Sabtu, 17 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Edukasi Pubertas

    Guru Laki-laki, Edukasi Pubertas, dan Trauma Sosial

    Lingkungan NU

    NU Dorong Pendekatan Keagamaan dalam Upaya Pelestarian Lingkungan

    Caregiver Disabilitas

    Caregiver Disabilitas Menjadi Pahlawan yang Tak Terlihat

    Munas NU

    Munas NU 2019 Bahas Sampah Plastik dan Krisis Air sebagai Ancaman Serius

    NU dan Lingkungan

    Di Era Gus Dur, NU Konsisten Menyuarakan Isu Lingkungan

    Slow Living

    Menyerap Etika Kenabian Sebagai Landasan Hidup Slow Living

    Bahasa Disabilitas

    Bahasa Disabilitas: dari Peyorasi ke Eufemisme

    Lingkungan di Pesantren

    Pesantren Jadi Basis Pendidikan yang Peduli Terhadap Lingkungan

    Pemimpin yang Melayani

    Pemimpin yang Melayani: Ciri Khas Kepemimpinan Kristiani

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Edukasi Pubertas

    Guru Laki-laki, Edukasi Pubertas, dan Trauma Sosial

    Lingkungan NU

    NU Dorong Pendekatan Keagamaan dalam Upaya Pelestarian Lingkungan

    Caregiver Disabilitas

    Caregiver Disabilitas Menjadi Pahlawan yang Tak Terlihat

    Munas NU

    Munas NU 2019 Bahas Sampah Plastik dan Krisis Air sebagai Ancaman Serius

    NU dan Lingkungan

    Di Era Gus Dur, NU Konsisten Menyuarakan Isu Lingkungan

    Slow Living

    Menyerap Etika Kenabian Sebagai Landasan Hidup Slow Living

    Bahasa Disabilitas

    Bahasa Disabilitas: dari Peyorasi ke Eufemisme

    Lingkungan di Pesantren

    Pesantren Jadi Basis Pendidikan yang Peduli Terhadap Lingkungan

    Pemimpin yang Melayani

    Pemimpin yang Melayani: Ciri Khas Kepemimpinan Kristiani

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Buku

Cantik Itu Luka: Sejarah yang Menjadikan Tubuh Perempuan sebagai Medan Perang

Cantik Itu Luka memperlihatkan bahwa kekerasan terhadap tubuh merupakan bagian dari “utang sejarah” yang terus terwariskan.

Salsabila Junaidi Salsabila Junaidi
17 Januari 2026
in Buku
0
Cantik itu Luka

Cantik itu Luka

21
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

“Seringkali, sejarah tidak ditulis di atas kertas, melainkan di atas tubuh perempuan yang dipaksa menjadi medan perang bagi kekuasaan dan patriarki.”

Mubadalah.Id. Beberapa hari terakhir saya menghabiskan waktu untuk ‘bertarung’ dengan narasi hebat Eka Kurniawan dalam Cantik Itu Luka. Membaca Novel Cantik Itu Luka berarti bersedia memasuki dunia yang sengaja Eka Kurniawan bangun dengan gelap dan kejam. Novel ini tidak memanjakan pembaca; sebaliknya, ia memaksa kita menatap kekerasan yang terus-menerus menimpa tubuh perempuan.

Melalui Dewi Ayu, Eka menunjukkan bagaimana kecantikan tidak pernah netral. Justru karena cantik, Dewi Ayu menjadi sasaran kuasa: orang-orang yang ‘berkuasa’ saat itu, memaksanya, memperjualbelikannya, lalu sampai pada ketika ia menormalisasi ‘pelacuran’ itu sebagai bagian dari hidupnya.

Eka Kurniawan menolak romantisasi penderitaan. Ia menegaskan bahwa kecantikan dalam novel itu, bukan hadiah, melainkan lebih sebagai kutukan dalam struktur sosial yang timpang. Luka-luka yang muncul bukan kebetulan, melainkan hasil dari sistem yang membiarkan tubuh perempuan dikuasai dan dieksploitasi.

Luka yang Turun-temurun

Dewi Ayu bukan tokoh yang lahir dari ruang kosong. Ia membawa sejarah panjang dalam tubuh dan hidupnya. Ia adalah keturunan dari keluarga campuran. Darah Eropa dan pribumi. Nenek moyangnya berasal dari garis kolonial, salah satunya terhubung dengan keluarga bangsawan Eropa yang datang ke Hindia Belanda. Dari garis inilah, Dewi Ayu mewarisi kecantikan.

Kecantikan Dewi Ayu tidak sekadar berkaitan dengan rupa. Kecantikannya menandai kelas, ras, dan kuasa. Sejak awal, orang-orang sudah menyoroti tubuhnya. Darah campuran membuat masyarakat terus memosisikannya sebagai “yang lain”: mereka mengaguminya sekaligus mengeksploitasinya.

Dari Dewi Ayu, luka itu tidak berhenti. Ia menurun ke anak-anak perempuannya: Alamanda, Adinda, Maya Dewi, dan Cantik. Masing-masing membawa luka dengan bentuk berbeda. Ada yang terluka oleh cinta yang timpang, ada yang terus-terusan dalam kekerasan dalam rumah tangga. Lalu, ada pula yang memikul dendam yang tak pernah selesai. Nama mereka indah, tapi hidup mereka jauh dari kata tenang.

Menariknya, setelah melahirkan tiga anak, Dewi Ayu kembali mengandung anak keempat dan ia memberinya nama “Cantik”. Sayangnya, si “Cantik” justru terlahir dengan rupa yang sangat buruk dan diserupakan dengan monster.

Kilas balik Kisah Keluarga Dewi Ayu

Eka Kurniawan memulai rantai luka dan zina dalam Cantik Itu Luka melalui kisah Ma Iyang, nenek Dewi Ayu. Dalam konteks kolonial, Ted Stammler, kakek Dewi Ayu, lelaki Belanda yang berkuasa, menjadikan Ma Iyang sebagai gundik.

Ted tidak membangun relasi setara. Ia memanfaatkan posisi sosial dan kolonialnya untuk menguasai tubuh Ma Iyang. Hubungan seksual itu lahir dari paksaan struktural, bukan dari kehendak bebas. Dengan demikian, kekerasan dalam novel ini sejak awal muncul sebagai produk kuasa, bukan sekadar pelanggaran moral individual.

Ma Iyang menanggung trauma dari relasi tersebut sepanjang hidupnya. Ketika ia menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar memiliki kendali atas tubuh dan hidupnya, ia memilih mengakhiri hidupnya sendiri dengan melompat dari sebuah bukit (yang kemudian bernama Bukit Ma Iyang). Tindakan bunuh diri itu menandai kehancuran total seorang perempuan yang sistem sosial paksa masuk ke dalam relasi kekerasan yang timpang.

Dari hubungan Ma Iyang dan Ted, lahirlah Aneu. Alih-alih memutus mata rantai luka, sejarah justru mengulang dirinya. Henri, Anak Ted, menjalin hubungan dan menikah dengan Aneu, yang juga anak Ted dari istrinya yang lain. Relasi ini kembali memuat problem moral dan kuasa, sebab keluarga kolonial itu membiarkan hubungan sedarah tersebut berlangsung.

Eka Kurniawan menunjukkan bahwa ‘kekerasan’ dan relasi seksual yang rusak tidak berhenti pada satu generasi, melainkan terus bergerak melalui legitimasi sosial dan keluarga.

Dari hubungan Henri dan Aneu, lahirlah Dewi Ayu. Sejak kelahirannya, sejarah dosa dan luka sudah melekat pada tubuhnya. Dewi Ayu tidak memulai hidup dari ruang yang netral. Ia mewarisi relasi yang cacat sejak nenek dan orang tuanya.

Ketika dewasa, kekuasaan kembali menguasai tubuhnya. Pada masa pendudukan Jepang, para tentara memaksa Dewi Ayu menjadi pelacur. Kekerasan seksual kembali membungkus dirinya, kali ini dengan wajah yang lebih terang-terangan.

Sistem Sosial, Kolonialisme, Patriarki

Melalui tokoh Dewi Ayu, Eka Kurniawan menegaskan bahwa eksploitasi tubuh dalam Cantik Itu Luka tidak pernah muncul sebagai pilihan bebas perempuan. Sistem sosial, kolonialisme, patriarki, dan kekerasan, secara konsisten menyeret perempuan ke dalam relasi seksual yang merugikan mereka.

Mulai dari Ma Iyang, beralih ke Aneu, hingga Dewi Ayu, struktur kekuasaan terus mendominasi tubuh perempuan, sementara, ada banyak pihak yang mendiamkan praktik tersebut terus berjalan. Dengan cara ini, Cantik Itu Luka memperlihatkan bahwa kekerasan terhadap tubuh merupakan bagian dari “utang sejarah” yang terus terwariskan.

Luka tersebut tidak berhenti pada satu raga, melainkan merambat dari nenek ke ibu, lalu turun ke anak. Sekali lagi, perempuan menjadi pihak yang menanggung konsekuensi terberat atas penderitaan yang sebenarnya tidak pernah mereka pilih.

Menatap Ulang Jejak Sejarah dalam Cantik Itu Luka

Membaca Cantik Itu Luka hari ini berarti menatap cermin sejarah yang buram dan menyakitkan. Kita harus berani bertanya pada diri sendiri. Apakah saat ini kita sudah benar-benar telah beranjak, atau kita justru sedang melanggengkan pola penindasan yang sama dengan kemasan yang lebih modern?

Narasi ini memaksa kita melihat bagaimana struktur kekuasaan masa lalu terus membayangi cara kita memperlakukan tubuh perempuan hingga saat ini.

Kita harus berhenti menempatkan tubuh perempuan sebagai medan tempur untuk menumpuk dosa-dosa sosial atau menjadikannya alat pembenaran bagi ambisi kuasa. Sudah saatnya kita menolak pandangan yang memosisikan perempuan hanya sebagai objek yang menanggung beban sejarah yang tidak pernah mereka pilih.

Melalui semangat Mubadalah, kita memikul tanggung jawab untuk merombak relasi yang timpang menjadi hubungan yang adil dan saling memanusiakan. Kita perlu menciptakan sejarah baru yang menumbuhkan kehidupan, bukan sejarah yang terus-menerus memproduksi trauma antargenerasi.

Sebab, utang luka selalu menuntut harga yang teramat mahal, dan sering kali mereka yang paling tidak berdosa yang harus menanggung seluruh bebannya. []

Salsabila Junaidi

Salsabila Junaidi

Terkait Posts

Muslimah yang Diperdebatkan
Buku

Menggugat Standar Kesalehan Perempuan dalam Buku Muslimah yang Diperdebatkan

17 Januari 2026
Edukasi Pubertas
Publik

Guru Laki-laki, Edukasi Pubertas, dan Trauma Sosial

17 Januari 2026
Lingkungan NU
Publik

NU Dorong Pendekatan Keagamaan dalam Upaya Pelestarian Lingkungan

17 Januari 2026
Caregiver Disabilitas
Publik

Caregiver Disabilitas Menjadi Pahlawan yang Tak Terlihat

17 Januari 2026
Munas NU
Publik

Munas NU 2019 Bahas Sampah Plastik dan Krisis Air sebagai Ancaman Serius

16 Januari 2026
NU dan Lingkungan
Publik

Di Era Gus Dur, NU Konsisten Menyuarakan Isu Lingkungan

16 Januari 2026
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • NU dan Lingkungan

    Di Era Gus Dur, NU Konsisten Menyuarakan Isu Lingkungan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Munas NU 2019 Bahas Sampah Plastik dan Krisis Air sebagai Ancaman Serius

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyerap Etika Kenabian Sebagai Landasan Hidup Slow Living

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa Disabilitas: dari Peyorasi ke Eufemisme

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Di Bawah Bayang-bayang Dhawuh Kiai: Bagian Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Cantik Itu Luka: Sejarah yang Menjadikan Tubuh Perempuan sebagai Medan Perang
  • Menggugat Standar Kesalehan Perempuan dalam Buku Muslimah yang Diperdebatkan
  • Guru Laki-laki, Edukasi Pubertas, dan Trauma Sosial
  • NU Dorong Pendekatan Keagamaan dalam Upaya Pelestarian Lingkungan
  • Caregiver Disabilitas Menjadi Pahlawan yang Tak Terlihat

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID