Sabtu, 10 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Cara Pandang KUPI

    Cara Pandang Khas KUPI

    Balāghāt an-Nisā’

    Balāghāt an-Nisā’, Mendengar Suara Perempuan dalam Sastra Islam Klasik

    Tujuan KUPI

    3 Tujuan Besar KUPI: Dari Fatwa hingga Gerakan Transformatif

    Isu Orang Ketiga

    Menikah Kok Gitu Sih? Peliknya Rumah Tangga, Karena Isu Orang Ketiga

    Nikah Sirri

    7 Cara Suami Terhindar dari Pidana Nikah Sirri dan Tidak Melukai Orang yang Dicintai

    Tokenisme

    Representasi Difabel dalam Dunia Perfilman dan Bayang-bayang Tokenisme

    Aktivis Perempuan

    Aktivis Perempuan Dorong Tafsir Islam yang Berkeadilan Gender

    Kecanggihan AI

    Online Gender-Based Violence di Balik Kecanggihan AI

    Islam

    Islam, Perubahan Sosial, dan tantangan Aktivis Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Cara Pandang KUPI

    Cara Pandang Khas KUPI

    Balāghāt an-Nisā’

    Balāghāt an-Nisā’, Mendengar Suara Perempuan dalam Sastra Islam Klasik

    Tujuan KUPI

    3 Tujuan Besar KUPI: Dari Fatwa hingga Gerakan Transformatif

    Isu Orang Ketiga

    Menikah Kok Gitu Sih? Peliknya Rumah Tangga, Karena Isu Orang Ketiga

    Nikah Sirri

    7 Cara Suami Terhindar dari Pidana Nikah Sirri dan Tidak Melukai Orang yang Dicintai

    Tokenisme

    Representasi Difabel dalam Dunia Perfilman dan Bayang-bayang Tokenisme

    Aktivis Perempuan

    Aktivis Perempuan Dorong Tafsir Islam yang Berkeadilan Gender

    Kecanggihan AI

    Online Gender-Based Violence di Balik Kecanggihan AI

    Islam

    Islam, Perubahan Sosial, dan tantangan Aktivis Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Representasi Difabel dalam Dunia Perfilman dan Bayang-bayang Tokenisme

Dalam film, kita sering melihat pengalaman difabel melewati saringan kebutuhan emosi penonton non difabel.

Siti Roisadul Nisok Siti Roisadul Nisok
10 Januari 2026
in Publik, Rekomendasi
0
Tokenisme

Tokenisme

1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Membawa pengalaman difabel ke layar tidak pernah sesederhana menambahkan satu karakter lalu menganggap persoalan selesai. Banyak film lahir dari niat baik, bahkan dari keinginan untuk membuka empati. Namun niat baik pun tetap bisa tersandung pada kebiasaan teknis cerita yang sudah lama mapan.

Yang menentukan bukan seberapa keras film mengaku peduli, melainkan posisi karakter difabel di dalam alur cerita. Apakah ia punya kesempatan untuk bertindak, mengambil keputusan, dan memikul konsekuensi? Atau ia hanya hadir sebagai ornamen emosional yang membuat adegan terasa “bermakna” bagi penonton, tanpa benar benar menjalankan peran hidup yang utuh?

Di banyak film, karakter difabel memang sudah mulai muncul. Namun cerita tidak selalu memberi ruang yang cukup agar ia ikut menetap di dalamnya. Sering kali film memakainya untuk menguatkan suasana atau menandai tema tertentu, lalu mengecilkan porsinya begitu konflik dan relasi antar tokoh lain mulai terbangun.

Namun ada lapisan lain yang berbeda. Sebuah film bisa saja menulis pengalaman difabel dengan lebih utuh, tetapi tetap memilih aktor nondifabel untuk memerankannya. Kalau begitu, problemnya bukan lagi sekadar tokoh yang tipis, melainkan soal kesempatan dan otoritas representasi: siapa yang memegang ruang kerja, dan pengalaman siapa yang layar anggap sah. Dari cara penempatan ini, tidak ekstrem ketika saya bilang tokenisme mulai bisa terbaca.

Tokenisme: Ketika Difabel Hadir Sekadar Penanda

Tokenisme dalam film tidak hadir sebagai niat buruk yang sengaja terancang. Namun sebagai kebiasaan naratif yang terasa praktis dan mengikuti logika pasar. Di hasil akhirnya, tokoh semacam ini sering berfungsi sebatas penanda, cukup untuk memberi sinyal tertentu tanpa pernah menjadi fokus penceritaan. Akibatnya, tokoh difabel bisa ikut hadir, tetapi ruangnya sempit sehingga ia tidak sempat berkembang menjadi peran manusia yang utuh.

Polanya biasanya tampak dari fungsi tokoh di dalam cerita. Sebagian tokoh difabel sengaja muncul terutama sebagai tanda kepedulian agar film tampak inklusif. Di cerita lain, difabel menjadi pengungkit emosi cepat, entah untuk memeras haru atau memancing tawa, sementara kompleksitas hidupnya berlalu. Ada juga yang menempatkan sebagai pemicu perubahan tokoh lain, sehingga yang bertumbuh justru tokoh nondifabel, dan tokoh difabel hanya menjadi latar bagi pelajaran moral.

Muncul pertanyaan di benak saya: apakah pengalaman difabel ini benar dibutuhkan, atau hanya ditempel sebagai atribut? Jika disabilitasnya dihapus dan cerita tetap berjalan sama, tandanya ia hanya dijadikan ornamen pelengkap. Dalam konteks Indonesia, riset Rizka Febriyani dan Hapsari Dwiningtyas Sulistyani (Interaksi Online, 2024) membaca  film “Agak Laen” 2024 dengan pola serupa.

Alur cerita menempatkan tokoh difabel sebagai pendukung suasana, menempelkan stereotip negatif, dan membuatnya rentan jadi sasaran candaan serta kekerasan simbolik. Jadi, persoalannya terletak pada posisi dan fungsi yang cerita berikan.

Ketika Difabel Diposisikan sebagai Peran

Di sisi lain, banyak industri perfilman memperlakukan difabel sebagai “peran menantang” yang siapa pun aktornya bisa memerankan. Mereka lalu menilai kualitasnya dari seberapa meyakinkan aktor meniru gestur dan cara bicara. Di titik tertentu pula, difabel bergeser menjadi perangkat dramatik. Sesuatu yang dipakai untuk membuat karakter tampak lebih “berat”, lebih “mengharukan”, atau lebih “unik”.

Riset Ruderman Family Foundation bersama Geena Davis Institute “The State of Disability Representation on TelevisionAn Analysis of Scripted TV Series From 2016 to 2023” memberi konteks mengapa pola ini bertahan: karakter disabilitas masih sering dipilihkan pemeran yang tidak memiliki disabilitas yang sama, dan casting autentik tidak menunjukkan tren membaik. Secara sederhana, industri cenderung memperlakukan disabilitas sebagai sesuatu yang bisa “dikerjakan dari luar”, bukan sebagai pengalaman yang perlu dibawa dari dalam.

Di Indonesia, kecenderungan ini juga mudah kita temukan. Tokoh dengan disabilitas intelektual di “Miracle in Cell No. 7” versi Indonesia diperankan Vino G. Bastian; tokoh Banyu yang berada dalam spektrum autisme di “Dancing in the Rain” diperankan Dimas Anggara; dan tokoh Jati dengan sindrom Asperger di “Aku Jati, Aku Asperger” diperankan Jefri Nichol.

Tentu ada upaya riset dan pendampingan. Namun batasnya tetap ada, karena representasi di layar tidak hanya soal ketepatan gestur, tetapi juga soal ruang yang menyediakan cerita untuk memperlihatkan pengalaman mereka; hidup yang utuh, relasi, pilihan, akses, hambatan, dan cara lingkungan memperlakukan seseorang.

Bukan Sekadar Soal Siapa yang Memerankan

“Kalau aktor sudah riset, mengapa masih perlu membuka peluang bagi aktor difabel?”

Nah, sekali lagi, taruhannya bukan hanya kualitas adegan, tetapi struktur kesempatan. Selama industri hampir selalu menyerahkan peran difabel kepada aktor nondifabel, industri juga mengirim pesan diam diam. Pesan itu sederhana: difabel boleh hadir sebagai cerita, tetapi industri belum menganggap kehadirannya wajar sebagai pekerja kreatif.

Apabila berbicara terkait data kuantitatif, WHO memperkirakan sekitar 1,3 miliar orang (sekitar 16% populasi dunia) mengalami disabilitas signifikan. Artinya, disabilitas bukan pengecualian, melainkan bagian besar dari kehidupan sosial.

Namun layar belum memantulkannya. Dalam lanskap film arus utama (khususnya box office AS), laporan USC “Annenberg Inclusion Initiative” atas 100 film terlaris 2024, mereka menemukan hanya 2,4% dari seluruh karakter yang berbicara atau bernama yang sebagai karakter penyandang disabilitas. Pada level film, 44 dari 100 film bahkan tidak menampilkan satu pun karakter berbicara atau bernama dengan disabilitas.

Jadi, Siapa yang Mengendalikan Cerita?

“Can the Subaltren Speak?”

Begitulah kata Spivak dalam karyanya yang coba menggugah ingatan saya dalam konteks ini. Kelompok yang termarjinalkan sering “hadir” di ruang publik. Namun hadir sebagai objek wacana, bukan subjek yang suaranya benar-benar menentukan makna.

Dalam film, kita sering melihat pengalaman difabel melewati saringan kebutuhan emosi penonton non difabel. Film boleh menampilkan tokoh difabel, tetapi sejak awal cerita sudah menyiapkan kerangka penilaiannya. Penonton pun merasa iba, merasa kagum, tertawa, lalu merasa semuanya sudah selesai.

lagi-lagi taruhannya bukan sekadar dialog, melainkan kuasa naratif. Siapa memegang hak untuk menjelaskan, menamai, dan menutup cerita. Saat film menggunakan tokoh difabel hanya sebagai jalan agar tokoh lain tampak lebih dewasa, atau sebagai stempel moral supaya cerita terlihat “baik”, yang berbicara sebenarnya bukan tokoh difabel, melainkan struktur cerita yang meminjam dirinya untuk menguatkan pesan.

Judith Butler memberi lensa lain lewat gagasan bahwa norma tubuh lahir dari pengulangan yang terus menerus. Layar adalah mesin pengulang yang kuat. Ketika film berulang kali menempatkan disabilitas sebagai sesuatu yang harus dijelaskan, disembuhkan, atau “dibayar” dengan prestasi luar biasa, penonton belajar pelan-pelan bahwa tubuh tertentu adalah ukuran kewajaran, sementara tubuh lain dianggap masuk akal hanya jika mendekati ukuran itu.

Karena itu, kritik tokenisme bukan sekadar perkara sensitif atau tidak sensitif. Ia menyentuh ranah etika. Siapa yang memegang otoritas untuk mendefinisikan pengalaman, dan norma apa yang cerita itu pertahankan.

Membuatnya Mungkin: Saat Difabel Menjadi Pemeran

Kalau film mengklaim ingin menghadirkan pengalaman difabel, pertanyaan yang paling jernih bukan hanya apa yang tampil di layar, melainkan siapa yang benar benar memegang peran.

Representasi yang berulang kali melewati tubuh difabel beresiko berubah menjadi pengetahuan dari luar. Mungkin terlihat rapi dan meyakinkan, tetapi tetap berjarak. Kata “mungkin” di sini bukan perkara bakat individu, melainkan desai dan kesempatan.

Aktor difabel jarang terlihat bukan semata karena tidak ada, tetapi karena aksesibilitasnya belum terbangun. Karena itu, membuat difabel menjadi pemeran merupakan koreksi struktur.

Ketika industri menata akses sebagai standar kerja, cerita bergerak dari simbol menuju pengalaman. Dari situ, bayang-bayang tokenisme sendiri perlahan pudar, sebab difabel tidak lagi hadir sebatas penanda, melainkan hadir sebagai subjek yang memang punya hak atas panggung. []

Tags: AksesibilitasFilmInklusi SosialRepresentasi DifabelTokenisme
Siti Roisadul Nisok

Siti Roisadul Nisok

Siti Roisadul Nisok is an M.Phil student in the Faculty of Philosophy at Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia. Her research interests include religious studies, digitization, philosophy, cultural studies, and interfaith dialogue. She can be reached on Instagram via the handle: @roisabukanraisa.

Terkait Posts

Masjid
Publik

Masjid untuk Semua? Membaca Akses Ibadah dari Perspektif Disabilitas

5 Januari 2026
Disabilitas Rentan Kekerasan
Publik

Disabilitas Rentan Kekerasan Namun Sulit Akses Keadilan

3 Januari 2026
Bencana
Publik

Bencana dan Refleksi 2025: Bagaimana Pemenuhan Akses Informasi Kebencanaan bagi Penyandang Disabilitas?

31 Desember 2025
Anak Perempuan Disabilitas
Buku

Kisah Anak Perempuan Disabilitas Menyelamatkan Pohon Terakhir di Desanya

26 Desember 2025
Perempuan Difabel
Publik

Mengapa Perempuan Difabel Sulit Mengakses Keadilan Hukum?

23 Desember 2025
Bahasa Masih Membatasi Disabilitas
Publik

Ketika Bahasa Masih Membatasi Disabilitas

22 Desember 2025
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Aktivis Perempuan

    Aktivis Perempuan Dorong Tafsir Islam yang Berkeadilan Gender

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menikah Kok Gitu Sih? Peliknya Rumah Tangga, Karena Isu Orang Ketiga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Representasi Difabel dalam Dunia Perfilman dan Bayang-bayang Tokenisme

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7 Cara Suami Terhindar dari Pidana Nikah Sirri dan Tidak Melukai Orang yang Dicintai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ulama Perempuan dan Sejarah Baru Fatwa di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Cara Pandang Khas KUPI
  • Balāghāt an-Nisā’, Mendengar Suara Perempuan dalam Sastra Islam Klasik
  • 3 Tujuan Besar KUPI: Dari Fatwa hingga Gerakan Transformatif
  • Menikah Kok Gitu Sih? Peliknya Rumah Tangga, Karena Isu Orang Ketiga
  • Ulama Perempuan dan Sejarah Baru Fatwa di Indonesia

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID