Mubadalah.id – Dalam kerlip petang kota Purwokerto yang masih terselimuti gerimis tipis dan doa-doa buru-buru dari setiap bibir setelah adzan maghrib berkumandang, seorang pemuda bertubuh ramping dengan kruk aluminium di tangan kanan dan kiri, berhenti sejenak di trotoar Jl. Dr. Angka.
Kakinya yang tak lagi utuh sejak kecelakaan motor dua tahun lalu bukanlah akhir cerita, melainkan babak baru dari drama absurd yang kita sebut hidup. Ia tersenyum kecil, hampir meringis, saat seorang bapak ojek online meliriknya dengan campuran iba dan bingung:
“Mau saya bantu naik, Mas?”
“Terima kasih, Pak. Tapi saya lagi latihan jadi Mitos Sisyphus Disabilitas versi urban,” jawabnya ringan. Entah bapak ojeknya mudeng atau tidak dengan term asing yang ia sendiri baru temui seminggu lalu setelah menemukan karya Camus di toko buku loakan di sela kebimbangan eksistensial yang melanda dirinya dua tahun ini.
Eksistensialisme dan Kesadaran Absurditas
Di sinilah pertemuan aneh antara eksistensialisme dan kesadaran absurditas—bukan di ruang kuliah ber-AC, melainkan di trotoar retak, di antara klakson dan doa-doa setelah azan maghrib.
Eksistensialisme, khususnya Camus, mengajak kita menatap absurditas: dunia tak punya naskah yang sudah jadi, tak ada realitas yang penuh oleh mimpi-mimpi yang mudah terwujud, tak ada kisah yang tertulis happy ending sesuai keinginan dan harapan setiap penonton drama Korea ataupun drama China yang sedang menjadi kegemaran anak muda.
Disabilitas? Ia adalah batu besar yang tiba-tiba mengguling ke hidup kita. Bukan hukuman, bukan pula berkah penuh bunga-bunga seperti yang menggaung dari quotes motivasi pagi. Hanya fakta telanjang: tubuh ini retak, dunia tetap berputar cuek. Apa yang terjadi pada kita, dunia tetap berjalan seperti biasanya.
Sartre bilang kita “dikutuk untuk bebas”; setelah terlempar ke bumi, apa yang terjadi adalah tanggung jawab penuh kita sebagai manusia. Namun Albert Camus lebih santai: “Harus membayangkan Sisyphus bahagia.”
Tapi, angin dari kebijaksanaan Timur berhembus. Di sinilah Ibn ‘Arabi menyelinap masuk dengan senyum tipis khas sufi Andalusia. Waḥdat al-wujud bukanlah pantheisme murahan yang menyamakan Tuhan dengan trotoar atau kruk. Ia adalah penglihatan bahwa seluruh wujud hanyalah tajalli—pencerminan, penampakan, manifestasi—dari Wujud Mutlak yang Esa.
Kesempurnaan dalam Ketidaksempurnaan
Tubuh yang “cacat” bukan kekurangan ontologis; ia adalah salah satu cermin di mana Yang Maha Esa memandang Diri-Nya sendiri dalam bentuk keterbatasan. Seperti cermin retak yang justru memantulkan cahaya dengan pola lebih indah, lebih liar, lebih tak terduga daripada cermin sempurna yang membosankan. Kesempurnaan juga ada dalam ketidaksempurnaan.
Bayangkan: jika segala sesuatu adalah tajalli Ilahi, maka kursi roda bukan sekadar alat bantu medis. Ia adalah ayat bergerak, tanda kebesaran yang berjalan di atas aspal panas. Kruk bukan pengganti kaki yang hilang; ia adalah cabang baru dari pohon wujud, cabang yang meliuk dengan irama lain.
Dalam pandangan eksistensial, kita memilih makna atas absurditas itu. Dalam pandangan Ibn ‘Arabi, kita tak sekadar memilih—kita menyadari bahwa absurditas itu sendiri adalah salah satu nama Tuhan yang sedang bermain sembunyi-mencari (al-lahw wa al-la‘ib) dengan diri-Nya melalui kita.
Realitas kekinian menambah lapisan jenaka pada drama ini. Dalam era Instagram, Reels dan caption “hustle harder”, era pencitraan, disabilitas sering kita jual sebagai “inspirasi pagi”. Foto kursi roda di puncak Gunung Bromo dengan tulisan: “Tak ada yang mustahil!” Padahal si pemilik kursi tahu betul: mustahil tetap mustahil, tapi ia memilih untuk naik karena pemberontakan—seperti revolt dalam absurditas Camus—terhadap narasi bahwa “hidup sempurna” adalah syarat bahagia. Mitos Sisyphus Disabilitas tetap Bahagia meski setelah sampai puncak, batu yang ia panggul kembali menggelundung, dan ia akan melakukan pengulangan secara abadi.
Mujahid Eksistensial
Di balik itu, waḥdat al-wujud berbisik: “Kamu bukan sedang mengatasi kekurangan; kamu sedang menjadi tempat Tuhan menyaksikan keindahan keterbatasan.” Ada humor kosmik di sini. Tuhan—dalam pengertian Ibn ‘Arabī—bukan arsitek yang gagal mendesain tubuh sempurna. Ia adalah Pelukis Agung yang sengaja mencoret-coret kanvas dengan warna tak terduga: satu kaki hilang di sini, penglihatan kabur di sana, pikiran yang kadang melayang karena skizofrenia di tempat lain. Bahkan, individu yang kita katakan “normal” dalam norma tradisional, tak lepas dari disabilitas batin yang mengantarkannya pada pengakhiran kehidupan melalui bunuh diri.
Mengapa? Karena kesempurnaan monoton tak layak bagi-Nya. Keindahan sejati muncul dalam perbedaan tajalli, dalam irama yang tersendat, dalam napas yang terengah.
Maka penyandang disabilitas, dalam perpaduan dua perspektif ini, bukan korban absurditas semata. Ia adalah mujahid eksistensial yang memberontak dengan tetap hidup—dan sekaligus saksi mata tajalli Ilahi yang paling jujur. Ia tak perlu “mengatasi” disabilitasnya untuk menjadi utuh; ia sudah utuh justru karena retakannya.
Menari dengan Absurditas
Seperti kata sufi: “Cahaya Tuhan paling terang di celah-celah yang retak.” Dan ketika pemuda dengan kruk tadi akhirnya naik ojek—dengan susah payah, tertawa kecil karena kakinya nyangkut di footstep—ia tak sedang “mengalahkan” keterbatasan.
Ia sedang menari dengan absurditas, sambil diam-diam mengakui: dalam setiap derit kruk, dalam setiap hentakan roda kursi, dalam setiap napas yang tersengal karena paru-paru paru-paru yang lemah, ada satu Wujud yang sedang bercermin pada dirinya sendiri. Dan cermin itu, meski retak, tetap memantulkan cahaya.
Mitos Sisyphus Disabilitas modern kita pun tersenyum: batu itu berat, dunia tetap absurd, tapi Tuhan—dalam keEsaan wujud-Nya—sedang tertawa pelan bersamanya. Karena pada akhirnya, bukan kaki yang sempurna yang membawa kita ke puncak; melainkan keberanian untuk terus menggulingkan batu itu, sambil berkata dalam hati: “Ya Tuhan, retakanku ini indah sekali.” []
*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah goes to Community Purwokerto, kerjasama Media Mubadalah dengan LP2M Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.




















































