Mubadalah.id – Para pejabat yang duduk di kursi pemerintahan memiliki tanggungjawab untuk membawa dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Namun, jika kita melihat dunia politik sekarang, kita sepertinya ingin mengelus dada. Kita dapat mengatakan bahwa dunia perpolitikan di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Sikap para pejabat yang lebih mementingkan kenyamanan diri sendiri menjadi sebuah peristiwa yang menyedihkan. Sikap mereka tidak mencerminkan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai wakil rakyat.
Dalam beberapa waktu terakhir, kita melihat bahwa ada pejabat daerah yang lebih memilih untuk membeli kendaraan mewah dibandingkan dengan memperbaiki jalan yang ada di daerahnya. Memang alasannya adalah untuk menunjang mobilitas dalam kunjungan kepada rakyat. Namun, apakah benar demikian? Jika ini hanya omong kosong, maka ini menjadi peristiwa yang sangat memprihatinkan.
Realitas yang Menyedihkan
Ironi ini menimbulkan sebuah paradoks yang tentu memprihatinkan sekaligus menyedihkan. Kita melihat bagaimana para pejabat membeli mobil mewah, rumah mewah, yang harganya mungkin bisa mencapai ratusan juta bahkan miliaran. Namun di satu sisi, kita juga menyaksikan ada begitu banyak rakyat yang menderita. Mereka tidur hanya beralaskan kardus di kolong jembatan.
Yang lebih membuat kita mengelus ada adalah ditemukannya tindakan korupsi yang dilakukan oleh para pejabat ini. Mereka menggunakan uang yang seharusnya untuk membangun fasilitas bagi rakyat untuk berfoya-foya dan memenuhi hasrat flexing.
Fenomena ini jelas menjadi simbol bahwa para pejabat tidak lagi menghidupi status kepemimpinan sebagai tanggung jawab, namun sebagai panggung untuk memperkaya diri dan flexing harta. Anatomi keserakahan ini jelas menjadi hal yang merusak struktur sosial bahwa yang benar akan kalah dengan yang kaya.
Di masa sekarang ini, sepertinya para pejabat lebih takut jika kehilangan akses untuk hidup mewah daripada kehilangan integritas dan jiwa kepedulian. Mereka sudah terbiasa dengan keadaan hidup mewah sehingga selalu berusaha untuk membuat hidupnya terus hidup dalam kenyamanan. Seorang tokoh asal Prancis, Pierre Bourdieu, menyebut fenomena ini sebagai habitus. Menurut Bourdieu, habitus merupakan keadaan mental yang terbentuk karena proses pembelajaran dan lingkungan.
Habitus Yang Terstruktur
Dalam terang kacamata Bourdieu, kita dapat menemukan bagaimana sistem politik di negara kita juga terbentuk karena adanya proses pembelajaran dan lingkungan. Habitus yang terbentuk adalah keyakinan bahwa seorang yang masuk dalam perpolitikan berarti hidupnya akan makmur.
Habitus hedonisme untuk hidup mewah dan berfoya-foya ini merupakan hasil dari pembatinan nilai yang sudah sejak lama dipelajari dan dihidupi. Para pejabat menggunakan struktur sosial untuk membentuk habitus ini. Dengan kata lain, habitus hedonisme ini terbentuk karena adanya lingkaran kekuasaan yang memaksanya untuk hidup mewah. Dampaknya adalah bahwa korupsi demi kehidupan mewah tidak lagi dipandang sebagai dosa sosial, namun sebagai cara untuk mencapai standar kelas penguasa.
Para pejabat kita yang terhormat itu menggunakan berbagai cara untuk memanipulasi modal. Mereka sangat pintar menggunakan modal ekonomi untuk mendapatkan modal simbolik. Dengan habitus yang telah mereka dapatkan ini, mereka mempunyai keyakinan bahwa dengan mendapatkan harta sebanyak-banyaknya, mereka akan lebih mudah untuk mendapat pengakuan sosial sebagai penguasa.
Menurut Bourdieu, pejabat akan semakin menduduki struktur yang paling tinggi jika ia mempunyai lebih dari satu modal sekaligus. Maka, mereka menggunakan modal ekonomi, sosial, dan simbolik untuk bisa mencapai kedudukan yang paling tinggi.
Politik Hati Nurani Rm. Mangun
Melihat realitas perpolitikan pejabat publik di zaman sekarang, mengingatkan banyak orang kepada salah satu sosok mempunyai kemampuan intelektual organik. Dia dikenal bukan sebagai sosok yang gemar pamer, namun sebagai orang yang selalu turun ke lingkungan orang yang sangat terpinggirkan. Sosok itu adalah seorang Imam Katolik bernama Romo Mangunwijaya.
Banyak orang mengenal beliau tidak hanya melalui khotbahnya di mimbar gereja, namun kepeduliaannya terhadap masyarakat kecil. Romo Mangun mengembangkan semangat politik hati nurani. Politik hati nurani yang dikembangkan oleh Romo Mangun ini jelas berbeda dengan politik dalam artian kelembagaan legislatif atau pemerintahan.
Secara kekuasaan, Romo Mangun mempunyai modal simbolik karena ia adalah seorang Pastor. Namun ia tidak menggunakan statusnya sebagai Pastor untuk mencari keuntungan sendiri. Tindakan Romo Mangun yang selalu memperhatikan mereka yang terpinggirkan jelas berbeda dengan para pejabat publik menjadi caranya untuk melakukan politik hati nurani ini.
Apa yang menjadi semangat dan keutamaan dari Romo Mangun ini tentu sangat berbeda dengan para pejabat yang mengejar keuntungan diri sendiri. Ketika para pejabat berlomba-lomba untuk mencari kekuasaan dan hidup hedonis, namun Romo Mangun menunjukkan bahwa pemimpin yang sebenarnya adalah pemimpin yang mau hidup bersama dengan rakyatnya.
Manusia Sebagai Agen
Keadaan politik di Indonesia di zaman sekarang merupakan salah satu tanda adanya kegagalan dalam praktik sosial. Pejabat kita yang katanya mewakili suara rakyat pada nyatanya terjebak pada habitus yang mengagungkan kemewahan. Dalam habitus ini, mereka menyakinkan bahwa kemewahan dan flexing menjadi standar hidup bagi seorang pejabat.
Tetapi kita pernah mempunyai Romo Mangun yang menegaskan bahwa individu bukan hanya “boneka” (Bourdieu menyebutnya sebagai agen) yang pasif. Manusia adalah agen aktif dari struktur sosial. Politik hati nurani yang selalu dihidupi oleh Romo Mangun menjadi cara gentle bagi agen untuk menjadi subjek yang bisa membentuk habitus baru berdasarkan cara hidup sederhana.
Pemikiran Bourdieu dan semangat Romo Mangun menyadarkan kepada kita bahwa politik yang berjalan tanpa adanya hati nurani akan membawa pada kekerasan simbolik. Politik hati nurani menjadi upaya untuk menghancurkan tembok habitus yang selalu mengagungkan kemewahan. Politik bukan hanya berkaitan dengan pemerintahan ataupun kekuasaan, namun juga berkaitan dengan sikap yang mengangkat martabat semua manusia.
Undangan Untuk Menghilangkan Habitus Pamer
Tindakan para pejabat yang selalu flexing kemewahan di tengah realitas masyarakat yang menderita menjadi tanda kematian etika dalam suatu negara. Melalui Bourdieu menyadarkan kepada kita bahwa praktik sosial yang terjadi saat ini merupakan hasil dari pembelajaran dan pembatinan sejak lama sehingga menghasilkan habitus yang “menyembah” materialistik. Tetapi kita juga tidak boleh melupakan ada tokoh-tokoh yang memperjuangkan politik hati nurani, yaitu Romo Mangun.
Pada akhirnya ini menjadi pilihan kita. Apakah kita akan membiarkan habitus politik di negara kita yang busuk dan dipenuhi dengan tindakan yang korup, atau kita berani untuk menjadi “boneka” yang aktif seperti Romo Mangun. Untuk menutup bagian ini, saya mengutip apa yang pernah dikatakan oleh Romo Mangun, demikian; “Politik bagi saya adalah seni untuk ‘nguwongke’ manusia, bukan seni untuk saling menginjak demi kekuasaan.” []










































