Mubadalah.id – Dari hulu hingga ke hilir, urusan per-tetangga-an tidak akan ada putusnya, entah hidup di tengah hutan maupun kota penuh penduduk, bertetangga merupakan sebuah keniscayaan.
Sebagai manusia yang butuh tetangga, saya dengan nyata berinteraksi dengannya satu kali seumur hidup. Interaksinya tidak muluk-muluk, cukup membawa kopi, menanyakan menu dapur mini, dan kelancaran kegiatannya hari ini.
Namun, interaksi sederhana itu pun memerlukan etika saat berjumpa. Misalkan, etika komunikasi yang sopan tidak menyakit tetangga (Shahih Bukhari, Hadis no. 6018), bersikap ramah sumringah, ekspresi selalu gembira, saling menyapa dan sebagainya.
Jika di era digital bagaimana? Semua orang berinteraksi tanpa tatap muka dan bergeser ke tatap layar dengan intens, Pintu rumah memang masih berdiri, tetapi “pintu komunikasi” justru lebih sering terbuka lewat grup WhatsApp, story media sosial, atau kolom komentar. Sapaan pagi diganti notifikasi, obrolan teras berpindah ke chat singkat, dan kabar duka atau bahagia tersebar lebih cepat lewat status daripada ketukan pintu.
Maka, bagaimana etika bertetangga saat era digital ini? Butuh atau tidak ?
Ruang “Baru” Bertetangga
Maksud ruang baru bertentangga dalam hal ini adalah media sosial. Jika dulu jumpa dengan tetangga dengan kontak fisik, hari ini pemandangan itu perlahan berubah. Segala perbincangan selesai menggunakan jempol kanan dan kiri sekali tap layar. Grup Whatsapp Rt, Senam Pagi, dan kerja bakti kini sudah seperti balai warga digital.
Secara fungsional, media sosial dan kontak fisik ini tidak jauh berbeda, sama-sama menjalin komunikasi, hanya saja media sosial lebih efisien karena tidak terbatas jarak dan waktu.
Akan tetapi, terkadang ruang digital juga memiliki ragam wajah dan karakter yang variatif. Ia tidak menghadirkan ekspresi wajah, intonasi suara, atau bahasa tubuh. Akibatnya, pesan yang sebenarnya biasa saja bisa terasa sinis.
Teguran untuk hal kebaikan bisa menjadi asumsi untuk menyerang. Salah paham pun lebih mudah muncul. Yang lebih rumit, jejak digital sulit dihapus. Sekali pesan terkirim atau status terunggah, dampaknya bisa menyebar lebih cepat daripada gosip di ujung gang.
Terkadang ruang digital juga sering mengaburkan batas antara ruang pribadi dan publik. Keluhan kecil yang berbentuk privat biasanya selesai dengan empat mata, bisa berubah menjadi unggahan terbuka bagi banyak orang.
Tentu hal ini rentan menggerus rasa saling percaya dan kejujuran sesama. Akibatnya media sosial menjadi ruang yang penuh kamuflase serta membentuk kepribadian seseorang. Padahal, islam sendiri melegitimasi hak bertetangga dengan saling menjaga martabat dan perasaan satu sama lain.
Tepat pada titik inilah etika bertetangga menemukan bentuk barunya. Bukan lagi sekedar soal menyapa atau ikut kerja bakti, tapi juga soal menahan diri dan berpikir jernih sebelum mengetik, cermat dalam menerima informasi baru sebelum membagikan, dan lebih selektif memilh jalur komunikasi ketika ada problem krusial.
Kadang, berjalan beberapa langkah untuk mengetuk pintu rumah tetangga jauh lebih mulia daripada mengirim pesan Panjang lewat media sosial. Oleh karena itu ruang digital memang menjadi halaman depan baru bagi kehidupan bertetangga. Di balik nomor telepon, tetap masih ada manusia yang berharga dan mulia.
Etika Bertetangga Kontemporer
Zaman boleh berubah, teknologi boleh makin canggih, tapi satu hal yang tidak akan pernah usang adalah hidup berdampingan. Hari ini saya rasa kehidupan bertetangga mengalami evolusi yang signifikan. Evolusi tersebut terwujud dari cara kita berinteraksi.
Bertetangga kontemporer bukan lagi sekadar soal menyapa di pagi hari atau ikut kerja bakti. Ia menuntut kesadaran yang lebih luas: bagaimana bersikap di dunia nyata sekaligus di dunia maya.
Sehingga etika bertetangga memiliki 2 wajah baru : etika sosial dan etika digital. Keduanya harus saling seimbang dan tidak ada unsur merendahkan. Karena, Islam telah mensosialisasikan bahwa tetangga ialah yang terdekat dari pintu rumah kita, bukan yang terdekat dari layar handphone kita.
Penggalan hadits Nabi yang berbunyi : وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ yang artinya siapapun kalian yang beriman kepada hari akhir maka muliakanlah tetanggamu itu memiliki penafsiran baru hari ini.
Di desa, bentuk memuliakan tetangga mungkin dengan mengunjungi rumahnya, saling sapa, dan ngobrol hingga larut waktu. Berbeda dengan masyarakat urban yang rumahnya dominan berpagar dan selalu tertutup, mungkin bagi mereka memuliakan tetangga cukup tidak menganggunya secara fisik, namun hendaknya interaksi melalui sosial media dahulu.
Pada akhirnya, etika bertetangga kontemporer adalah tentang keseimbangan: memanfaatkan kemudahan digital tanpa kehilangan sentuhan manusiawi. Karena se-modern apa pun lingkungan kita, rumah tetaplah tempat manusia hidup bersama, bukan sekadar berdampingan.
Dan kehidupan bersama hanya akan hangat jika dibangun dengan sopan santun, tenggang rasa, dan hati yang terbuka.
Saling, Silang dan Menyuling Tali Kemanusiaan
Hidup dengan tetangga sejatinya adalah tentang pertemuan yang terus menerus. Setiap hari bersinggungan, berpapasan depan rumah, berbagi suara dari dinding yang sama, dan bahkan mendengar obrolan tetangga karena dinding bergandengan.
Dalam ruang perjumpaan kecil itulah kehidupan sosial bekerja, terkadang rukun, berisik, dan salah paham. Relasi ini bukan lurus dan mulus, akan tetapi saling, silang dan perlahan menyuling makna kemanusiaan.
Hidup berdampingan juga berarti silang. Perbedaan selera musik, kebiasaan, latar belakang pemikiran, bahkan pilihan politik mudah bertabrakan. Apalagi di era digital, persilangan itu bahkan makin tajam. Caption di media sosial sering kehilangan nada ramahnya.
Di titik inilah etika etika dengan tetangga berperan sebagai proses menyuling. Ia menyaring ego, meredam emosi, dan mengendapkan amarah agar yang tersisa hanyalah kebijaksanaan. Etika menuntun kita agar tidak bereaksi belebihan, menjaga lisan dan saling memahami
Atau dengan istilah lain, etika membantu mengubah konflik menjadi pelajaran, bukan permusuhan. Menyuling tali kemanusiaan berarti menyadari bahwa di balik setiap pintu rumah ada cerita hidup yang tak kita tahu.
Saat dunia yang seba cepat dan sering terasa impersonal, etika hadir sebagai pengingat kemanusiaan, begitupun kepada tetangga di sekitar kita. []




















































