Mubadalah.id – Secara bahasa dalam jurnal Awad & Voruganti (2008) menjelaskan bahwa caregiver adalah individu yang secara umum merawat dan mendukung individu lain (pasien) dalam kehidupannya. Sedangkan menurut Wikipedia caregiver diartikan sebagai seorang pengasuh, perawat atau anggota keluarga yang membantu seseorang/individu dengan gangguan yang terkait dengan orang tua, anak disabilitas ataupun gangguan mental.
Anak dengan kebutuhan khusus atau disabilitas memiliki keterbatasan baik secara fisik, mental, intelektual maupun sensorik yang membutuhkan pendampingan jangka panjang.
Dalam realitanya, para penyitas disabilitas memiliki rintangan dan tantangan yang sulit untuk bisa menjalin interaksi dengan lingkungan dan masyarakat pada umumnya. Kemandirian penyitas disabilitas selalu menjadi concern dari berbagai pihak. Tidak hanya caregiver, tetapi juga pemerintah sebagai pemangku kebijakan.
Dalam pengasuhan, perawat atau caregiver memiliki peran yang penting dalam kemandirian anak disabilitas. Akan tetapi sebelum bicara terkait kemandirian anak disabilitas, kita penting membahas ini. Sejauh mana kita perduli dengan kewarasan caregiver atau yang merawat anak dengan berkebutuhan khusus ini?
Bukankah cargiver sebagai orang yang setiap hari menjaga dan merawat penyintas disabilitas ini penting untuk kita perdulikan kesehatan emosi, mental, serta fisiknya?
Orang tua sebagai caregiver utama pada anak berkebutuhan khusus, secara umum harus selalu beradaptasi dengan kelainan dan keterbatasan. Selain itu masalah yang anak-anak hadapi, di mana tidak jarang hal tersebut akan berlangsung seumur hidup.
Beban kepada orang tua
Hal ini seringkali menyebabkan munculnya beban pada orang tua yang merawat anak berkebutuhan khusus (Darsana & Suresh, 2017). Beban yang dialami oleh orang tua ini dikenal dengan istilah beban caregiver. Menurut (Grant et al., 2013) beban caregiver terdefinisikan sebagai distress yang dialami caregiver sebagai akibat dari memberikan perawatan (Grant et al., 2013).
Dalam pengasuhan, caregiver harus menciptakan lingkungan yang aman dan terstruktur untuk anak berkebutuhan khusus. Selain itu stabilitas emosional caregiver sangat penting untuk menciptakan lingkunagan yang aman, nyaman dan menyenangkan untuk ABK.
Rutinitas yang caregiver lakukan dalam merawat ABK ini sering sekali menjadikan mereka mengalami burnout. Caregiver yang mengalami burnout atau kelelahan secara mental, emosional, dan termasuk fisik ini cenderung kurang sabar. Terutama dalam mengimplementasikan strategi atau teknik pengasuhan posistif dalam merawat ABK. Secara tidak langsung, anak akan menyerap emosi-emosi caregivernya baik emosi yang positif maupun sebaliknya.
Teknik modelling menurut Bandura merupakan suatu teknik dalam konseling yang menggunakan proses belajar melalui pengamatan terhadap model dan perubahan perilaku yang terjadi karena peniruan (Kuswara, Hartuti,& Sinthia, 2018). Maka dari itu caregiver memiliki peran penting dalam pengasuhan ABK dan menunjang proses kemandirian ABK.
Kelelahan atas beban caregiver sering kali menimbulkan masalah-masalah baru di antaranya adalah compassion fatigue atau kelelahan berempati.
Compassion Fatigue
Definisi compassion fatigue yang paling umum digunakan dan dikembangkan oleh Figley (1995) dan menggambarkan konsep tersebut sebagai keadaan kelelahan dan disfungsi secara biologis, psikologis, dan sosial. Akibatnya dari pemaparan yang terlalu lama terhadap compassion fatigue dan semua yang ditimbulkannya.
Dengan rutinitas yang padat dalam mengasuh dan merawat ABK, caregiver rentan sekali mengalami compassion fatigue. Hal ini dapat di tandai dengan kelelahan, kemarahan dan lekas marah, berkurangnya kemampuan untuk merasakan simpati dan empati. Juga berkurangnya rasa kenikmatan atau kepuasan dengan pekerjaan, peningkatan ketidakhadiran, dan gangguan kemampuan ABK.
Compassion fatigue ini akan berdampak negative bagi ABK dan sangat berdampak pada proses belajar dan kemadirian ABK.
Menjadi perawat keluarga caregiver bagi orang terkasih adalah salah satu bentuk pengabdian tertinggi. Namun secara biologis dan psikologi ini adalah marathon yang menguras energi. Maka dari itu, keadaan baik secara mental, emosional maupun fisik caregiver sama pentingnya dengan penyitas.
Tips Merawat Caregiver
Ada beberapa hal yang bisa caregiver lakukan dalam merawat penyitas. Bahwasanya caregiver membutuhkan respite care atau mengambil jeda/ beristirahat. Respite care ini memberikan kesempatan untuk caregiver beralih dari mode “siaga tinggi” ke mode “istirahat”. respite care direkomendasikan agar caregiver bisa tenang, dan menajdi model positif bagi penyitas (ABK).
Dalam perjalanan panjang merawat orang terkasih, ada satu kebenaran yang sering kali terabaikan bahwa seorang caregiver tidak bisa menjadi pahlawan sendirian. Maka, pentingnya memiliki support system dalam pengasuhan penyitas.
Dukungan dari keluarga terdekat, teman, atau lembaga sosial tidak hanya membantu caregiver. Akan tetapi juga memastikan penyitas mendapatkan energi yang stabil.
Maka penting bagi keluarga, teman atau orang-orang yang berada di lingkungan caregiver memberikan dukungan mental dan psikososial sebagai bentuk peduli dan empati terhadap berbagai kelelahan yang para caregiver alami.Hal tersebut tidak untuk melabeli caregiver lemah, tetapi strategi bertahan hidup.
Kita harus menyadari bahwa kesehatan mental caregiver adalah infrastruktur bagi masa depan Anak berkebutuhan Khusus (ABK). Ketika kita berinvestasi pada stabilitas emosional dan ketenangan batin sebagai seoarang caregiver, kita sebenarnya sedang mengutaamakan kualitas asuhan yang akan di terima oleh anak tersebut.
Hilangkan stigma terhadap caregiver yang tampak Lelah atau mencari bantuan. Akuilah bahwa peran mereka adalah pilar kemanusiaan yang harus kita jaga melalui empati dan mengimplementasikan bentuk empati dalam bantuan sekecil apapun baik untuk caregivernya atas penyitasnya. []








































