Mubadalah.id – Menopause kerap dipersepsikan sebagai fase yang mengurangi kebahagiaan perkawinan, terutama dalam aspek seksual.
Dalam sejumlah pandangan yang berkembang di masyarakat, perempuan yang telah memasuki masa menopause mengalami penurunan hasrat seksual. Kondisi yang kemudian sering menjadi alasan pembenaran bagi suami untuk menikah lagi dengan perempuan yang lebih muda.
Meski tidak terdapat aturan formal yang menyatakan bahwa suami boleh mencari pasangan lain ketika istri mengalami fase tersebut, praktik tersebut kerap ia pahami dan toleransi secara sosial.
Situasi ini memunculkan rasa khawatir di kalangan perempuan bahwa menopause dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan rumah tangga.
Namun, pengalaman berbeda, yaitu seorang perempuan yang telah mengalami menopause. Ia menyatakan tidak merasakan kekhawatiran berlebihan, termasuk kekhawatiran akan kemungkinan suaminya menjalin hubungan dengan perempuan lain.
Menurut Mimi, hubungan rumah tangganya tetap berjalan baik meskipun frekuensi hubungan seksual tidak lagi sama seperti sebelum menopause.
“Sesungguhnya rumah tangga bukan hanya urusan seks, meskipun itu merupakan salah satu faktor. Dengan adanya rasa saling pengertian yang mendalam, jalan keluar dapat mereka cari bersama,” ujar Mimi.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa menopause tidak selalu berdampak negatif terhadap kualitas relasi perkawinan.
Faktor komunikasi, saling pengertian, dan komitmen bersama menjadi peran penting dalam menjaga keutuhan rumah tangga, melampaui perubahan biologis yang perempuan alami.
Sumber tulisan: Buku Kisah Perempuan: Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan.




















































