Jumat, 24 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    PBNU

    Menanti Nakhoda Feminis di PBNU

    Energi Panas Bumi

    Solusi “Hijau” Energi Panas Bumi; Energi untuk Siapa?

    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kontrasepsi Laki-laki

    Melawan Tabu: Kontrasepsi Laki-laki yang Diperkusi Norma

    Konselor

    Konselor, dari Merawat Diri Menuju Merawat Sesama

    Ibu Sud

    Mengajak Anak-anak Mengidung Bumi Bersama Ibu Sud Hari Ini

    Islam Kita

    Islam Kita Bukan di Tampilan, Tapi di Hati dan Cara Kita Memperlakukan yang Lain

    Harga Diri Laki-laki

    Harga Diri Laki-laki Tidak Diukur dari Besarnya Gaji

    Martabat Manusia

    Komodifikasi Martabat Manusia di Balik Budaya Viral

    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    AIDS

    Cara Mencuci Pakaian Orang dengan AIDS agar Tetap Aman dari Penularan HIV

    Merawat AIDS

    Cara Mencegah Penularan HIV Saat Merawat Orang dengan AIDS di Rumah

    AIDS

    Merawat Orang dengan AIDS di Rumah, Apa yang Perlu Diperhatikan?

    Persalinan HIV

    Panduan Persalinan bagi Ibu Pengidap HIV

    Ibu dengan HIV

    Tidak Semua Bayi dari Ibu dengan HIV Dapat Terinfeksi, Ini Penjelasannya

    Kehamilan HIV

    Kehamilan pada Perempuan dengan HIV: Risiko bagi Ibu dan Bayi

    Pengidap HIV

    Tips Menjaga Kesehatan bagi Pengidap HIV

    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    PBNU

    Menanti Nakhoda Feminis di PBNU

    Energi Panas Bumi

    Solusi “Hijau” Energi Panas Bumi; Energi untuk Siapa?

    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kontrasepsi Laki-laki

    Melawan Tabu: Kontrasepsi Laki-laki yang Diperkusi Norma

    Konselor

    Konselor, dari Merawat Diri Menuju Merawat Sesama

    Ibu Sud

    Mengajak Anak-anak Mengidung Bumi Bersama Ibu Sud Hari Ini

    Islam Kita

    Islam Kita Bukan di Tampilan, Tapi di Hati dan Cara Kita Memperlakukan yang Lain

    Harga Diri Laki-laki

    Harga Diri Laki-laki Tidak Diukur dari Besarnya Gaji

    Martabat Manusia

    Komodifikasi Martabat Manusia di Balik Budaya Viral

    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    AIDS

    Cara Mencuci Pakaian Orang dengan AIDS agar Tetap Aman dari Penularan HIV

    Merawat AIDS

    Cara Mencegah Penularan HIV Saat Merawat Orang dengan AIDS di Rumah

    AIDS

    Merawat Orang dengan AIDS di Rumah, Apa yang Perlu Diperhatikan?

    Persalinan HIV

    Panduan Persalinan bagi Ibu Pengidap HIV

    Ibu dengan HIV

    Tidak Semua Bayi dari Ibu dengan HIV Dapat Terinfeksi, Ini Penjelasannya

    Kehamilan HIV

    Kehamilan pada Perempuan dengan HIV: Risiko bagi Ibu dan Bayi

    Pengidap HIV

    Tips Menjaga Kesehatan bagi Pengidap HIV

    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Santri Aman, Pesantren Beradab; Membaca Ulang Pancasila di Kamar Asrama

Pesantren bagi kami terlalu suci untuk tercederai dengan perbuatan-perbuatan tak berprikemanusiaan dan tak berprikeadilan.

Nur Kholilah Mannan by Nur Kholilah Mannan
8 Juni 2026
in Publik, Rekomendasi
A A
0
Santri Aman

Santri Aman

27
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Mendengar kabar kekerasan seksual yang terjadi di beberapa pesantren akhir-akhir ini membuat hati kami sangat pilu. Terutama bagi kami alumni pesantren yang menjadikan pesantren sebagai rumah bagi santri yang aman. Tempat kembali saat kami hilang arah di masyarakat. Pesantren bagi kami terlalu suci untuk tercederai dengan perbuatan-perbuatan tak berprikemanusiaan dan tak berprikeadilan.

Di bulan lahirnya Pancasila ini mari kita buka lagi Sila kedua sebagai asas kita dalam bernegara. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap manusia adalah mulia, setiap manusia memiliki hak dan martabat yang harus terlindungi dan kita hormati, tanpa memandang jenis kelamin, status, ras dan agama, tidak ada perbedaan, peminggiran alih-alih penindasan.

Jauh sebelum manusia dimuliakan oleh manusia lainnya, Allah SWT Sang Khalik menyatakan dalam Alquran surat Al-Isra’ 70

Wa laqad karramnâ banî âdama wa ḫamalnâhum fil-barri wal-baḫri wa razaqnâhum minath-thayyibâti wa fadldlalnâhum ‘alâ katsîrim mim man khalaqnâ tafdlîlâ

Artinya: Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.

Dalam hal apa Allah memuliakan manusia? Ibn Abbas mengatakan dengan akal, menurut Ad-Dahhak dengan bicara dan tamyiz (membedakan). Menurut ‘Atha dengan berdiri tegak di saat hewan lainnya menelungkup wajahnya, dan -ini yang paling gong- menurut Muhammad bin Ka’b. Manusia mulia karena Nabi Muhammad dijadikan dari jenis manusia. Maka masih adakah alasan untuk merendahkan manusia lain, termasuk santri yang datang untuk mencari ilmu di pesantren?

Sungguh yang beberapa oknum lakukan di beberapa pesantren terduga telah mengotori prinsip Pancasila tersebut. Pancasila bukan cuma hafalan dalam seremonial upacara, akan tetapi juga senjata mempertahankan dan melawan kekerasan seksual di pesantren yang seharusnya menjadi tempat aman mencari ilmu.

Realita Pahit Pesantren

Tidak bisa kita pungkiri, ada oknum yang menyalahgunakan pesantren sebagai pelampiasan hasrat bejatnya. Setidaknya satu bulan terakhir ada lima kasus yang terungkap, dari Pati hingga Pekalongan. Para terduga pelaku adalah pembesar pesantren yang memiliki kekuasaan, otoritas dan pengaruh besar di lingkungan pesantren. Polanya sama dan berulang, relasi kuasa berbasis spiritual dan tak jarang berujung victim blaming.

Pesantren akan rentan menjadi “topeng” para oknum bejat itu jika pihak berwenang tidak tegas pada para pelaku, pemerintah tidak turun tangan memasifkan kampanye anti kekerasan seksual kepada seluruh lembaga pendidikan baik di bawah naungan Kemenag ataupun Kemendikdasmen. Ini demi cinta pada pesantren, alih alih menyalahkan.

Langkah Strategis dari Pancasila

Sila 1: Ketuhanan Yang Maha Esa

Fondasi akhlak (bahwa ada muraqabah/pengawasan Allah selama 24 jam) menjadi pilihan pertama membenahi kasus ini, dalam hal ini setiap lapisan di pesantren bergerak cepat dan masif. Pengurus pesantren yang lain, pemerintah, penegak hukum, wali santri dan santri, bisa berupa sosialisasi, kampanye serentak dan saling meramaikan mengingatkan sesama kawan sejawat. Dari sini harapannya akan tumbuh budaya saling jaga sesama makhluk Allah yang Maha Esa.

Sila 2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Tubuh santri bukan objek melainkan amanah dari Allah yang harus kita jaga. Ini pula yang sering saya katakan pada para santri, bahwa tidak boleh ada satupun orang yang menyentuh tubuh kita kecuali atas izin dari kita sendiri. Tidak ada syariat dalam agama Islam (dan mungkin dalam agama apapun) yang melegalkan perbudakan. Dalam hal ini pesantren bisa menyiapkan lembaga psikologi yang khusus untuk menjadi “tempat curhat” santri secara plong.  Lembaga ini bisa menjadi “rumah” bagi santri yang sedang tidak kerasan atau mengalami perundungan ataupun pelecehan.

Sila 3: Persatuan Indonesia

Pesantren adalah miniatur Indonesia. ini yang sering kiai saya katakan di pesantren. Kalau di pesantren mampu membangun komunikasi baik maka di masyarakat akan mudah bergaul secara sosial dengan baik pula. Setiap santri dan pengurus pesantren bersatu membangun pesantren aman dan nyaman untuk belajar. Dalam hal ini bisa diadakan semacam sistem penjagaan bersama seperti piket jaga di setiap titik tertentu di pesantren untuk meminimalisir pelanggaran.

Sila 4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan

Di setiap pesantren pasti ada susunan pengurus yang memiliki tugas di masing-masing sektor, ada ketua, wakil, sekretaris, bendahara, pendidikan, keamanan dan lain sebagainya.  Semuanya bekerja sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), karenanya jika terjadi kasus maka ditangani sesuai prosedur yang tertulis, tanpa memandang status orang tua atau santri, yang perlu diberi reward harus kita berikan, dan yang terkena sanksi harus direalisasikan secara transparan. Tidak ada kata “diselesaikan dengan kekeluargaan” ataupun diringankan.

Sila 5: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Korban dalam kekerasan sosial tidak hanya mau pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal, tapi juga perlu pemulihan dan perlindungan. Maka dalam hal ini setiap santri membutuhkan bimbingan konseling selama pemulihan dan perlindungan dari ancaman pelaku, agar wujud keadilan tidak hanya slogan semata. []

 

 

 

Tags: Jihad SantriKekerasan seksualPancasilaPondok PesantrenRuang AmanSantri Aman
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Beban Ganda Perempuan dalam Konstruksi Peran Gender

Next Post

Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

Nur Kholilah Mannan

Nur Kholilah Mannan

Related Posts

Martabat Manusia
Personal

Komodifikasi Martabat Manusia di Balik Budaya Viral

22 Juli 2026
Kekerasan di Sampang
Aktual

Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

18 Juli 2026
Percaya Pondok Pesantren
Personal

Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

11 Juli 2026
Bertumbuh bersama Pesantren
Personal

Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

10 Juli 2026
Kekerasan Seksual
Aktual

Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

1 Juli 2026
Pesantren Putra
Publik

Runtuhnya Anggapan Misoginis dan Peran Pesantren Putra dalam Mencegah Kekerasan Seksual

25 Juni 2026
Next Post
Seren Taun Cigugur

Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Melawan Tabu: Kontrasepsi Laki-laki yang Diperkusi Norma
  • Cara Mencuci Pakaian Orang dengan AIDS agar Tetap Aman dari Penularan HIV
  • Konselor, dari Merawat Diri Menuju Merawat Sesama
  • Cara Mencegah Penularan HIV Saat Merawat Orang dengan AIDS di Rumah
  • Menanti Nakhoda Feminis di PBNU

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0