Mubadalah.id – Tepat hampir seminggu berlalu kegiatan ‘Nyadran Perdamaian 2026’ berlangsung di Dusun Krecek dan Gletuk, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Perjumpaan telah berakhir, namun pesan kesan tentang relasi antar umat beragama dan hidup selaras dengan alam terpatri dalam ingatan.
Datang dan tinggal empat hari di dusun, bukan hanya untuk memanjakan mata dengan pemandangan hijau dan gunung yang menjulang gagah. Tetapi juga melihat bagaimana masyarakatnya menjalani kehidupan. Khususnya saat mempersiapkan ritual nyadran makam. Tempat ini menjadi titik temu masyarakat dari dua dusun penganut agama yang beragam (Islam, Budha, dan Kristen).
Sebuah momentum berharga untuk melihat secara langsung laboratorium kehidupan antar umat beragama. Bukan dari buku dan teori, tetapi dari laku kehidupan sehari-hari yang mengakar sejak zaman leluhur. Itu lah mengapa masyarakat di sana menghormati dan berkirim do’a kepada para sesepuhnya melalui nyadran makam. Hingga kemudian termaknai lebih dalam dengan pemberian istilah ‘Nyadran Perdamaian’ di Dusun Krecek dan Gletuk.
Merasakan ‘Damai’ Relasi Antar Umat Beragama
Di balik meriahnya Nyadran Perdamaian 2026 yang terlaksana setiap tahunnya, saya bertanya pada induk semang alias tuan rumah tempat para peserta menetap selama kegiatan. “Apa yang membuat masyarakat secara sukarela untuk menyambut para tamu dan dengan suka cita mempersiapkan ritual nyadran dengan baik?” tanya saya.
Lalu ia menjawab, “Karena ini adalah tradisi yang sudah ada dan kami lestarikan sejak dulu, mbak. Dan kami senang menyambut tamu untuk menambah persaudaraan.’”Jawabnya dalam bahasa Jawa Krama Inggil. Induk semang yang saya tempati adalah keluarga yang menganut agama Budha di Dusun Gletuk.
Umat Buddha atau Buddhists di sana meyakini bahwa ‘surga’ adalah imanen (kini). Letaknya tidak jauh di akhirat. Tetapi hadir dalam keseharian lewat kebaikan dan keseimbangan hidup. Gagasan reinkarnasi yang mereka anut juga menegaskan pentingnya memperlakukan sesama makhluk dengan hormat, karena semua memiliki siklus kehidupan dan karma.
Pun juga dengan umat Muslim di sana. Mereka meyakini bahwa kebaikan sosial adalah kunci untuk bisa membawa kebahagiaan pasca kematian. Lalu terimbangi dengan kebaikan ritual dan spiritual, sebagaimana yang telah para leluhur ajarkan.
Nilai-nilai sosial-spiritual ini ternyata yang menyelaraskan kehidupan antar umat beragama di sana, untuk saling menjaga keamanan holistik, menciptakan kedamaian, dengan tanpa meninggalkan tradisi menghormati leluhur.
Tak heran mengapa di satu keluarga, anggotanya menganut keyakinan dan agama yang berbeda-beda, tetapi mereka hidup damai, serta tetap guyub dalam melestarikan budaya dan tradisi yang ada.
Menilik Nilai ‘Eco-Spiritualitas’ Relasi Makhluk dan Alam
Suatu hari saya bertanya pada induk semang, “Apakah di sini pernah banjir atau longsor, Pak?” Jawab beliau, “Hampir tidak pernah, Mbak.” Hal ini terafirmasi dengan rimbunnya pepohonan di dusun ini, dan jarang terlihat ada aktivitas penebangan. Diperkuat juga dengan pernyataan menantu induk semang di rumah yang saya tempati, ‘… di sini kalau ada orang yang mau membangun wisata, kafe, dan lain-lain kadang masyarakat tolak Mbak. Belum ada sih investor yang datang.”
Saya tidak banyak mengkonfirmasi tentang ini, tetapi saya menangkap pesan bahwa masyarakat masih mempertahankan kelestarian lingkungan sekitarnya. Selain itu, mereka juga masih meyakini bahwa setiap sumber-sumber kehidupan, seperti pepohonan, sumber mata air, dan lainnya itu terdapat sosok Danyang. Leluhur penjaga spiritual yang menjaganya.
Sosok Danyang laki-laki yang diyakini di Getas bernama mbah Kuncung dan mbah Truno. Sedangkan Danyang perempuan ada Nyai Natyono, Mbah Srinah, Surati, Ponirah, Nyai Suki, dan lainnya. Itu lah alasan mengapa masyarakat dusun masih rutin memberikan sesajen, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur penjaga alam kehidupan.
Sesajen di sini termaknai sebagai wujud hubungan eco-spiritual, untuk merawat ekosistem relasi antara makhluk dan alam, untuk meminta maaf pada makhluk kecil dan tak kasat mata. Selain itu juga menjadi sarana ‘kulo nuwun’ atau meminta izin dan restu pada siapapun yang sejatinya ada di sekeling kehidupan kita.
Agensi Perempuan dari Bilik Dapur Tradisi Nyadran
Sepanjang tinggal bersama masyarakat di sana, saya lebih banyak mengorbrol dengan induk semang kami di dapur. Setiap keluarga mempersiapkan beragam olahan makanan dan sesajen yang akan mereka bawa di perayaan nyadran.
Di balik stigma dapur yang melekat sebagai simbol domestikasi perempuan hari ini. Namun dari bilik dapur sebetulnya kita bisa membaca ulang realitas sesuai konteks masyakarat tinggal. Sesuai dengan teori geneologinya Michael Foucault, yang bisa kita gunakan sebagai metode untuk penelusuran terhadap asal-usul pengetahuan, wacana, dan praktik sosial secara historis.
Sebagaimana yang sudah saya sampaikan, bahwa masyarakat dusun sangat menghormati tradisi dan leluruh, yang salah satunya melalui praktek sesajen dan ritual tradisi lainnya. Maka dari bilik dapur kita bisa melihat bahwa perempuan sangat berperan penting sebagai penjaga kehidupan.
Para perempuan memiliki agensi sebagai penghubung antara relasi makhluk dengan leluhur melalui sesajen khusus yang mereka siapkan. Di buku I Panduan Nyadran Perdamaian ‘Belajar Pengetahuan Lokal Tentang Damai, Selaras, dan Setara’ yang Yuniyanti Chuzaifah tulisan, ada penjelasan bahwa perempuan banyak berperan sebagai penjaga spiritual keluarga.
Misalnya dalam tradisi umat Islam di Glethuk, kalau kita amati kepemimpinan di ruang domestik, perempuan memimpin pilihan spiritual keluarganya, baik suami yang ikut agama isteri, maupun anak-anaknya. Hal yang sama berlaku juga di umat Budha dan Kristen, di mana dalam ruang domestik, perempuan mengambil banyak peran sebagai leadership spiritual.
Bahkan, masyarakat di sana juga meyakini adanya sosok Dewi sebagai penjaga sumber kehidupan. Di balik dapur nyadran, perempuan juga berperan sebagai penjaga tradisi dan transmisi nilai multi generasi. Di dapur sang ibu mengajari anak-anaknya tentang potensi pangan lokal, memasak, serta menyiapkan sesajen sebagai simbol keterhubungan yang selaras antara makhluk, alam, dan leluhur.
Memaknai Relasi Perempuan dan Laki-laki di Rumah Induk Semang
Sepanjang proses persiapan nyadran berlangsung, anggota keluarga perempuan di induk semang kami mungkin yang lebih banyak berada di dapur. Namun ini tidak lantas dimaknai sebagai domestikasi. Kala itu saya bertanya, “Kalau bapak sehari-hari ngapain, bu?’ Lantas ia menjawab ‘Bapak cari rumput di ladang dan hutan, mbak, kami memelihara 8 ekor kembing di samping rumah’.
Dari relasi sehari-hari selama empat hari itu, saya kembali menyederhanakan ulang makna relasi antar pasangan dan pembagian kerja yang dilakukan masyarakat dusun. Di mana segala sumber pangan kehidupan ada, tumbuh, dan dirawat di sekeliling rumah. Peran dan kerja relasi itu sangat fleksibel, karena mereka lebih banyak memaknai hidup dengan beyond material.
Peran kerja dalam relasi rumah tangga bukan lagi tentang siapa di dapur dan siapa di publik, tetapi lebih pada siapa yang mampu melakukan, itulah yang dia kerjakan. Jika menilik kerangka qiraah mubadalah dalam Surat An-Nisa’ Ayat 34 sebagai ayat qiwamah, sebetulnya kita bisa menarik premis bahwa ayat ini bukan sedang berbicara siapa yang paling mampu, antara laki-laki dan perempuan, lalu dia yang paling utama.
Tetapi meyakini dengan sadar bahwa setiap orang itu memiliki tanggung jawab, dan setiap orang memiliki batas kemampuannya. Sehingga pembagian tugas dan relasi antar anggota keluarga, tidak menentukan siapa yang paling utama. Bukan pada berdasarkan gender, tetapi pada kemampuan dan kemauan dari setiap individunya yang memilih secara sadar.
Dan itu lah yang saya pahami dari relasi yang terbangun di Dusun Gletuk. Bahwa sebagai manusia, yang paling utama adalah menjalin relasi yang baik selaras antar umat beragama, makhluk dengan alam semesta, maupun antar anggota keluarga. []




















































