Mubadalah.id – Belakangan ini, ruang digital kembali ramai oleh perdebatan tentang utas dakwah yang menyinggung pentingnya tauhid di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu. Dalam utas tersebut, sang Ustadz menyampaikan bahwa pada hakikatnya Allah sudah menjamin rezeki para makhluk-Nya, terlepas ketika dolar sedang naik atau turun. Ia juga mengingatkan bahwa sesuatu yang sudah menjadi rezeki tidak akan pernah tertukar maupun diambil orang lain.
Pesan tersebut memunculkan beragam respons. Sebagian orang menyambutnya sebagai nasihat yang menyejukkan. Mereka menilai bahwa di tengah situasi yang penuh kecemasan, masyarakat memang membutuhkan penguatan iman agar tidak larut dalam ketakutan.
Bagi kelompok ini, begitulah peran seorang ustadz sebagai pendakwah yang mengingatkan umat untuk kembali kepada tauhid. Setiap muslim hendaknya selalu melibatkan Tuhan dalam berbagai aktivitas, tindakan, dan dalam berbagai keadaan.
Namun, tidak sedikit pula kontra-narasi yang muncul. Mereka menganggap dakwah semacam itu kurang menyentuh akar persoalan yang masyarakat hadapi saat ini. Ketika publik tengah menghadapi tekanan ekonomi, kenaikan harga kebutuhan hidup, dan berbagai persoalan sosial lainnya, mereka berharap suara agama tidak hanya mengajak masyarakat bersabar, tetapi juga berani menyoroti akar masalah dari penderitaan tersebut.
Perbedaan respons ini menunjukkan bahwa perdebatan yang terjadi sebenarnya bukan semata-mata tentang isi sebuah utas. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana peran dan fungsi dakwah di tengah situasi krisis sekarang ini.
Tauhid sebagai Landasan Dakwah
Dalam tradisi Islam, tauhid memiliki posisi yang sangat fundamental. Tauhid bukan sekadar keyakinan bahwa Allah adalah satu, melainkan juga kesadaran bahwa kehidupan manusia berada dalam kekuasaan-Nya. Kesadaran inilah yang melahirkan ketenangan batin ketika seseorang menghadapi berbagai ketidakpastian.
Sebagai landasan ketika berdakwah, tauhid menjadi dasar penting, apalagi saat menghadapi krisis. Ketika harga kebutuhan pokok naik, lapangan pekerjaan menyempit, atau kondisi ekonomi terasa semakin sulit, manusia membutuhkan pegangan yang membuatnya tetap mampu berdiri tegak. Tauhid memberikan ruang kepada manusia untuk selalu melanjutkan hidup. Terlebih, belakangan ini lebih dari 1.270 kasus bunuh diri terjadi sejak November 2025 akibat tuntutan ekonomi maupun dari tekanan yang lain (UGM, 2026).
Karena itu, tidak berlebihan jika banyak orang memandang dakwah tentang tauhid sebagai kebutuhan yang mendesak. Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan solusi teknis. Ketahanan mental dan spiritual menjadi salah satu hal yang tidak kalah penting untuk menghadapi situasi yang berat. Dalam konteks ini, ajakan untuk meningkatkan keimanan, terutama tentang rezeki, memiliki makna yang sangat relevan.
Krisis Sosial dan Keimanan: Di mana Fungsi Dakwah?
Menjadi lebih menarik ketika dakwah tentang ketauhidan muncul dalam situasi krisis dengan beragam krisis sosial yang terjadi. Saat masyarakat berhadapan dengan ketidakpastian, apakah dakwah hanya menyeru pada kedamaian batin? Yang berbicara soal janji-janji manis akhirat yang kerap meninabobokkan?
Di sinilah respons kritik yang muncul juga layak kita pahami. Sebab, krisis tidak selalu hadir sebagai peristiwa alamiah yang datang begitu saja. Sering kali, krisis berkaitan dengan keputusan politik, tata kelola kekuasaan, atau berbagai bentuk ketidakadilan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Karena itu, sebagian publik berharap bahwa para pendakwah juga punya keberanian moral untuk membicarakan permasalahan-permasalahan tersebut. Mereka ingin melihat agama tidak hanya hadir sebagai pelipur kesedihan, tetapi juga sebagai suara yang membela kepentingan masyarakat terdampak.
Muhsinah (2024) juga menegaskan bahwa di era modern ini, dakwah berfungsi sebagai instrumen transformasi sosial. Tujuannya tentu untuk membangun kesadaran kolektif dan moralitas di kalangan individu maupun komunitas. Dakwah menjadi proses komunikasi sistematis untuk memperbaiki struktur sosial, memperkuat nilai-nilai moral, dan menginternalisasi ajaran Islam dalam perilaku sosial sehari-hari. Di sinilah dakwah berfungsi sebagai seruan yang membebaskan.
Spirit Teologi Pembebasan
Pada tahap ini, gagasan teologi pembebasan sepertinya perlu kita ingat-ingat kembali. Teologi pembebasan lahir dari keyakinan bahwa agama tidak boleh berhenti pada urusan spiritual semata. Agama juga harus hadir dalam perjuangan melawan ketidakadilan, kemiskinan, penindasan, dan berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan.
Dalam perspektif ini, tauhid tidak hanya kita pahami sebagai hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Tauhid juga memiliki konsekuensi sosial. Jika semua manusia sama di hadapan Tuhan, maka tidak boleh ada sistem yang membiarkan sebagian orang menikmati privilese berlebihan sementara yang lain menanggung beban yang berat.
Seorang pemikir Islam, Asghar Ali Engineer, menegaskan bahwa persoalan seperti kemiskinan bukanlah takdir Tuhan yang tidak bisa diubah. Ada “kemiskinan struktural” akibat sistem ekonomi-politik yang represif. Maka, dalam hal ini dakwah sejati adalah perjuangan (jihad) melawan segala hal yang menyebabkan kemiskinan dan eksploitasi tersebut.
Lagi-lagi, tauhid sebagai landasan dakwah harusnya mengemban misi semangat pembebasan. Sebuah spirit yang membebaskan manusia dari rasa takut kepada selain Allah, sekaligus mendorong keberanian untuk memperjuangkan keadilan.
Dua Dimensi yang Beriringan
Dalam sejarah Islam, dakwah tauhid tentang peningkatan keimanan dan semangat pembebasan merupakan dua dimensi yang sesungguhnya berjalan beriringan. Para nabi mengajarkan tauhid sekaligus mengkritik ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat. Mereka menguatkan hati orang-orang yang tertindas, tetapi pada saat yang sama juga menegur para pemegang kekuasaan yang berlaku sewenang-wenang.
Karena itu, perdebatan yang muncul akibat sebuah utas dakwah seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang lebih penting adalah bagaimana dakwah dapat terus relevan dengan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks.
Di tengah krisis, masyarakat memang membutuhkan dakwah yang mengajarkan keimanan. Namun, masyarakat juga membutuhkan dakwah yang menunjukkan keberpihakan terhadap nilai-nilai keadilan. Ketika keduanya berjalan bersama, tauhid akan menjadi sumber ketenangan batin, sekaligus energi moral yang mendorong lahirnya masyarakat yang lebih adil dan bermartabat. []











































