Mubadalah.id – Udara November di Boston terasa menusuk tulang, namun tidak semembeku rasa gentar saya sebagai peserta baru di Arena American Academy of Religion (AAR) 2025. Sebagai scholar pemula dari Indonesia, saya menyadari ini adalah baptisan api intelektual.
Sebuah forum para pemikir terkemuka dunia berkumpul, berdebat, dan mengkonstruk ulang sebuah wacana. Ruang konferensi dipenuhi para professor yang namanya biasa saya temui dalam footnote jurnal akademis. Sehingga menciptakan atmosfer yang sama sekali tidak biasa. Gugup pasti, tetapi rasa bangga menyeruak pastinya.
Di antara ratusan panel yang berlangsung, satu sesi khusus menarik perhatian saya: presentasi Dr. Celene Ibrahim tentang buku “Women, Households and the Hereafter in the Quran” karya Karen Bauer dan Feras Hamza. Duduk di barisan belakang, saya menyaksikan bagaimana Dr. Ibrahim dengan cemerlang memetakan lanskap pemikiran buku yang ia sebut sebagai terobosan dalam studi gender dan Al-Qur’an.
Pilihan sesi ini bukanlah kebetulan, ia merepresentasikan persimpangan antara minat akademis saya dalam dekonstruksi wacana phallocentrism dengan kajian Al-Qur’an kontekstual. Dr. Celene Ibrahim mendedah kekuatan buku itu pada 2 hal utama.
Pertama, buku ini berhasil menyatukan pendekatan kronologis perkembangan wahyu dari periode Mekkah ke Madinah dengan analisis gender kritis. Yaitu bagaimana Al-Qur’an secara aktif merekonfigurasi hierarki sosial saat itu.
Kedua, kontribusi buku ini pada konsep Maskulinitas Qur’ani. Kekuasaan laki laki elite dalam struktur sosial kita pahami sebagai amanah beserta tanggung jawab etika dan spiritual yang berat. Bahwa kekuasaan dalam Islam tidak semata privilege, tapi penuh konsekuensi yang menentukan nasib akhir hingga di akhirat. “kekuasaan lebih, pastinya mendatangkan tanggung jawab lebih“.
Pendekatan ini, menjawab kecenderungan analisis feminis yang melihat power sebagai sesuatu yang negatif. Penekanan dimensi tanggung jawab dan akuntabilitas akhirat dimaksudkan membangun kerangka etik Islami yang lebih holistik dalam memahami relasi gender.
Pandangan Alternatif dari Tepian
Sebagai new member di dunia akademis global, saya menghargai kedalaman analisis yang tersampaikan oleh Dr. Ibrahim sekaligus karya Bauer dan Hamza. Namun dari sudut kajian saya yang fokus pada kritik phallocentrism, saya menemukan celah untuk tidak sepenuhnya sepaham. Pengalaman sebagai scholar khas Indonesia yang turut menyemarakkan wacana keperempuanan ala KUPI, mengilhamkan saya perspektif sedikit berbeda.
Konsep Maskulinitas Qur’ani yang menekankan kekuasaan disertai tanggung jawab lebih berat, meski terdengar sangat etis progresif, pada dasarnya masih berputar pada pusat yang sama: male centric.
Yang mengganggu saya adalah bagaimana seluruh diskusi tentang etika berkeluarga dan relasi gender masih terpusat pada bagaimana seharusnya laki laki berkuasa. Bukan pada bagaimana membangun relasi yang setara di luar logika kuasa.
Bukankah dengan terus membahas dan “merehabilitasi” maskulinitas, kita justru mengukuhkan asumsi bahwa pengalaman laki laki lah yang menjadi patokan memahami teks suci? Akankah tercipta efektivitas strategi, jika kita masih terus berputar putar dalam kerangka power yang ingin kita kritisi.
Melampaui Kerangka Maskulinitas
Dalam logika phallocentrism, konsep tanggung jawab yang melekat pada kekuasaan laki laki menjadi cara halus melegitimasi struktur. Menempatkan hanya laki laki yang layak sebagai pemimpin dan pelindung tidak pernah benar benar tergugat esensinya.
Padahal, fokus tujuan adalah pada apakah kerangka penguasaan itu sudah benar dan perlu kita dekonstruksi. Membaca Al-Qur’an dengan kacamata phallocentrism criticism mengajarkan kita untuk bertanya. Mungkinkah kita membangun relasi yang benar benar setara tanpa harus terjebak dalam wacana tentang “cara berkuasa yang benar?”
Maskulinitas Qur’ani seberapapun sophisticatednya, masih terjebak dalam permainan logika kuasa patriarkal. Lebih mengkhawatirkan, penekanan berlebihan pada tanggung jawab justru menjadi alat justifikasi mempertahankan struktur ketidaksetaraan. Dalam praktik, konsep tanggung jawab sering digunakan untuk membenarkan ketimpangan wewenang, sedikit sekali yang dipertanggungjawabkan dalam relasi penuh kesetaraan.
Menuju Visi Kesalingan Relasional
Lantas alternatif apa yang bisa kita tawarkan? Berdasar sedikit yang saya ketahui tentang kritik phallocentrism, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana melampaui kerangka maskulinitas itu sendiri. Meski dalam bentuk yang paling etis dan bertanggung jawab. Kita perlu berani membayangkan epistemologi tafsir yang tidak lagi terpenjara dalam dikotomi subjek objek, pemimpin dipimpin, pelindung dilindungi. Sebab keduanya bisa saling bertukar peran.
Saatnya kita bergeser kepada eksplorasi visi Al-Qur’an tentang kesalingan, kerjasama, dan relasi spiritual yang tidak lagi memerlukan label maskulin atau feminin. Bermunculan pertanyaan dalam kepala saya: Bagaimana membaca konsep kepemimpinan keluarga tanpa terjebak binary pemimpin dipimpin?
Mungkinkah memahami relasi gender dalam Al-Qur’an melalui lensa tafsir yang terbebas dari kerangka phallocentric? Apakah mufassir kontemporer sudah cukup berani membayangkan relasi manusia tanpa sandaran logika kuasa dalam bentuk apapun?
Dalam konteks ini, pengalaman Muslim di Global South termasuk Indonesia, bisa memberikan kontribusi penting. Tradisi tafsir Nusantara yang lebih mengedepankan nilai dan harmoni kesalingan daripada otoritas dan kontrol, bisa menjadi sumber inspirasi untuk membangun kerangka alternatif. Kita perlu mendorong lebih banyak scholar nusantara untuk mengeksplorasi peluang tafsir yang benar benar mencerahkan, bukan sekadar merekonfigurasi.
Dari Boston ke Masa Depan Studi Qur’an
Pengalaman pertama di AAR 2025 ini mengajarkan saya bahwa ruang akademik yang sehat adalah yang menghargai pencapaian intelektual sekaligus membuka diri untuk kritik yang membangun. “Women, Households and the Hereafter in the Quran” adalah karya penting yang memajukan wacana studi Qur’an kontemporer dan berhasil membawa diskusi tentang gender Islam ke level yang lebih sophisticated.
Sebagai scholar pemula dari dunia Muslim yang tengah bertransformasi, tugas kita adalah terus mendorong batas batas wacana lebih jauh. Jika Bauer dan Hamza berhasil merekonfigurasi pembacaan tentang gender dalam Qur’an, maka langkah berikutnya adalah melampaui konfigurasi itu sendiri.
Perjalanan pemikiran dari ruang konferensi Boston memunculkan keberanian untuk berdiri meski di tepian, mendengarkan dengan hormat namun tetap kritis mencerna, lalu menawarkan perspektif yang mungkin berbeda untuk semakin memajukan studi Islam.
Kritik terhadap phallocentrism dalam tafsir bukanlah akhir, melainkan rangkaian dari beragam pencarian metode penafsiran yang lebih adil dan membebaskan bagi semua pihak, tidak terkecuali laki laki yang juga terpenjara dalam logika kuasa maskulin dominan sesamanya. []




















































