarki
Melalui tokoh Dewi Ayu, Eka Kurniawan menegaskan bahwa eksploitasi tubuh dalam Cantik Itu Luka tidak pernah muncul sebagai pilihan bebas perempuan. Sistem sosial, kolonialisme, patriarki, dan kekerasan, secara konsisten menyeret perempuan ke dalam relasi seksual yang merugikan mereka.
Mulai dari Ma Iyang, beralih ke Aneu, hingga Dewi Ayu, struktur kekuasaan terus mendominasi tubuh perempuan, sementara, ada banyak pihak yang mendiamkan praktik tersebut terus berjalan. Dengan cara ini, Cantik Itu Luka memperlihatkan bahwa kekerasan terhadap tubuh merupakan bagian dari “utang sejarah” yang terus terwariskan.
Luka tersebut tidak berhenti pada satu raga, melainkan merambat dari nenek ke ibu, lalu turun ke anak. Sekali lagi, perempuan menjadi pihak yang menanggung konsekuensi terberat atas penderitaan yang sebenarnya tidak pernah mereka pilih.
Menatap Ulang Jejak Sejarah dalam Cantik Itu Luka
Membaca Cantik Itu Luka hari ini berarti menatap cermin sejarah yang buram dan menyakitkan. Kita harus berani bertanya pada diri sendiri. Apakah saat ini kita sudah benar-benar telah beranjak, atau kita justru sedang melanggengkan pola penindasan yang sama dengan kemasan yang lebih modern?
Narasi ini memaksa kita melihat bagaimana struktur kekuasaan masa lalu terus membayangi cara kita memperlakukan tubuh perempuan hingga saat ini.
Kita harus berhenti menempatkan tubuh perempuan sebagai medan tempur untuk menumpuk dosa-dosa sosial atau menjadikannya alat pembenaran bagi ambisi kuasa. Sudah saatnya kita menolak pandangan yang memosisikan perempuan hanya sebagai objek yang menanggung beban sejarah yang tidak pernah mereka pilih.
Melalui semangat Mubadalah, kita memikul tanggung jawab untuk merombak relasi yang timpang menjadi hubungan yang adil dan saling memanusiakan. Kita perlu menciptakan sejarah baru yang menumbuhkan kehidupan, bukan sejarah yang terus-menerus memproduksi trauma antargenerasi.
Sebab, utang luka selalu menuntut harga yang teramat mahal, dan sering kali mereka yang paling tidak berdosa yang harus menanggung seluruh bebannya. []















































