Sabtu, 18 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    Milik Suami

    Benarkah Setelah Menikah Perempuan Menjadi Milik Suami?

    Krisis Pangan

    Krisis Pangan dan Kerentanan Ganda yang Dialami Difabel

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    Zuhud

    Zuhud, sebagai Cara Pandang, Bukan Gaya Berpakaian

    Obat

    Mengapa Obat Antibiotik Harus Dihabiskan? Kenali Bahaya Resistensi Antibiotik

    Infeksi Area Kelamin

    Tips Meredakan Nyeri akibat Infeksi pada Area Kelamin

    kelenjar Bartholin

    Cara Mengatasi Vagina Bengkak Akibat Infeksi Kelenjar Bartholin

    Radang Mulut Rahim

    Radang Mulut Rahim (PID): Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Penanganannya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    Milik Suami

    Benarkah Setelah Menikah Perempuan Menjadi Milik Suami?

    Krisis Pangan

    Krisis Pangan dan Kerentanan Ganda yang Dialami Difabel

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    Zuhud

    Zuhud, sebagai Cara Pandang, Bukan Gaya Berpakaian

    Obat

    Mengapa Obat Antibiotik Harus Dihabiskan? Kenali Bahaya Resistensi Antibiotik

    Infeksi Area Kelamin

    Tips Meredakan Nyeri akibat Infeksi pada Area Kelamin

    kelenjar Bartholin

    Cara Mengatasi Vagina Bengkak Akibat Infeksi Kelenjar Bartholin

    Radang Mulut Rahim

    Radang Mulut Rahim (PID): Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Penanganannya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

Ketika Islam hanya tampil sebagai kumpulan ritual dan identitas, maka ia kehilangan daya transformatifnya

Achmad Sofiyul by Achmad Sofiyul
18 Juli 2026
in Personal
A A
0
Memahami Islam

Memahami Islam

24
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Beberapa kasus belakangan perihal kekerasan seksual, korupsi, pembunuhan hutan, intoleransi dan diskriminasi dilakukan oleh oknum beragama, termasuk yang agamanya Islam. Mengapa demikian terjadi kian masif dan berkelanjutan? Apakah Islam tidak memiliki sisi inspirasi? Ataukah kita yang belum mengerti ajaran Islam dengan utuh?

Bagi saya, ini pertanyaan yang cukup pening di kepala, pertanyaan yang bukan sekadar retorika, tetapi cermin dari keresahan kolektif masyarakat yang menyaksikan jarak semakin lebar antara simbol keberagamaan dan substansi keberagaman.

Ini juga sebuah ironi, terlebih lagi pelakunya tampil dengan atribut keagamaan yang kentara, seolah identitas religius menjadi topeng yang menutupi perilaku destruktif. Tentu banyak akibatnya jika demikian hal-nya, seperti muncul asumsi Islam adalah agama yang keras, suka perang, kaku, dan sebagainya.

Padahal, selain sebagai penyempurna ajaran keagamaan, Islam juga sebagai sumber konkrit inspirasi kehidupan, melalui logika profetik, dan tindak laku akhlaq Al-Karimah, ia melekat dan utuh dengan pola manusia yang mulia.

Oleh karena itu, ketika Islam hanya tampil sebagai kumpulan ritual dan identitas, maka ia kehilangan daya transformatifnya. Sudah saatnya memahami Islam sebagai sumber inspirasi yang melahirkan kreativitas, kemajuan, dan solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan.

Agama Sebagai Fenomena Alam

Sebagai bahan refleksi, persoalan yang sifatnya duniawi tidak akan jauh dengan kemanusiaan, politik, dan keagamaan. Meskipun bagi Freud dalam kajian psikoanalisis, religion ia anggap sebagai angan-angan manusia yang ilusif.

Namun berbeda bagi Karl Marx, yang mengaggap agama itu candu, sebagai obat mujarab makhluk yang tertindas. Artinya, agama tidak tumbuh secara natural dari rahim pengalaman manusia. Bukan semata konstruksi metafisik yang berdiri di ruang hampa, ia adalah fenomena alam.

Bagaimana bisa agama menjadi fenomena alam? Mula-mula perdebatan tentang definisinya hingga saat ini pun masih hangat dan melahirkan perspektif baru. Hemat saya, agama merupakan sistem sosial yang menyatukan para pemeluknya melalui keyakinan kepada satu atau lebih kekuatan supranatural yang diyakini sebagai sumber berkah, harapan, dan tuntunan hidup.

Diksi ‘sistem sosial’ menandakan adanya interaksi antar makhluk. Sebab agama tidak pernah hadir dalam kevakuman individual semata, melainkan selalu melibatkan komunitas, ritual bersama, simbol yang disepakati, serta lembaga yang menaunginya.

Karena itu, agama merupakan fenomena alam yang hadir, tumbuh, dan berkembang bersama dinamika kehidupan manusia serta terus berdialog dengan perubahan zaman.

Islam itu Agama atau Jargon Keselamatan?

Terkadang saya sendiri merenung jika ada pertanyaan seperti judul itu. Seakan-akan menohok kebiasaan berpikir yang saat ini saya anggap telah final. Sebab dalam praktiknya, tidak sedikit umat yang memperlakukan Islam sekadar sebagai jargon keselamatan.

Identitas keislaman disandang, ayat-ayat Al-Qur’annya menjadi pedang, namun fungsinya berhenti sebagai tiket masuk surga tanpa menuntut transformasi diri. Dalam hal ini Islam terjerembab dalam menenangkan kecemasan eskatologis, bukan sistem nilai yang hidup sehari-hari. Jadinya, identitas itu (bisa jadi) semakin digaungkan, semakin jauh pula jarak antara ucapan dan tindakan penganutnya.

Padahal secara definisi, Islam berakar kata dari “aslama”, “yuslimu”, “islaaman” yang berarti tunduk, patuh, dan selamat. Secara tersirat definisi tersebut menuntut proses aktif penganutnya untuk merealisasikan konsep-konsep keislaman yang dalam bahasa populernya rahmatan lil aalamiin.

Tetapi awalnya, Islam belum tampak sebagai agama, ia memiliki beberapa terma, seperti millah, nihlah, dan ad-diin. Millah berguna untuk agama yang ada nabi, kitab dan ajarannya, namun sudah hilang dan praktik serta ibadahnya tidak lagi seperti tradisi tauhid Nabi Ibrahim (Q.S: An Nahl:123).

Sedangkan nihlah, digunakan untuk agama lokal seperti Budha, Hindu, Kapitayan, Kaharingan, dan lainnya. Dan Ad-diin berguna untuk agama yang masih jelas nabinya, dan cara peribadatannya, simbolnya, syariatnya, seperti Yahudi, Kristen, dan Islam. Jadi makin tampak jelas jika Islam memiliki ajaran yang valid, kredibel, dan bersandar kepada Allah Swt.

Penjelasan tersebut memiliki konsekuensi logis jika menilik pertanyaan Islam agama atau jargon keselamatan. Keduanya tidak ada yang salah, Islam sah sebagai agama dan juga harapan keselamatan hidup.

Islam Sebagai Inspriasi

Sadar maupun tidak, Islam hadir sebagai penyempurna bagi segala hal, termasuk memberikan inspirasi kepada umatnya. Namun hari ini, dalam konteks Indonesia mungkin belum sepenuhnya memahami Islam sebagai inspirasi. Buktinya, kasus kekerasan seksual di instansi keislaman bertambah marak terjadi. Tentu yang menjadi korban adalah perempuan.

Bukankah Islam sudah memerdekakan budak dan perempuan? Atau oknum agamis itu yang belum mengislamkan pola pikirnya? Seterang-terangnya tafsir terkait kemanusiaan, kesetaraan, dan keadilan telah termaktub dalam Al-Qur’an dan setidaknya jadikanlah kandungan Al-Qur’an sebagai inspirator.

Bahkan seorang non muslim pun berusaha meniru keindahan Al-Qur’an, baik secara linguistik, referensi, motivasi, hukum, etika, ibadah, dan sumber inspirasi. Seperti Musailamah Al-Kadzzab yang meragukan Islam dan mengaku menjadi nabi serta menulis kitab tandingan Qur’an. Kemudian literatur sastra milik sastrawan Irlandia James Joyce dengan judul Finnegans Wake yang gandrung sebagai Qur’an mimesis, dan buku berjudul The True Criterion / Al-Furqan al-Haqq terinspirasi dari segi I’Jaz Qur’an.

Masih banyak literatur lainnya yang terinspirasi dari ajaran Islam, anehnya dalam tindak laku, justru sebagian umat menjadikan Islam sebagai tameng, bukan cermin. Oknum pelaku kerap melakukan kekerasan seksual berkedok relasi kuasa agama, memanfaatkan otoritas simboliknya untuk melegitimasi kejahatan.

Ketika kasus terbongkar, lembaga lebih mengutamakan “nama baik” ketimbang keadilan korban, padahal Al-Qur’an tegas melarang mencampuradukkan hak dan batil (Q.S. Al-Baqarah [2]: 42). Pola sama muncul di ranah kebijakan: pejabat memakai simbol agama untuk pencitraan, sementara mengabaikan amanat keadilan sosial (Q.S. An-Nahl [16]: 90).

Begitu pula inklusivitas difabel padahal Q.S. ‘Abasa [80]: 1-10 jelas menegur dan memuliakan penyandang disabilitas, lembaga-lembaga masih minim menyediakan aksesibilitas dan masyarakat masih menyematkan stigma.

Maka Islam sejatinya adalah inspirasi yang tak pernah padam asal kita mau menghidupkannya, bukan sekadar mengklaimnya, sehingga segala perbuatan bernuansa kemanusiaan, dan berpola pikir kenabian. []

Tags: agamaIslam Agama RahmatkemanusiaanmanusiaMemahami IslamSumber Inspirasi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

Next Post

Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

Achmad Sofiyul

Achmad Sofiyul

Bernafas, nir-intelektuil, dan suka eksis di IG @achmadyullllll_

Related Posts

Poskolonialisme
Publik

Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

17 Juli 2026
Zuhud
Hikmah

Zuhud, sebagai Cara Pandang, Bukan Gaya Berpakaian

17 Juli 2026
Bertumbuh bersama Pesantren
Personal

Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

10 Juli 2026
Persahabatan
Publik

Persahabatan Sejati dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti

9 Juli 2026
Kemandirian Manusia
Disabilitas

Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

9 Juli 2026
Lini Masa
Buku

Agama, Peristiwa Lini Masa, dan Bagaimana Sikap Kita?

7 Juli 2026
Next Post
AIDS

Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS
  • Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi
  • Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual
  • Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI
  • Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0