Mubadalah.id – Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret selalu menjadi momentum bagi masyarakat dunia untuk kembali mengingat sejarah panjang perjuangan perempuan.
Pada tahun 2026, peringatan ini terasa semakin bermakna karena menandai 115 tahun perjalanan gerakan perempuan global dalam memperjuangkan hak, martabat, dan keadilan bagi perempuan.
Di berbagai negara, termasuk di Indonesia hari perempuan internasional seringkali dijadikan momentum untuk menyuarakan dan menuntut kesetaraan serta perlindungan terhadap hak-hak perempuan. Momentum ini diwujudkan dalam berbagai aksi, salah satunya adalah Women’s March.
Melansir dari Instagram @unwomenid, tema Women’s March yang disepakati oleh PBB tahun ini ialah Rights. Justice. Action. For ALL Women and Girls. Selain tema dari PBB, terdapat pula kampanye global bertajuk “Give To Gain” (#GiveToGain).
Kampanye ini menekankan filosofi resiproksitas atau timbal balik, di mana dukungan dan investasi yang diberikan kepada perempuan akan mendatangkan keuntungan kolektif bagi kemajuan seluruh masyarakat.
Dalam konteks Indonesia sendiri, Hari Perempuan Internasional 2026 difokuskan pada upaya integrasi perspektif gender ke dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan. Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah perlindungan perempuan dari kekerasan berbasis gender yang masih marak terjadi baik di ruang fisik maupun di dunia digital.
Saat ini kekerasan pada perempuan bukan hanya diskriminasi, pelecehan, intimidasi, atau pengendalian tubuh perempuan. Dalam banyak kasus, ia berujung pada bentuk yang paling ekstrem, yaitu femisida, pembunuhan perempuan karena ia perempuan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah struktural, di mana relasi antara laki-laki dan perempuan masih timpang. Perempuan dianggap “wajar” untuk dibunuh, karena terlahir sebagai perempuan.
Karena itu, peringatan Hari Perempuan Internasional merupakan momentum untuk mengingat bahwa masih ada perempuan yang kehilangan nyawanya akibat kekerasan berbasis gender.
Femisida Sudah Ada Sejak Masa Nabi
Berdasarkan definisi yang dikeluarkan oleh WHO, UN Women dan Pelapor Khusus Anti Kekerasan Perempuan PBB, femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan yang dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung karena jenis kelamin atau gendernya. Ketimpangan relasi kuasa dan budaya patriarki adalah penyebab utamanya.
Setiap tahun, jumlah kasus femisida terus meningkat. Jakarta Feminist menemukan 43% kasus femisida bermula dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau kekerasan dalam pacaran (KDP) yang tidak tertangani dengan komprehensif. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya, di mana 37% perempuan dibunuh oleh pasangan intim korban.
Dari data ini, sepanjang Tahun 2024 sedikitnya 209 perempuan menjadi korban pembunuhan. Senada dengan itu, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) juga melaporkan terdapat 159 kasus femisida sepanjang 2023.
Meski istilah femisida baru muncul sekitar tahun 1992, namun peristiwa pembunuhan perempuan akibat ketimpangan relasi kuasa dan budaya patriarki sudah terjadi sejak masa Nabi Muhammad SAW.
Dalam banyak catatan sejarah Islam, sejak lahir perempuan masa itu sudah dikubur hidup-hidup karena dianggap aib. Selain itu, di masa Jahiliyah, pihak laki-laki atau bapak merasa bahwa anak perempuan sangat tidak berguna. Sebab, ia tidak bisa memimpin sukunya dan tidak bisa berperan dalam mempertahankan kekuatan komunitasnya.
Masa Jahiliyah
Sedangkan, di masa Jahiliyah, kekuatan suatu suku atau komunitas mereka ukur dari kekuatan mereka berperang, dan hampir seluruh pasukan perang adalah laki-laki. Karena itu, kelahiran anak perempuan sebagai bencana dan malapetaka bagi keluarga.
Karena itu, mengubur bayi perempuan hidup-hidup menjadi pilihan praktis untuk mengantisipasi aib keluarga di masa depan.
Gambaran yang memilukan ini dapat kita lihat dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Ra, bahwa Umar bin Khathab Ra berkata, “Dulu, pada masa Jahiliah, kami tidak memperhitungkan perempuan sama sekali. Kemudian, ketika Islam turun dan Allah mengakui mereka, kami memandang bahwa mereka pun memiliki hak atas kami.” (Shahih al-Bukhari).
Selain itu, kondisi sosial yang merendahkan martabat kemanusiaan perempuan, juga dapat kita lihat dalam Surah At-Takwir ayat 8 dan 9 yang artinya:
“Mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan; Mahasuci Dia, sedangkan untuk mereka sendiri apa yang mereka sukai (anak-anak laki-laki). (Padahal) apabila salah seorang dari mereka mendapat kabar tentang (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam) dan dia sangat marah (sedih dan malu).” (QS. At-Takwir, 8-9).
Ayat ini turun untuk mengisahkan kondisi sosial waktu itu, di mana banyak anak perempuan yang lahir dianggap sebagai aib dan kesialan, sehingga harus dibunuh, salah satu caranya ialah dengan dikubur hidup-hidup.
Islam Memuliakan Perempuan
Dalam Islam, kedudukan perempuan dan laki-laki adalah setara. Keduanya berhak untuk hidup dan terbebas dari segala bentuk kekerasan. Oleh karena itu, tindakan diskriminasi termasuk femisida tidak sejalan dengan semangat Islam.
Rasulullah SAW juga telah menegaskan bahwa membunuh bayi perempuan ia anggap sebagai dosa yang besar. Dari Mughirah bin Syu’bah,
إنَّ اللَّهَ عزَّ وجلَّ حَرَّمَ علَيْكُم: عُقُوقَ الأُمَّهاتِ، ووَأْدَ البَناتِ، ومَنْعًا وهاتِ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mengharamkan: durhaka terhadap Ibu, mengubur anak perempuan, mencegah orang lain mendapatkan haknya.”
Dalam sabdanya yang lain Nabi juga menyampaikan “Barang siapa yang memelihara dua anak perempuan hingga dewasa, maka ia akan datang pada Hari Kiamat bersamaku seperti ini,” sambil menunjukkan dua jarinya yang berdempetan.” (HR. Muslim No.2631).
Selain itu, sebagaimana dalam tulisan Maulana Alif Rasyidi di Mubadalah.id, bahwa Nabi juga menegaskan tentang pentingnya memuliakan perempuan dan menjamin hak-hak mereka.
Contohnya, perempuan yang awalnya tidak berhak memperoleh waris menjadi berhak mendapatkannya dengan rincian yang adil. Lalu Nabi juga mengganti kedudukan perempuan yang semula sebagai objek dalam konteks pernikahan menjadi subjek yang berhak untuk memilih pasangannya.
Nabi menetapkan mahar (mas kawin) sebagai hak istri, dan membatasi praktik poligami yang semula tidak terkendali (al-Tabari, 1998, hlm. 352–354).
Larangan praktik dzihar dan menetapkan aturan yang adil dalam perceraian. Di mana perempuan memiliki hak-hak tertentu, seperti nafkah selama masa iddah dan hak untuk menggugat cerai.
Membebaskan Perempuan dari Femisida
Islam yang membebaskan dan teladan Nabi yang mengangkat derajat kemanusiaan perempuan adalah perjuangan yang harus terus kita lakukan. Meski masa Jahliyah telah hilang, namun kekerasan terhadap tubuh perempuan sampai saat ini masih terus terjadi.
Karena itu, seharusnya seluruh umat muslim di dunia sepakat untuk menghilangkan praktik femisida, serta menghukum para pelaku tindakan kejahatan ini. Dalam sejarah manusia, tidakan ini seringkali ia abaikan dan korban serta keluarga tidak mendapatkan keadilan.
Sementara Islam melalui risalah kenabian Muhammad SAW, menentang segala bentuk ketidakadilan perempuan, termasuk penghilangan nyawa, hanya karena dia perempuan.
Hari perempuan internasional menjadi momentum bagi kita. Terutama umat Muslim untuk meneladani akhlak Nabi yang tidak lelah untuk memperjuangkan perempuan agar terbebas dari segala bentuk kekerasan. Termasuk femisida. []








































