Senin, 9 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Harlah NU

    Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

    Keluarga Disfungsional

    Keluarga Disfungsional yang Tampak Baik-baik Saja: Membaca Anak yang Berulah di Sekolah

    Kemiskinan

    Kemiskinan dan Akumulasi Beban Mental

    MBG

    MBG dan Panci Somay yang Tak Lagi Ramai

    Istri

    Istri Bekerja? Ini Penjelasan Al-Qur’an

    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    Cat Calling

    Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

    Aborsi

    Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

    Jihad Konstitusional

    Melawan Privatisasi SDA dengan Jihad Konstitusional

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengasuhan Anak

    Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak

    Fungsi Reproduksi

    Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

    Menyusui

    Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

    Relasi dalam Al-Qur'an

    Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

    Nusyuz dalam Al-Qur'an

    Memahami Nusyuz secara Utuh dalam Perspektif Al-Qur’an

    Makna Nusyuz

    Cara Pandang yang Sempit Soal Makna Nusyuz

    Gempa

    Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih

    Pernikahan

    Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an

    Poligami

    Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Harlah NU

    Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

    Keluarga Disfungsional

    Keluarga Disfungsional yang Tampak Baik-baik Saja: Membaca Anak yang Berulah di Sekolah

    Kemiskinan

    Kemiskinan dan Akumulasi Beban Mental

    MBG

    MBG dan Panci Somay yang Tak Lagi Ramai

    Istri

    Istri Bekerja? Ini Penjelasan Al-Qur’an

    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    Cat Calling

    Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

    Aborsi

    Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

    Jihad Konstitusional

    Melawan Privatisasi SDA dengan Jihad Konstitusional

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengasuhan Anak

    Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak

    Fungsi Reproduksi

    Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

    Menyusui

    Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

    Relasi dalam Al-Qur'an

    Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

    Nusyuz dalam Al-Qur'an

    Memahami Nusyuz secara Utuh dalam Perspektif Al-Qur’an

    Makna Nusyuz

    Cara Pandang yang Sempit Soal Makna Nusyuz

    Gempa

    Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih

    Pernikahan

    Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an

    Poligami

    Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Buku

Kisah Anak Perempuan Disabilitas Menyelamatkan Pohon Terakhir di Desanya

Dari sini kita belajar bahwa pengalaman disabilitas justru memberi sudut pandang yang tajam tentang keadilan lingkungan.

Fatwa Amalia by Fatwa Amalia
2 Februari 2026
in Buku, Disabilitas, Rekomendasi
A A
0
Anak Perempuan Disabilitas

Anak Perempuan Disabilitas

22
SHARES
1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Leda adalah seorang anak perempuan dengan kaki besi. Ia tinggal di sebuah desa yang dulu hijau, penuh pepohonan, penuh suara burung, dan tanah yang ramah bagi anak-anak untuk berlarian. Kini desa itu berubah wajah. Hamparan pohon sawit berdiri seragam.

Tidak ada lagi ruang bermain, tidak ada lagi pohon untuk berteduh, dan tidak ada lagi cerita tentang buah liar yang jatuh saat musim panen. Dari semua pohon yang pernah hidup di sana, hanya satu yang tersisa. Pohon itulah yang kemudian anak-anak kenali sebagai pohon terakhir.

Leda sering duduk di bawah pohon terakhir. Suatu hari, ia mendengar kabar bahwa pohon itu juga akan ditebang. Alasannya terdengar biasa saja: perluasan kebun sawit, kebutuhan ekonomi, izin yang sudah turun. Semua terdengar sah, legal, dan rasional. Namun bagi Leda, kabar itu terdengar seperti kehilangan terakhir.

Di buku cerita anak Pohon Terakhir Leda yang diterbitkan oleh Penerbit Semut Api pada tahun 2025, kisah ini tidak berhenti pada kesedihan. Cerita justru bergerak pada pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada anak-anak. Apa yang bisa seorang anak perempuan disabilitas lakukan ketika berhadapan dengan kekerasan ekologis?

Tidak ada tokoh dewasa penyelamat, tidak ada keajaiban instan. Yang ada adalah keberanian Leda yang tumbuh dari kebutuhan bertahan hidup dan lingkungan yang layak yang mengantarkannya untuk menyematkan pohon terakhir.

Di sinilah buku ini menjadi penting. Anak-anak tidak hanya kita ajak membaca cerita, tetapi kita ajak berdiskusi. Mereka kita ajak memahami bahwa disabilitas bukan penghalang untuk berpikir, bersuara, dan bertindak. Anak-anak kita ajak menyadari bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar urusan orang dewasa, melainkan urusan masa depan mereka sendiri.

Anak Perempuan, Disabilitas, dan Kerentanan dalam Kekerasan Ekologis

Dalam banyak percakapan publik, disabilitas sering kita letakkan dalam bingkai belas kasihan. Anak disabilitas kita anggap lemah, bergantung, dan selalu membutuhkan pertolongan. Anak perempuan pun kerap terlabeli rapuh, emosional, dan tidak rasional. Ketika dua identitas ini bertemu, lahirlah stereotip ganda yang semakin menyingkirkan. Anak perempuan disabilitas dianggap tidak mampu, tidak relevan, dan tidak perlu terlibat  dalam pengambilan keputusan.

Padahal, kerentanan bukanlah sifat bawaan. Kerentanan adalah kondisi yang tercipta oleh sistem. Anak perempuan disabilitas menjadi rentan bukan karena tubuhnya berbeda, melainkan karena lingkungannya tidak ramah, kebijakannya tidak inklusif, dan suaranya tidak dianggap penting. Ketika kekerasan ekologis terjadi, kelompok ini justru sering menjadi yang paling terdampak.

Kekerasan ekologis bukan hanya tentang pohon yang ditebang atau sungai yang tercemar. Ia adalah tentang hilangnya akses hidup yang aman. Ketika air bersih semakin jauh, anak perempuan sering menjadi pihak yang harus berjalan lebih lama. Lalu ketika tanah tidak lagi subur, keluarga miskin semakin terdesak. Ketika ruang publik menyempit, anak disabilitas kehilangan tempat untuk berinteraksi dan bermain.

Leda mewakili realitas ini. Keadaan disabilitas membuatnya lebih peka terhadap perubahan lingkungan. Jalan tanah yang rusak lebih menyulitkannya. Panas tanpa pohon lebih melelahkannya. Hilangnya ruang hijau lebih cepat ia rasakan. Dari sini kita belajar bahwa pengalaman disabilitas justru memberi sudut pandang yang tajam tentang keadilan lingkungan.

Buku Pohon Terakhir Leda secara halus membalik cara pandang kita. Leda tidak terposisikan sebagai korban pasif. Ia adalah subjek yang berpikir, merasakan, dan bertindak. Ia tidak mengalahkan disabilitasnya, karena disabilitas bukan musuh. Yang ia lawan adalah ketidakadilan ekologis yang mengabaikan kelompok disabilitas yang direntankan.

Mengajak anak-anak berdiskusi tentang hal ini penting. Anak-anak perlu memahami bahwa semua tubuh memiliki nilai. Bahwa kepemimpinan tidak selalu datang dari suara paling keras atau tubuh paling kuat. Bahwa keberanian bisa lahir dari pengalaman hidup yang berbeda. Dengan cara ini, literasi tentang disabilitas tidak berhenti pada definisi, tetapi menyentuh empati dan keadilan sosial.

Pohon, Sawit, dan Ingatan yang Dihapus Pelan-Pelan

Sawit sering datang dengan narasi kemajuan. Sebagaimana yang terlontarkan Pak Presiden akhir-akhir ini. Sawit itu penting, sawit itu penting, sawit itu penting! Menjanjikan lapangan kerja, peningkatan ekonomi, dan pembangunan desa. Namun narasi ini jarang menyertakan cerita tentang apa yang hilang. Pohon-pohon yang ditebang bukan hanya kayu, melainkan penyangga ekosistem. Hutan bukan hanya lahan kosong, melainkan ruang hidup.

Dalam cerita Leda, sawit tergambarkan tidak sebagai monster, tetapi sebagai sistem yang rakus dan seragam. Pohon sawit berdiri rapi, tetapi tidak menyediakan keteduhan yang sama. Ia tidak menyimpan cerita, tidak menjadi tempat bermain, dan tidak mengikat relasi emosional warga dengan tanahnya. Desa menjadi asing di tanah sendiri.

Anak-anak sering menjadi saksi pertama perubahan iklim. Namun suara mereka jarang kita dengar. Buku ini memberi ruang bagi ingatan anak-anak. Pohon terakhir menjadi simbol ingatan kolektif yang hampir terhapus.

Melalui diskusi setelah membaca, anak-anak dapat kita ajak berpikir kritis. Mengapa hanya satu pohon yang tersisa? Siapa yang diuntungkan dari sawit? Siapa yang dirugikan? Apakah pembangunan selalu berarti menebang? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini.

Pohon dalam cerita ini juga mengajarkan relasi. Leda tidak melihat pohon sebagai objek. Ia memperlakukannya sebagai teman, sebagai bagian dari dirinya. Cara pandang ini berbeda dengan logika ekstraktif yang melihat alam hanya sebagai sumber daya. Anak-anak perlu dikenalkan pada etika relasional dengan lingkungan, bahwa manusia hidup bersama alam, bukan di atasnya.

Kebijakan Pemerintah dan Siapa yang Tidak Diajak Bicara

Kisah Leda tidak bisa terlepaskan dari konteks kebijakan. Pohon terakhir ditebang bukan oleh individu jahat, melainkan oleh sistem perizinan yang mengabaikan partisipasi warga, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Dalam banyak kasus, kebijakan lingkungan dibuat tanpa mendengar suara mereka yang paling terdampak.

Buku ini bisa menjadi pintu masuk untuk membicarakan kebijakan dengan bahasa anak. Anak-anak bisa kita ajak memahami bahwa keputusan pemerintah memengaruhi kehidupan sehari-hari. Bahwa izin penebangan bukan sekadar kertas, melainkan keputusan yang berdampak pada udara, air, dan ruang bermain.

Diskusi ini penting untuk menumbuhkan kewargaan kritis. Anak-anak perlu tahu bahwa mereka berhak bersuara. Bahwa demokrasi tidak kita mulai ketika dewasa, tetapi sejak kecil. Bahwa menyampaikan pendapat tentang lingkungan adalah bagian dari hak asasi.

Merawat sebagai Iman

Dalam perspektif keagamaan, disabilitas bukanlah kutukan. Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketakwaan dan amal. Nabi Muhammad SAW bahkan menegur sahabat yang mengabaikan Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat tunanetra. Kisah ini sebagai pengingat bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama.

Islam juga menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi, bukan penguasa sewenang-wenang. Merusak alam adalah pengkhianatan terhadap amanah. Menjaga pohon, air, dan tanah adalah bagian dari ibadah. Dalam konteks ini, perjuangan Leda bukan sekadar aktivisme, melainkan laku spiritual.

Anak-anak perlu kita kenalkan bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari nilai keimanan dan kemanusiaan. Bahwa membela yang lemah, termasuk alam dan kelompok rentan, adalah tindakan mulia. Dengan cara ini, diskusi tentang disabilitas dan lingkungan tidak terjebak pada moralitas kosong, tetapi berpijak pada nilai yang hidup.

Kisah Leda mengajarkan bahwa iman bisa hadir dalam bentuk yang sederhana. Ia menunjukkan bahwa anak perempuan disabilitas adalah subjek yang menjalankan nilai-nilai keimanan. []

 

Tags: Anak Perempuan Disabilitasbencana ekologisBuku Pohon Terakhir LedaekosidaHak Penyandang DisabilitasInklusi SosialMerawat Lingkungan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Perspektif Keadilan Hakiki bagi Perempuan Hadirkan Islam yang Membebaskan

Next Post

Buku Toleransi dalam Islam: Membaca Ulang Makna Natal dalam Islam

Fatwa Amalia

Fatwa Amalia

Fatwa Amalia, pengajar juga perempuan seniman asal Gresik Jawa Timur. Karya-karyanya banyak dituangkan dalam komik dan ilustrasi digital dengan fokus isu-isu perempuan dan anak @komikperempuan. Aktif di sosial media instagram: @fatwaamalia_r. Mencintai buku dan anak-anak seperti mencintai Ibu.

Related Posts

Inpirasi Perempuan Disabilitas
Disabilitas

Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

7 Februari 2026
Difabel dalam Sejarah Yunani
Disabilitas

Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

5 Februari 2026
Disabilitas dan Dunia Kerja
Disabilitas

Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

3 Februari 2026
MBG
Disabilitas

MBG bagi Difabel: Pentingkah?

2 Februari 2026
Kesehatan mental
Lingkungan

Bukan Salah Iblis, Kesehatan Mental itu Konstruksi Sosial

2 Februari 2026
Sejarah Disabilitas
Disabilitas

Sejarah Gerakan Disabilitas dan Kebijakannya

2 Februari 2026
Next Post
Toleransi dalam Islam

Buku Toleransi dalam Islam: Membaca Ulang Makna Natal dalam Islam

No Result
View All Result

TERBARU

  • Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak
  • Rekontekstualisasi Teologi Sunni: Bagaimana Cara Kita Memandang Penderitaan?
  • Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi
  • Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan
  • Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0