Mubadalah.id – Seorang laki-laki dapat mengalami ketidaksuburan karena: pertama, ia tidak menghasilkan cukup banyak sperma. Bisa juga karena spermanya tak cukup sehat: tak mampu menuju saluran telur perempuan, atau spermanya tak mampu membuahi sel telur perempuan meskipun mampu berenang mencapainya.
Kedua, ia pernah terkena penyakit beguk sesudah masa pubernya, sehingga kantong pertama sperma (testikel) mengalami kerusakan. Sesudah itu ia memang masih mengeluarkan air mani (ejakulasi), tetapi air maninya sudah tidak mengandung sperma sama sekali.
Ketiga, spermanya tidak bisa meninggalkan penis, sebab ada bekas-bekas luka di saluran spermanya, peninggalan penyakit yang menular lewat hubungan seks, entah yang dari masa lalu atau sekarang.
Keempat, ada pembengkakan pembuluh darah di buah pelirnya KB (varikosel).
Kelima, ia mengalami masalah dalam berhubungan seks akibat: penisnya tidak bisa mengeras (tak bisa ereksi), penisnya bisa mengeras. Tapi sesudah penetrasi (masuk ke vagina) lalu loyo.
Keenam, ia mengalami orgasme terlalu cepat (ejakulasi yang terlalu dini): air mani sudah keluar sebelum penisnya masuk cukup jauh ke dalam vagina.
Ketujuh, ia mengidap penyakit-penyakit tertentu yang bisa merusak kesuburan lelaki: kencing manis/penyakit gula (diabetes), tuberkulosis (TBC), malaria, dsb.
Ketidaksuburan pada Perempuan
Penyebab utama ketidaksuburan pada perempuan antara lain sebagai berikut:
Pertama, terdapat jaringan parut atau luka pada saluran telur (tuba falopi) maupun rahim. Jika saluran telur mengalami kerusakan atau tersumbat akibat jaringan parut, sel telur dapat terhambat dalam perjalanannya menuju rahim.
Sebaliknya, sperma juga dapat kesulitan mencapai sel telur untuk melakukan pembuahan. Apabila jaringan parut terdapat pada rahim, sel telur yang telah dibuahi mungkin tidak dapat menempel pada dinding rahim.
Seseorang dapat memiliki jaringan parut tersebut tanpa menyadarinya karena sering kali tidak menimbulkan rasa sakit. Akibatnya, penyebab ketidaksuburan baru diketahui bertahun-tahun kemudian.
Jaringan parut ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
- Infeksi akibat penyakit menular seksual yang tidak diobati hingga menyebar ke saluran telur atau rahim.
- Radang mulut rahim yang tidak mendapatkan penanganan yang memadai.
- Pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR/spiral) yang Anda lakukan dalam kondisi tidak steril sehingga menimbulkan infeksi yang berawal dari mulut rahim.
- Komplikasi atau masalah yang tersisa setelah operasi pada area vagina, rahim, saluran telur, atau indung telur.
Tidak Memproduksi Sel Telur
Kedua, tubuh tidak memproduksi sel telur atau tidak terjadi pelepasan sel telur (ovulasi). Kondisi ini dapat terjadi apabila tubuh tidak menghasilkan hormon-hormon yang Anda perlukan dalam jumlah yang cukup atau pada waktu yang tepat.
Perempuan perlu waspada apabila siklus haid berlangsung kurang dari 25 hari atau lebih dari 35 hari. Jika kondisi tersebut terjadi dan kehamilan belum juga terjadi meskipun hubungan seksual Anda lakukan secara teratur tanpa kontrasepsi, bisa jadi terdapat gangguan ovulasi.
Dalam beberapa kasus, tanda-tanda gangguan ovulasi dapat Anda kenali dari perubahan kondisi tubuh. Misalnya, berat badan turun secara drastis atau sebaliknya mengalami kelebihan berat badan. Kedua kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam menghasilkan dan melepaskan sel telur.
Ketiga, terdapat pertumbuhan daging di dalam rahim (fibroid atau mioma). Kondisi ini dapat menghambat perkembangan janin di dalam rahim atau membuat rahim kesulitan mempertahankan kehamilan hingga cukup bulan.
Keempat, adanya penyakit-penyakit tertentu yang juga dapat memengaruhi kesuburan perempuan, sebagaimana terjadi pada laki-laki. Beberapa di antaranya adalah diabetes, tuberkulosis (TBC), malaria, dan berbagai penyakit lainnya.
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 301.










































