Kamis, 15 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    American Academy of Religion

    Melampaui Maskulinitas Qur’ani: Catatan dari Konferensi American Academy of Religion (AAR) 2025

    Menjaga Kelestarian Alam

    Membangun Kesadaran Sejak Dini untuk Menjaga Kelestarian Alam

    Disabilitas

    Disabilitas, Trilogi KUPI, dan Perjuangan Melawan Ketidakadilan

    Pelestarian di Pesantren

    Pesantren Memiliki Peran Strategis dalam Pelestarian Lingkungan

    Pemerintah

    Pemerintah dan Masyarakat Didorong Berkolaborasi Jaga Kelestarian Lingkungan

    sahabat tuli

    Sahabat Tuli Salatiga: Representasi Gerakan Kelompok Disabilitas

    Kerusakan Lingkungan

    Kerusakan Lingkungan Berdampak Luas pada Ekonomi, Sosial, dan Budaya Masyarakat

    Qawwam

    Memaknai Qawwam dalam Relasi Pernikahan: Refleksi Kewajiban Suami untuk Menafkahi Istri

    Kerusakan Lingkungan

    Indonesia Hadapi Tantangan Serius Akibat Kerusakan Lingkungan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    American Academy of Religion

    Melampaui Maskulinitas Qur’ani: Catatan dari Konferensi American Academy of Religion (AAR) 2025

    Menjaga Kelestarian Alam

    Membangun Kesadaran Sejak Dini untuk Menjaga Kelestarian Alam

    Disabilitas

    Disabilitas, Trilogi KUPI, dan Perjuangan Melawan Ketidakadilan

    Pelestarian di Pesantren

    Pesantren Memiliki Peran Strategis dalam Pelestarian Lingkungan

    Pemerintah

    Pemerintah dan Masyarakat Didorong Berkolaborasi Jaga Kelestarian Lingkungan

    sahabat tuli

    Sahabat Tuli Salatiga: Representasi Gerakan Kelompok Disabilitas

    Kerusakan Lingkungan

    Kerusakan Lingkungan Berdampak Luas pada Ekonomi, Sosial, dan Budaya Masyarakat

    Qawwam

    Memaknai Qawwam dalam Relasi Pernikahan: Refleksi Kewajiban Suami untuk Menafkahi Istri

    Kerusakan Lingkungan

    Indonesia Hadapi Tantangan Serius Akibat Kerusakan Lingkungan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Melampaui Maskulinitas Qur’ani: Catatan dari Konferensi American Academy of Religion (AAR) 2025

Pengalaman sebagai scholar khas Indonesia yang turut menyemarakkan wacana keperempuanan ala KUPI, mengilhamkan saya perspektif sedikit berbeda.

Ainun Nadzifah Ainun Nadzifah
15 Januari 2026
in Personal
0
American Academy of Religion

American Academy of Religion

414
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Udara November di Boston terasa menusuk tulang, namun tidak semembeku rasa gentar saya sebagai peserta baru di Arena American Academy of Religion (AAR) 2025. Sebagai scholar pemula dari Indonesia, saya menyadari ini adalah baptisan api intelektual.

Sebuah forum para pemikir terkemuka dunia berkumpul, berdebat, dan mengkonstruk ulang sebuah wacana. Ruang konferensi dipenuhi para professor yang namanya biasa saya temui dalam footnote jurnal akademis. Sehingga menciptakan atmosfer yang sama sekali tidak biasa. Gugup pasti, tetapi rasa bangga menyeruak pastinya.

Di antara ratusan panel yang berlangsung, satu sesi khusus menarik perhatian saya: presentasi Dr. Celene Ibrahim tentang buku “Women, Households and the Hereafter in the Quran” karya Karen Bauer dan Feras Hamza. Duduk di barisan belakang, saya menyaksikan bagaimana Dr. Ibrahim dengan cemerlang memetakan lanskap pemikiran buku yang ia sebut sebagai terobosan dalam studi gender dan Al-Qur’an.

Pilihan sesi ini bukanlah kebetulan, ia merepresentasikan persimpangan antara minat akademis saya dalam dekonstruksi wacana phallocentrism dengan kajian Al-Qur’an kontekstual. Dr. Celene Ibrahim mendedah kekuatan buku itu pada 2 hal utama.

Pertama, buku ini berhasil menyatukan pendekatan kronologis perkembangan wahyu dari periode Mekkah ke Madinah dengan analisis gender kritis. Yaitu bagaimana Al-Qur’an secara aktif merekonfigurasi hierarki sosial saat itu.

Kedua, kontribusi buku ini pada konsep Maskulinitas Qur’ani. Kekuasaan laki laki elite dalam struktur sosial kita pahami sebagai amanah beserta tanggung jawab etika dan spiritual yang berat. Bahwa kekuasaan dalam Islam tidak semata privilege, tapi penuh konsekuensi yang menentukan nasib akhir hingga di akhirat. “kekuasaan lebih, pastinya mendatangkan tanggung jawab lebih“.

Pendekatan ini, menjawab kecenderungan analisis feminis yang melihat power sebagai sesuatu yang negatif. Penekanan dimensi tanggung jawab dan akuntabilitas akhirat dimaksudkan membangun kerangka etik Islami yang lebih holistik dalam memahami relasi gender.

Pandangan Alternatif dari Tepian

Sebagai new member di dunia akademis global, saya menghargai kedalaman analisis yang tersampaikan oleh Dr. Ibrahim sekaligus karya Bauer dan Hamza. Namun dari sudut kajian saya yang fokus pada kritik phallocentrism, saya menemukan celah untuk tidak sepenuhnya sepaham. Pengalaman sebagai scholar khas Indonesia yang turut menyemarakkan wacana keperempuanan ala KUPI, mengilhamkan saya perspektif sedikit berbeda.

Konsep Maskulinitas Qur’ani yang menekankan kekuasaan disertai tanggung jawab lebih berat, meski terdengar sangat etis progresif, pada dasarnya masih berputar pada pusat yang sama: male centric.

Yang mengganggu saya adalah bagaimana seluruh diskusi tentang etika berkeluarga dan relasi gender masih terpusat pada bagaimana seharusnya laki laki berkuasa. Bukan pada bagaimana membangun relasi yang setara di luar logika kuasa.

Bukankah dengan terus membahas dan “merehabilitasi” maskulinitas, kita justru mengukuhkan asumsi bahwa pengalaman laki laki lah yang menjadi patokan memahami teks suci? Akankah tercipta efektivitas strategi, jika kita masih terus berputar putar dalam kerangka power yang ingin kita kritisi.

Melampaui Kerangka Maskulinitas

Dalam logika phallocentrism, konsep tanggung jawab yang melekat pada kekuasaan laki laki menjadi cara halus melegitimasi struktur. Menempatkan hanya laki laki yang layak sebagai pemimpin dan pelindung tidak pernah benar benar tergugat esensinya.

Padahal, fokus tujuan adalah pada apakah kerangka penguasaan itu sudah benar dan perlu kita dekonstruksi. Membaca Al-Qur’an dengan kacamata phallocentrism criticism mengajarkan kita untuk bertanya. Mungkinkah kita membangun relasi yang benar benar setara tanpa harus terjebak dalam wacana tentang “cara berkuasa yang benar?”

Maskulinitas Qur’ani seberapapun sophisticatednya, masih terjebak dalam permainan logika kuasa patriarkal. Lebih mengkhawatirkan, penekanan berlebihan pada tanggung jawab justru menjadi alat justifikasi mempertahankan struktur ketidaksetaraan. Dalam praktik, konsep tanggung jawab sering digunakan untuk membenarkan ketimpangan wewenang, sedikit sekali yang dipertanggungjawabkan dalam relasi penuh kesetaraan.

Menuju Visi Kesalingan Relasional

Lantas alternatif apa yang bisa kita tawarkan? Berdasar sedikit yang saya ketahui tentang kritik phallocentrism, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana melampaui kerangka maskulinitas itu sendiri. Meski dalam bentuk yang paling etis dan bertanggung jawab. Kita perlu berani membayangkan epistemologi tafsir yang tidak lagi terpenjara dalam dikotomi subjek objek, pemimpin dipimpin, pelindung dilindungi. Sebab keduanya bisa saling bertukar peran.

Saatnya kita bergeser kepada eksplorasi visi Al-Qur’an tentang kesalingan, kerjasama, dan relasi spiritual yang tidak lagi memerlukan label maskulin atau feminin. Bermunculan pertanyaan dalam kepala saya: Bagaimana membaca konsep kepemimpinan keluarga tanpa terjebak binary pemimpin dipimpin?

Mungkinkah memahami relasi gender dalam Al-Qur’an melalui lensa tafsir yang terbebas dari kerangka phallocentric? Apakah mufassir kontemporer sudah cukup berani membayangkan relasi manusia tanpa sandaran logika kuasa dalam bentuk apapun?

Dalam konteks ini, pengalaman Muslim di Global South termasuk Indonesia, bisa memberikan kontribusi penting. Tradisi tafsir Nusantara yang lebih mengedepankan nilai dan harmoni kesalingan daripada otoritas dan kontrol, bisa menjadi sumber inspirasi untuk membangun kerangka alternatif. Kita perlu mendorong lebih banyak scholar nusantara untuk mengeksplorasi peluang tafsir yang benar benar mencerahkan, bukan sekadar merekonfigurasi.

Dari Boston ke Masa Depan Studi Qur’an

Pengalaman pertama di AAR 2025 ini mengajarkan saya bahwa ruang akademik yang sehat adalah yang menghargai pencapaian intelektual sekaligus membuka diri untuk kritik yang membangun. “Women, Households and the Hereafter in the Quran” adalah karya penting yang memajukan wacana studi Qur’an kontemporer dan berhasil membawa diskusi tentang gender Islam ke level yang lebih sophisticated.

Sebagai scholar pemula dari dunia Muslim yang tengah bertransformasi, tugas kita adalah terus mendorong batas batas wacana lebih jauh. Jika Bauer dan Hamza berhasil merekonfigurasi pembacaan tentang gender dalam Qur’an, maka langkah berikutnya adalah melampaui konfigurasi itu sendiri.

Perjalanan pemikiran dari ruang konferensi Boston memunculkan keberanian untuk berdiri meski di tepian, mendengarkan dengan hormat namun tetap kritis mencerna, lalu menawarkan perspektif yang mungkin berbeda untuk semakin memajukan studi Islam.

Kritik terhadap phallocentrism dalam tafsir bukanlah akhir, melainkan rangkaian dari beragam pencarian metode penafsiran yang lebih adil dan membebaskan bagi semua pihak, tidak terkecuali laki laki yang juga terpenjara dalam logika kuasa maskulin dominan sesamanya. []

 

Tags: AAR 2025American Academy of Religioncatatan perjalananGenderMerebut TafsirRelasi
Ainun Nadzifah

Ainun Nadzifah

Mahasiswi Doktoral PKUMI yang saat ini melaksanakan Short Course di UCR atas rekomendasi PKUMI, LPDP dan PTIQ Jakarta.

Terkait Posts

Titik Nol Kehidupan
Keluarga

Menyusun Ulang Harapan: Kisah Istri di Titik Nol Kehidupan

13 Januari 2026
Pencatatan Perkawinan
Publik

Pentingnya Pencatatan Perkawinan sebagai Bentuk Perlindungan Hak Anak dan Perempuan

13 Januari 2026
Kenapa Masih Ada Perceraian
Personal

Kenapa Masih Ada Perceraian? Bukankah Allah Berjanji, Orang Baik untuk Orang Baik?

12 Januari 2026
Masak Bukan Kodrat
Personal

Masak Bukan Kodrat: Kampanye Kesetaraan Gender

12 Januari 2026
Isu Orang Ketiga
Keluarga

Menikah Kok Gitu Sih? Peliknya Rumah Tangga, Karena Isu Orang Ketiga

10 Januari 2026
Aktivis Perempuan
Publik

Aktivis Perempuan Dorong Tafsir Islam yang Berkeadilan Gender

9 Januari 2026
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Real Food

    Real Food, Krisis Ekologi, dan Ancaman di Meja Makan Kita

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sahabat Tuli Salatiga: Representasi Gerakan Kelompok Disabilitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah dan Masyarakat Didorong Berkolaborasi Jaga Kelestarian Lingkungan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Hadapi Tantangan Serius Akibat Kerusakan Lingkungan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kerusakan Lingkungan Berdampak Luas pada Ekonomi, Sosial, dan Budaya Masyarakat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Melampaui Maskulinitas Qur’ani: Catatan dari Konferensi American Academy of Religion (AAR) 2025
  • Membangun Kesadaran Sejak Dini untuk Menjaga Kelestarian Alam
  • Disabilitas, Trilogi KUPI, dan Perjuangan Melawan Ketidakadilan
  • Pesantren Memiliki Peran Strategis dalam Pelestarian Lingkungan
  • Dalam Keheningan yang Tak Lagi Menakutkan: Reading Note’s Broken Strings

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID