Mubadalah.id – Pada awal 2025, perhatian dunia tertuju kepada Paus Fransiskus. Pemimpin Gereja Katolik itu menjalani perawatan intensif selama 38 hari di Rumah Sakit Gemelli, Roma, akibat pneumonia bilateral. Setelah keluar dari rumah sakit, ia kembali muncul di hadapan publik dengan kursi roda, alat bantu jalan, dan bantuan asisten untuk menjalankan sebagian aktivitasnya. Sehari sebelum wafat pada 21 April 2025, ia masih menyampaikan berkat Urbi et Orbi dalam perayaan Paskah di Lapangan Santo Petrus, meski kondisi tubuhnya sangat lemah.
Banyak media memberitakan kondisi fisiknya. Kursi roda yang ia gunakan, langkahnya yang semakin terbatas, hingga kesehatannya yang terus menurun menjadi sorotan utama. Namun, di balik pemberitaan itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan.
Mengapa tubuh yang membutuhkan bantuan begitu mudah mengubah cara kita memandang seseorang?
Paus Fransiskus tetap memimpin Gereja Katolik, mengambil keputusan penting, bertemu para kepala negara, dan terus menyuarakan perdamaian hingga hari-hari terakhir hidupnya. Tubuhnya berubah. Kepemimpinannya tidak. Yang berubah justru cara sebagian orang memandangnya.
Peristiwa itu memperlihatkan satu kenyataan yang lebih besar. Selama ini kita tidak hanya mengagungkan manusia yang baik, tetapi juga mengagungkan manusia yang tampak mandiri.
Mitos Kemandirian Manusia
Sejak kecil, keluarga dan sekolah mengajarkan kita untuk mandiri. Kita belajar memakai pakaian sendiri, menyelesaikan tugas sendiri, bekerja sendiri, dan sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain. Nilai tersebut tentu penting karena membentuk tanggung jawab.
Namun, perlahan masyarakat mengubah kemandirian menjadi ukuran nilai manusia. Orang yang mampu melakukan segala sesuatu sendiri sering dianggap lebih sukses. Sebaliknya, mereka yang membutuhkan bantuan lebih mudah dipandang sebagai beban. Tanpa sadar, kita membangun hierarki manusia berdasarkan tingkat kemandiriannya.
Padahal, benarkah ada manusia yang benar-benar mandiri?
Setiap pagi kita menikmati listrik yang dihasilkan ribuan pekerja. Kita menggunakan telepon yang lahir dari kolaborasi ilmuwan, teknisi, operator satelit, dan pekerja pabrik di berbagai negara. Kita makan berkat kerja petani, nelayan, pedagang, sopir, hingga kurir yang mengantarkan bahan pangan.
Bahkan ketika menganggap diri mandiri, kita sebenarnya sedang bergantung pada kerja ribuan orang yang tidak pernah kita kenal. Yang berubah bukan ada atau tidaknya ketergantungan, yang berubah hanyalah bentuk ketergantungan itu.
Kemandirian Manusia Dibongkar oleh Pengalaman Difabel
Keyakinan bahwa manusia dapat hidup sepenuhnya mandiri juga tidak sejalan dengan kenyataan empiris.
World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 1,3 miliar orang, atau sekitar 16 persen populasi dunia, hidup dengan disabilitas. Angka tersebut diperkirakan terus meningkat seiring bertambahnya usia penduduk dunia, meningkatnya penyakit tidak menular, serta bertambahnya harapan hidup.
Di Indonesia, Badan Pusat Statistik melalui Potret Penyandang Disabilitas di Indonesia: Hasil Long Form SP2020 menunjukkan bahwa hambatan melihat, mendengar, berjalan, mengingat, dan mengurus diri meningkat secara signifikan pada kelompok usia lanjut.
Temuan tersebut diperkuat oleh UNFPA Indonesia yang menyebut Indonesia sedang memasuki fase ageing society. Semakin banyak penduduk yang hidup lebih lama. Pada saat yang sama, semakin banyak pula orang yang memerlukan pendampingan, layanan kesehatan, alat bantu, dan dukungan keluarga dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Data-data tersebut menyampaikan pesan yang sederhana. Ketergantungan bukan penyimpangan, tapi ketergantungan merupakan bagian dari perjalanan hidup manusia.
Difabel Membongkar Ilusi Itu
Di sinilah pengalaman penyandang disabilitas menjadi penting. Selama ini masyarakat sering memandang difabel sebagai kelompok yang bergantung kepada orang lain. Cara pandang itu lahir karena masyarakat lebih dahulu mempercayai bahwa manusia ideal ialah manusia yang mampu melakukan segala sesuatu sendiri.
Padahal, pengalaman hidup difabel justru membongkar ilusi tersebut. Pengguna kursi roda memerlukan lingkungan yang aksesibel. Penyandang netra memerlukan informasi yang tersedia dalam format yang dapat mereka akses dengan mudah. Penyandang tuli memerlukan komunikasi yang inklusif.
Namun, bayi, lansia, pasien di rumah sakit, bahkan orang yang mengalami kelelahan fisik maupun mental juga memerlukan bantuan.
Kebutuhan akan bantuan bukan hanya milik difabel. Semua manusia mengalaminya pada fase dan situasi yang berbeda.
Yang membedakan bukan keberadaan ketergantungan itu, melainkan kondisi ketika ketergantungan tersebut tampak atau tidak tampak di hadapan orang lain.
Pengalaman hidup difabel memperlihatkan kenyataan yang selama ini luput dari perhatian masyarakat. Setiap manusia menjalani kehidupan melalui jaringan saling bergantung. Tidak seorang pun benar-benar hidup hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri.
Membaca Ulang Kemandirian Manusia melalui Mubadalah
Perspektif Mubadalah membantu kita membaca kenyataan tersebut dengan cara yang berbeda. Ketersalingan bukan solusi yang muncul ketika seseorang menjadi lemah. Ketersalingan merupakan dasar hubungan antarmanusia. Setiap orang silih berganti memberi dan menerima bantuan sepanjang hidup.
Hari ini kita membantu orang lain. Esok, orang lain mungkin membantu kita. Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan (QS. Al-Ma’idah: 2). Perintah tersebut lahir dari kesadaran bahwa tidak ada manusia yang mampu menjalani kehidupan seorang diri.
Dengan demikian, martabat manusia tidak pernah ditentukan oleh kemampuan tubuhnya bekerja tanpa bantuan. Martabat melekat pada setiap manusia, termasuk ketika tubuhnya berubah karena usia, sakit, kecelakaan, atau disabilitas.
Belajar Ulang Arti Mandiri. Barangkali selama ini kita salah memahami arti mandiri. Kita mengira mandiri berarti tidak membutuhkan siapa pun. Padahal, tidak ada satu pun manusia yang hidup dengan cara seperti itu.
Perjalanan hidup Paus Fransiskus menunjukkan bahwa tubuh dapat melemah, tetapi martabat tidak ikut melemah. Pengalaman penyandang disabilitas juga mengingatkan bahwa kebutuhan akan bantuan bukanlah tanda kegagalan menjadi manusia.
Mungkin yang perlu kita tinggalkan bukan semangat untuk mandiri, melainkan mitos bahwa manusia dapat hidup sepenuhnya sendiri. Sebab, yang membedakan kita dengan penyandang disabilitas bukanlah ada atau tidaknya ketergantungan. Yang berbeda hanyalah waktu ketika ketergantungan itu menjadi terlihat.
Jika demikian, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi, “Bagaimana agar saya tidak bergantung kepada orang lain?” Pertanyaan yang lebih mendasar ialah, “Sudahkah kita membangun masyarakat yang tetap memuliakan manusia ketika ia membutuhkan orang lain?”
Karena pada akhirnya, yang rapuh bukan hanya tubuh sebagian orang. Yang rapuh adalah keyakinan kita bahwa manusia dapat hidup sendirian.
Walakhir, pengalaman difabel menunjukan bahwa kemandirian manusia bukan berarti hidup tanpa bantuan, tapi mampu hidup dalam eksosistem kesalingan yang bermartabat. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari kegiatan mubadalah goes to community kerjasama media mubadalah dengan UIN kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo pada 11-12 Juni 2025










































