Mubadalah.id – Pendidikan merupakan salah satu kunci utama dalam upaya menjaga kelestarian alam secara berkelanjutan. Pembentukan pola pikir dan kebiasaan sejak dini dianggap lebih efektif dibandingkan pendekatan yang hanya bersifat reaktif.
Kesadaran lingkungan tidak muncul secara instan. Ia perlu dibangun melalui proses pendidikan yang terus-menerus, baik di sekolah, keluarga, maupun lembaga sosial. Nilai-nilai tentang tanggung jawab terhadap alam harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di lingkungan pendidikan, pembiasaan perilaku ramah lingkungan setidaknya dapat membentuk karakter peserta didik. Mulai dari membuang sampah pada tempatnya, menghemat air dan listrik, hingga menjaga kebersihan ruang bersama, semua menjadi praktik sederhana yang berdampak besar.
Pesantren, sebagai salah satu lembaga pendidikan yang hidup bersama dengan para santrinya selama 24 jam memiliki keunggulan dalam membentuk kebiasaan ini. Semua aktivitas, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, dapat kita arahkan untuk memiliki kepedulian terhadap alam.
Para ahli menyebut bahwa pendidikan lingkungan tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada praktik. Tanpa praktik nyata, kesadaran hanya akan menjadi wacana.
Dampak jangka panjang dari pendidikan lingkungan adalah terbentuknya generasi yang tidak hanya memahami pentingnya pelestarian alam. Tetapi juga mau terlibat aktif di dalamnya. Generasi ini kita harapkan mampu menjadi agen perubahan di tengah krisis ekologis global.
Dengan pendekatan ini, maka menjaga kelestarian alam tidak lagi menjadi beban, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab kolektif manusia terhadap kehidupan itu sendiri. []
Sumber tulisan: Buku Membumikan Fatwa KUPI: Pembelajaran dari Pengelolaan Sampah di Pesantren.

















































