Mubadalah.id – Ada perasaan tak biasa kala menyaksikan laga matchday kedua Piala Dunia 2026 antara Ceko melawan Afrika Selatan. Bukan sebab tajuk laga panas yang menyemat pada laga itu. Namun, lantaran munculnya sosok pengadil lapangan (wasit) perempuan untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia.
Asosiasi Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) selaku panitia penyelenggara menunjuk wasit perempuan asal Amerika Serikat, Tori Penso, selaku hakim laga. Tori merupakan wasit perempuan yang sebelumnya pernah memimpin partai final Piala Dunia Wanita tahun 2023 silam.
Pada laga Ceko kontra Afrika Selatan, Tori Penso berdampingan dengan tiga wasit perempuan lain, yakni Brooke Mayo, Kathryn Nesbitt, serta Katia Itzel Garcia. Mayo dan Nesbitt merupakan rekan senegara Tori. Keduanya beroleh tugas sebagai hakim garis. Sementara, Katia bertindak sebagai wasit cadangan.
Kemunculan wasit perempuan di ajang Piala Dunia 2026 merupakan peristiwa penting dalam diskursus feminisme di ajang olahraga. Stereotip bahwa sepakbola melulu dianggap sebagai olahraga maskulin kini seakan runtuh. Piala Dunia 2026 menandai betapa perempuan juga berhak ambil bagian sebagai figur utama.
Meruntuhkan tokenisme “perempuan penghibur”
Peranan wasit dalam setiap laga sepakbola memiliki kedudukan vital. Di tangan sang referee lah laga dapat berjalan sesuai dengan aturan main (rules of the game / ROTG) yang menjadi kesepakatan internasional. Tanpa kehadiran wasit, mustahil sebuah laga sepakbola bisa berjalan adil.
Pemahaman itu mengantarkan publik pada betapa kehadiran wasit perempuan di ajang seakbar Piala Dunia 2026 telah meruntuhkan kurungan tokenisme di bidang olahraga. Sebelumnya, perempuan seringkali hanya beroleh panggung samping sebagai tukang penghibur (cheer leader).
Apabila jeli menyimak gelaran Piala Dunia tiap tahunnya, FIFA selalu memasang figur perempuan “seksi” untuk menjadi pengibur di pembukaan (opening ceremony) maupun penutupan turnamen (closing ceremony). Mereka biasanya merupakan penyanyi atau sejenisnya yang masyhur jelita dan acap memamerkan keindahan fisiknya.
Kebiasaan lama itu sebelumnya tak banyak mendapat kesangsian publik. Padahal, pemosisian itu telah meminggirkan dan mengkotakkan perempuan sekadar sebagai alat untuk memanen engagement. Syukurnya, FIFA kini telah menginsafi hal itu, meski masih dalam skala kecil.
Merdeka dari jerat seksisme dan algoritma
Sebelumnnya, Kim Toffoletti (2018) dari Deakin University, Australia, pernah menyoroti seksisme perempuan di ajang sepakbola. “Ideas about women as passive objects for male consumption have given way to images of women “choosing” to present themselves in sexualised ways,” tulis associate professor di bidang Sosiologi itu.
Menurut Toffoletti, seksisme yang memerangkap perempuan sekadar sebagai pemuas hasrat lelaki telah memaksa mereka untuk selalu tampil menggairahkan. Di industri olahraga yang dominan maskulin seperti Piala Dunia, hampir bisa dipastikan bahwa lewat panggung keseksian lah perempuan bisa mendapat sorotan.
“For women fans who don’t look this way, or choose not to, the cost is media invisibility,” tegas Toffoletti. Parahnya lagi, algoritma media sosial (medsos) mempererat kekangan jerat itu. Medsos kerap menempatkan perempuan berdasarkan kemenarikan ragawinya (physical attractiveness), sehingga seksisme pun tampak sebagai norma lazim.
Namun, tampilnya Tori Penso beserta tiga rekan sejawatnya di perhelatan Piala Dunia 2026 telah membuka pintu kemerdekaan perempuan dari jerat seksisme dan algoritma media tersebut. Orang kini sadar bahwa perempuan tak kalah tegas, berani, objektif, juga adil dari lelaki. Tak boleh ada sekat gender untuk sebuah profesionalitas.
Kemunculan perempuan sebagai pengadil andal sebetulnya juga memantik diskusi ke domain syariat, seperti aturan bahwa seorang saksi lelaki senilai harganya dengan dua orang perempuan. Jika integritas (tsiqqah) seharusnya tak memandang gender, lalu mengapa keduanya dibedakan? []












































