Mubadalah.id – Setelah berbincang dengan kawan-kawan seperjuangan yang kebanyakan bekerja sebagai guru honorer, freelancer, dan buruh pabrik, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa selama ini kami dibesarkan oleh narasi besar tentang mimpi. Bahwa siapa pun bisa menjadi apa pun asal mau bekerja keras.
Dunia adalah ruang terbuka bagi ambisi, dan masa depan bisa terancang seperti puzzle. Narasi itu tentu tidak sepenuhnya salah. Namun ketika benar-benar menjadi dewasa, kami menemukan satu hal yang tidak pernah diajarkan semasa kecil, yaitu bekerja keras tidak selalu berarti hidup layak.
Kami hidup separuh waktu untuk bertahan. Waktu kami habiskan untuk bekerja, mencari kerja, atau mempertahankan kerja, dan separuh lainnya kami habiskan untuk memikirkan bagaimana caranya agar hidup tidak benar-benar sekarat. Kami kelelahan bahkan sebelum benar-benar mulai. Kalau dipikir-pikir, kami punya daya juang, tetapi sistem menuntut energi yang tidak sebanding dengan hasilnya. Kami hanya hidup dalam dunia yang terlalu mahal.
Capitalist Realism
Byung-Chul Han dalam The Burnout Society menulis bahwa manusia modern tidak lagi hidup dalam masyarakat disipliner, melainkan masyarakat performatif: “The subject of achievement exploits itself voluntarily, without external compulsion.” Manusia mengeksploitasi diri sendiri, karena dunia kerja membuat kelelahan tampak seperti moralitas. Produktif menjadi identitas. Lelah menjadi tanda kesuksesan. Istirahat dianggap malas. Akhirnya kami hidup dalam paradoks; bekerja habis-habisan, tetapi tidak pernah benar-benar merasa aman.
Dalam Islam, kelelahan semacam ini sebetulnya bukan ideal hidup. Al-Qur’an menyebut bahwa manusia tercipta bukan untuk diperas tanpa henti, melainkan untuk hidup seimbang: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Namun dunia hari ini justru bekerja seolah tidak ada batas kesanggupan manusia. Tubuh dianggap mesin, pikiran dianggap sumber daya, dan kelelahan dianggap harga wajar dari bertahan hidup.
Kami hidup dalam apa yang Mark Fisher sebut sebagai capitalist realism, sebuah kondisi ketika sistem ekonomi begitu dominan sampai-sampai sulit membayangkan alternatif hidup di luar logika kerja dan pasar. Dalam Capitalist Realism, Fisher menulis: “It is easier to imagine the end of the world than the end of capitalism.”
Maka tidak heran jika banyak dari kami merasa cemas tanpa sebab yang jelas. Barangkali bukan karena hidup kami buruk secara personal, tetapi karena struktur hidup kami memang rapuh. Masa depan tidak tampak sebagai janji, melainkan sebagai ancaman. Kami tidak lagi bertanya, akan jadi apa saya nanti? Melainkan masih bisakah saya bertahan hidup sepuluh tahun ke depan?
Ketika Menjadi Dewasa Bukan Lagi Soal Siap, Tapi Mampu
Dewasa hari ini bukan lagi soal kedewasaan mental, tetapi soal kelayakan ekonomi. Bukan soal siap atau tidak siap, melainkan mampu atau tidak mampu. Rumah, pernikahan, anak, kesehatan, semuanya berubah menjadi komoditas mahal yang harus kita perhitungkan.
Zygmunt Bauman dalam Liquid Modernity menulis bahwa manusia modern hidup dalam kondisi serba cair: hubungan cair, pekerjaan cair, identitas cair. Tidak ada yang stabil, semuanya sementara. “Modern life is a life of constant uncertainty, where nothing is meant to last.”
Gen Z dan milenial adalah generasi yang merasakan kecairan ini. Kontrak kerja sementara, gig economy, freelance tanpa jaminan, upah tidak sebanding dengan biaya hidup. Kebanyakan dari kami tidak bisa merencanakan hidup jangka panjang karena bahkan bulan depan saja belum tentu aman. Dulu, orang tua kami membeli rumah di usia 30-an.
Sekarang, kami bahkan kesulitan membayangkan uang muka. Awalnya saya pikir karena kami boros matcha atau kopi, tapi setelah kami telusuri, ternyata harga tanah melesat jauh dari logika upah. Pernikahan pun berubah dari peristiwa sosial menjadi beban ekonomi. Cicilan, rumah, biaya anak. Itu sebabnya, cinta menjadi sesuatu yang harus dirasionalisasi secara finansial.
Dalam Islam, pernikahan sering kita bayangkan sebagai sesuatu yang memudahkan hidup. Nabi Muhammad bersabda, “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian mampu, maka menikahlah” (HR. Bukhari-Muslim). Kata mampu di sini bukan hanya soal usia, tetapi kemampuan material dan sosial. Masalahnya, dunia hari ini membuat “mampu” menjadi syarat yang semakin jauh dari jangkauan generasi muda.
Dalam The Price of Inequality, Joseph Stiglitz menulis bahwa ketimpangan bukan sekadar masalah moral, melainkan masalah struktural yang diciptakan kebijakan: “Inequality is a choice, the cumulative result of unjust policies and institutions.” Hidup mahal bukan nasib alamiah. Ia adalah produk keputusan politik. Harga rumah naik karena tanah dijadikan instrumen investasi. Upah stagnan terjadi karena kebijakan lebih melindungi pemilik modal daripada buruh.
Cinta yang Harus Antre di Dunia yang Timpang
Label generasi malas pada Gen Z adalah cara termudah untuk menghindari pembicaraan tentang struktur. Dengan menyalahkan individu, sistem terbebas dari tanggung jawab. Padahal jika kita lihat lebih dalam, Gen Z justru generasi yang paling sadar akan kerja emosional, kesehatan mental, dan batas tubuh.
David Graeber dalam Bullshit Jobs menjelaskan bahwa banyak pekerjaan modern sebenarnya tidak bermakna secara sosial, tetapi tetap menguras energi manusia: “A huge proportion of the workforce spends their working lives performing tasks they secretly believe do not really need to be performed.”
Kami bekerja bukan hanya untuk hidup, tetapi untuk mengisi sistem yang bahkan tidak kami percaya. Banyak dari kami merasa pekerjaan hari ini tidak membuat dunia lebih baik, hanya membuat kami lebih lelah. Namun keluar dari sistem berarti kehilangan akses hidup. Maka kebanyakan dari kami membenci pekerjaan tetapi bergantung padanya.
Narasi malas juga mengabaikan fakta bahwa Gen Z hidup di era krisis berlapis: krisis iklim, krisis ekonomi, krisis politik, dan krisis makna. Kami tumbuh dengan ketimpangan ekstrem, perang, dan otoritarianisme yang kembali normal. Tidak ada rasa aman kolektif.
Di tengah semua itu, cinta menjadi proyek yang tertunda. Jangan kaget kalau Gen Z banyak yang belum menikah, sebab masih banyak yang harus mereka pikirkan. Merencanakan hubungan sambil memikirkan cicilan, asuransi, harga susu, biaya sekolah. Erich Fromm dalam The Art of Loving menulis bahwa cinta membutuhkan kondisi material tertentu agar bisa tumbuh: “Love is not merely a personal relation; it is deeply rooted in social conditions.”
Cinta tidak tumbuh di tanah yang penuh kecemasan. Ketika hidup terlalu mahal, cinta pun terpaksa menunggu giliran. Barangkali masalahnya bukan pada generasi yang menunda menikah, melainkan pada sistem yang membuat hidup bersama menjadi sulit untuk kita rayakan.
Cinta dan kehidupan seharusnya menjadi ruang rahmah, saling menenangkan, bukan saling menguras. Tetapi selama kebijakan lebih sibuk melayani pasar daripada manusia, cinta akan terus antre, dan menjadi dewasa akan tetap terasa sebagai kemewahan yang hanya bisa kita bayangkan. []




















































