Mubadalah.id – Pada bulan Februari 2026 lalu, saya mengikuti Webinar Menulis Pengalaman Perempuan yang dinarasumberi oleh Kalis Mardiasih, seorang penulis sekaligus konten kreator. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Belajarliterasi.id.
Rasanya insightfull sekali bisa mengikuti kelasnya Mbak Kalis di bulan Ramadan ini. Bukan hanya mendapatkan pengetahuan baru tentang teknis menulis. Tetapi juga cara pandang baru tentang bagaimana menuliskan dan mengapa penting menuliskan pengalaman perempuan.
Webinar ini diawali dengan mengenalkan penulis-penulis perempuan beserta karya-karyanya yang keren. Ada penulis fiksi, ada juga penulis ilmiah. Hal ini cukup mengejutkan bagi saya, karena biasanya webinar yang saya ikuti dibuka dengan definisi atau teori.
Namun kali ini berbeda. Webinar ini justru dibuka dengan memperkenalkan perempuan-perempuan penulis. Buat saya, ini hal baru. Dan jujur saja, jarang saya menemukan pola seperti itu.
Menurut Mbak Kalis, cara menulis pengalaman perempuan dimulai dengan membaca karya-karya perempuan lain. Itu adalah bentuk solidaritas. Sebelum akhirnya kita bersuara, kita perlu belajar untuk mendengarkan.
Sebelum kita menulis, kita juga perlu untuk belajar membaca perempuan lain. Dari situ saya merasa kalau ternyata menulis itu bukan hanya soal kemampuan individu, tetapi juga soal keberpihakan.
2 Hal Penting
Lalu ada dua hal yang menurut saya paling menarik dari webinar kali ini, mengapa menulis pengalaman perempuan itu penting?
Ada beberapa point penting dan pengetahuan baru yang disampaikan oleh Mbak Kalis yang cukup membekas bagi saya.
Pertama, ketika kita menulis, dampaknya bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk diri kita sendiri. Menulis bisa membuat kita lebih berdaya. Ada rasa lega ketika pengalaman yang selama ini mungkin hanya kita simpan sendiri dan pada akhirnya punya ruang untuk keluar.
Ada rasa empower ketika kita sadar bahwa cerita kita layak mereka dengar. Bahkan, tulisan kita bisa menyelamatkan orang lain. Bisa jadi apa yang kita anggap biasa, ternyata sangat berarti bagi perempuan lain yang sedang mengalami hal serupa.
Kedua, pengalaman perempuan adalah pengetahuan. Dan pengetahuan itu valid. Karena pengalaman tersebut hanya kita yang mengalaminya. Bisa jadi suatu hari nanti, jika para ahli, akademisi, atau peneliti mengutip tulisan kita. Tapi sumber awalnya tetap pengalaman otentik yang kita tulis sendiri.
Dari situ saya belajar bahwa perempuan tidak hanya menjadi objek cerita, tetapi juga produsen pengetahuan.
Misalnya pengalaman biologis perempuan yang sangat dekat dengan tubuhnya sendiri. Misalnya setelah melahirkan dan menyusui, tubuh perempuan mengalami perubahan, payudara membesar, bentuk tubuh berubah, kadang muncul stretch mark. Itu pengalaman biologis yang nyata.
Nah tapi, seringkali perubahan seperti itu tidak hanya berhenti pada tubuh, tetapi juga menjadi komentar sosial, standar kecantikan, atau penilaian orang lain. Dari situ kita bisa melihat bahwa pengalaman perempuan, salah satunya pengalaman biologisnya itu tidak pernah sesederhana yang sering kita lihat.
Harus Berani dan Percaya Diri
Mbak Kalis juga menekankan bahwa kita harus berani dan percaya diri untuk menuliskan pengalaman perempuan. Kita tidak perlu menunggu menjadi ahli dulu. Tidak perlu merasa cerita kita terlalu biasa. Justru dari pengalaman yang paling personal, sering lahir pengetahuan yang paling jujur dan unik.
Hal ini menjadi catatan penting dan refleksi panjang bagi saya. Seringkali kita lupa bahwa perempuan juga mempunyai banyak potensi, mempunyai banyak karya, mempunyai banyak gagasan.
Namun dalam ruang publik, yang sering terekspos tetap saja laki-laki. Bukan berarti perempuan tidak ada, tetapi mungkin suaranya belum cukup didorong untuk muncul.
Padahal pengalaman unik perempuanlah perlu kita ketahui bersama, penting untuk kita catat, dan perlu untuk kita baca.
Dari webinar ini, saya juga termotivasi untuk membuat karya-karya fiksi yang memiliki keberpihakan kepada perempuan. Bukan hanya menulis cerita, tetapi menghadirkan pengalaman perempuan sebagai bagian penting dari narasi yang lebih luas.
Karena itu, untuk seluruh perempuan, mari untuk berani dan percaya diri, jangan takut untuk menyuarakan pengalaman kita. Jangan ragu untuk menuliskannya. Dari perempuan, untuk menginspirasi perempuan lain. Dan mungkin, dari satu tulisan kecil kita bisa lahir keberanian-keberanian lain yang lebih besar. []







































