Mubadalah.id – Dua dekade setelah Film Taare Zameen Par rilis, apakah Ishaan seorang anak disabilitas disleksia hanya ada dalam cerita fiktif, atau masih duduk pada bangku-bangku sekolah kita?
Ishaan Awasthi adalah seorang anak laki-laki berusia delapan tahun yang suka berimajinasi dan menggambar. Namun, dibalik kreativitasnya, ia mengalami sebuah ganggungan belajar yang membuatnya kesulitan mengenali huruf, membaca, mengeja dan menulis atau disleksia.
Orang tua, guru, dan lingkungan melabeli Ishaan sebagai anak yang malas, nakal, bodoh, dan pembangkang karena mereka tidak memahami kondisinya yang kerap salah membaca, tidak menyelesaikan tugas, dan bersikap yang dinilai melawan saat pembelajaran berlangsung.
Orang tuanya kemudian memindahkan Ishaan ke asrama, berharap bisa membuat Ishaan lebih baik. Alih-alih mendapatkan lingkungan yang mendukung, ia terus menerima hukuman dan tekanan hingga kehilangan kepercayaan diri.
Kehidupannya mulai berubah ketika bertemu dengan guru seni baru, Ram Shankar Nikumbh. Mulai merasa janggal ketika Ishaan hanya berdiam saat pembelajaran berlangusung. Ram Shankar mulai mengamati bagaimana Ishaan saat mengeja, membaca dan menulis, hingga menyadari bahwa kesulitan membaca bukan disebabkan oleh kekurangan kecerdasan atau kemauan belajar, melainkan disleksia.
Guru tersebut berusaha untuk memberikan wadah belajar bagi Ishaan dan dukungan penuh, seperti menggambar di alam terbuka dan belajar membaca secara privat. Hingga akhir film Taare Zameen Par, Ishaan berhasil menjadi juara dalam sebuah festival melukis yang diadakan sekolah. Momen ini juga membuka pikiran orang-orang yang pernah meremehkan Ishaan.
Kenapa Terlambat Menyadari?
Anak seperti Ishaan sering kali terlambat dalam menyadari karena tidak memiliki kemampuan belajar, namun karena kerap menyalahartikan kesulitan mereka. Ketika seorang anak kesulitan membaca, menulis atau mengeja, lebih mudah menganggapnya bodoh atau malas belajar. Padahal bagi sebagian anak, kondisi tersebut menjadi tanda adanya kesulitan belajar yang membutuhkan pendekatan berbeda.
Konsep penilaian kemampuan siswa seringkali hanya bertumpu pada hasil akademik. Anak pintar dan nilainya bagus adalah mereka yang mampu membaca lancar, menulis rapi, dan memperoleh nilai tinggi. Sebaliknya, anak yang tertinggal dalam keterampilan tersebut lebih cepat memberikan label negatif daripada mencari penyebab kesulitannya. Sistem ini menyebabkan potensi pada bidang lain, seperti seni, kreativitas, atau kemampuan memecahkan masalah, sering kali tidak mendapat perhatian.
Kurangnya pemahaman mengenai disleksia juga menjadi faktor yang membuat anak seperti Ishaan terlambat memperoleh bantuan. Tidak semua guru maupun orang tua mampu mengenali tanda-tanda awal disleksia, disabilitas yang tak nampak. Menganggap kesalahan membaca huruf, kesulitan mengeja, atau lambat memahami sebagai bagian dari proses belajar biasa.
Kondisi di Indonesia
Disleksia masuk dalam kategori disabilitas intelektual sebagaimana tercantum dalam UU No 8 tahun 2016.
Anak seperti Ishaan masih mungkin ada pada ruang-ruang kelas, utamanya sekolah dasar. Tantangannya bukan hanya disleksia itu sendiri, tetapi minimnya pengetahuan disleksia sejak dini. Akibatnya anak seringkali baru mendapatkan perhatian setelah mengalami kesulitan belajar yang berkepanjangan.
Hingga kini Indonesia belum memiliki data nasional yang menggambarkan secara pasti jumlah anak yang mengalami disleksia. Namun, jika ,mengacu pada data Asosiasi Disleksia Indonesia memperkirakan bahwa 10-15% anak usia sekolah di dunia mengalami disleksia. Dengan jumlah anak sekolah di Indonesia sekitar 50 juta, estimasi ada sekitar 5 juta anak yang mengalami disleksia.
Penelitian dalam Edukatika (2025) menemukan bahwa meskipun sekolah telah menerima siswa dengan disleksia, pembelajaran masih cenderung menggunakan metode yang sama untuk semua siswa. Guru masih banyak mengandalkan ceramah, membaca bersama, dan menyalin dari papan tulis.
Kondisi ini membuat siswa disleksia mengalami kesulitan akademik, kehilangan rasa percaya diri, bahkan menarik diri dari pergaulan di sekolah. Penelitian tersebut merekomendasikan pembelajaran multisensori, pembelajaran dalam kelompok kecil, serta penyesuaian metode penilaian agar siswa dapat belajar sesuai kebutuhannya.
Refleksi dari Film Taare Zameen Par
Film Taare Zameen Par tersebut memberi refleksi mendalam, bahwa peran guru tidak berhenti pada menyampaikan materi pelajaran. Guru juga berperan mengenali karakter, potensi, dan kebutuhan setiap peserta didik. Dalam kelas yang beragam, pendekatan yang sama belum tentu memberikan hasil yang sama bagi semua anak. Ada kalanya seorang siswa memerlukan cara belajar yang berbeda agar dapat menunjukkan kemampuannya.
Dalam upaya mewujudkan pendidikan inklusif, sosok seperti Nikumbh menjadi pengingat bahwa perubahan sering kali mulai dari hal sederhana, seperti mendengarkan, mengamati, dan tidak terburu-buru memberi label kepada anak. Sebab, seorang guru yang memahami muridnya bukan hanya membantu mereka memperoleh nilai yang lebih baik, tetapi juga menjaga kepercayaan diri dan masa depan mereka. []










































