Mubadalah.id – Diskursus poskolonialisme kembali menguat kala dwi gol dari Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez mengantarkan Argentina menuju final Piala Dunia 2026. Gol tunggal Anthony Gordon yang sempat bikin suporter Inggris girang, buyar seketika. The Three Lions harus pulang.
Sementara, bagi Argentina, final Piala Dunia 2026 bakal jadi ajang spesial. Lionel Messi dan kolega berpeluang mempertahankan gelar juara dunia yang telah mereka rengkuh empat tahun silam. Negeri Qatar menjadi saksi kekuatan Albiceleste kala itu.
Hanya saja, lawan Argentina di final nanti bukanlah klub kulit bawang yang melaju ke final berkat doa dukun ampuh. Musuh Argentina adalah Spanyol, tim yang menjuarai Piala Dunia Afrika Selatan pada satu setengah dasawarsa silam. Tentu, La Roja pun mengusung misi jaya.
Apalagi, di semifinal lalu, La Roja sukses mencukur habis tim unggulan, Prancis. Skuad asuhan De La Fuente itu berhasil bikin kuadro Ousmane Dembele, Michael Olise, Barcola Bradley, serta Kylian Mbappe meringis tangis. Skor 0-2 cukup bagi Spanyol untuk mendepak Les Blues.
Aroma poskolonialisme bersama si kulit bundar
Laga Argentina kontra Spanyol di final Coppa Mundial mendatang sejatinya tak sekadar duel antara dua negara demi memperebutkan tahta sepakbola sejagat. Namun, pada sebalik guliran si kulit bundar itu, menguar aroma kental poskolonialisme.
Pasalnya, pada tahun 1500-an, bangsa Spanyol telah mulai bereksplorasi—terma sebelum kolonialisasi—di sekitaran wilayah Amerika Latin, termasuk Argentina. Juan Díaz de Solís memimpin armada Spanyol menetap di Argentina pada 1516, sekaligus menjadi cikal bakal kolonialisme.
Dua dekade kemudian, sebuah patok kolonialisasi resmi menancap di wilayah yang kini bernama Buenos Aires, ibukota Argentina. Secara berangsur-angsur, selepas mengalami beberapa batu sandungan, Spanyol secara permanen menduduki Argentina pada tahun 1580.
Tahun 1776, Spanyol menggabungkan wilayah jajahan mereka yang mencakup Argentina, Bolivia, Paraguai, serta Uruguai menjadi satu wilayah koloni dengan sebutan Viceroyalty of the Río de la Plata. Hingga kemerdekaan Argentina pada 1816, Spanyol menguasai tambang emas Argentina dan rantai perdagangan.
Kenangan pahit kolonialisme itu bisa jadi bakal menyulut keseruan tersendiri di laga final mendatang. Argentina dengan misi poskolonialismenya tentu punya misi besar untuk menumbangkan La Roja. Apalagi, mereka masih punya Messi yang sihirnya belum lagi pudar.
Poskolonialisme, kampanye unity dan inklusivitas FIFA yang kontroversial
Gelaran Piala Dunia 2026 sebetulnya mengusung misi persatuan (unity). FIFA sebagai induk sepakbola internasional sekaligus panitia penyelenggara Piala Dunia secara getol menyuarakan misi tersebut lewat beragam promosi, utamanya tulisan-tulisan yang menghiasi atribut para pemain.
Selain itu, jumlah kontestan Piala Dunia tahun ini yang mencapai jumlah 48 negara juga sering beroleh gembar-gembor sebagai bagian dari kampanye itu. FIFA ingin tampil inklusif dengan dalih memberi kesempatan kepada lebih banyak negara untuk turut ambil bagian.
Wacana paling anyar bahkan menyebut jika FIFA, lewat gagasan presiden mereka, Gianni Infantino, bakal menambah jumlah kontestan di Piala Dunia tahun 2030 mendatang. Kabarnya, jumlah partisipan bakal meledak menjadi 64 negara atau dua kali lipat dari edisi tahun 2022.
Masalahnya, di balik gembar-gembor dan kampanye itu, FIFA justru tampil kontroversial. Induk asosiasi sepakbola sejagat itu tampak menganakemaskan segelintir kelompok, seperti Amerika Serikat yang pemainnya (Balogun) mendadak beroleh pemutihan kartu merah.
Bukannya menggerus sekat pemisah antar masing-masing negara, sikap FIFA yang demikian justru membikin kejomplangan relasi. Segelintir negara yang tampil dengan atribusi anak emas FIFA secara tak langsung telah berdiri tak sama tinggi dengan negara-negara lain.
Publik tentu malah akan sulit percaya dengan seabrek janji-janji manis FIFA untuk menggunakan sepak bola sebagai alat pemersatu. Hingga jelang final Piala Dunia 2026 ini, wajah yang kentara justru imbalansi, eksklusivitas, serta genderang poskolonialisme yang tak henti membunyi. []











































