Mubadalah.id – Kebanyakan orang, baik laki-laki maupun perempuan, merasa yakin bahwa dirinya mampu memiliki keturunan. Padahal, dalam kenyataannya sekitar satu dari sepuluh pasangan mengalami kesulitan untuk memiliki anak.
Memang, ada sebagian laki-laki maupun perempuan yang tidak berniat memiliki anak atau memang tidak menginginkan keturunan. Namun, bagi pasangan yang sangat mendambakan kehadiran buah hati, ketidaksuburan merupakan kenyataan pahit yang dapat menimbulkan kekecewaan, kemarahan, bahkan keputusasaan.
Mungkin Anda sendiri pernah menyaksikan kisah nyata seperti ini, atau bahkan mengalaminya sendiri. Ketika suatu pasangan tidak kunjung memiliki keturunan, pihak perempuanlah yang sering kali disalahkan. Perselisihan yang berkepanjangan, bahkan perceraian, tidak jarang berawal dari persoalan tersebut.
Padahal, sekitar separuh dari seluruh kasus ketidaksuburan justru berasal dari pihak laki-laki. Sayangnya, banyak laki-laki yang enggan menerima kenyataan bahwa dirinya mungkin mengalami ketidaksuburan. Mereka juga sering kali menolak kemungkinan bahwa masalah tersebut dapat berasal dari kedua belah pihak.
Ketika kemungkinan itu kita sampaikan, tidak sedikit yang marah, menolak menjalani pemeriksaan, atau tetap tidak percaya meskipun hasil pemeriksaan istrinya menunjukkan bahwa ia tidak mengalami gangguan kesuburan.
Penyebabnya
Mengapa hal itu bisa terjadi? Salah satu penyebab utamanya adalah cara pandang masyarakat. Di banyak lingkungan, anak masih sebagai bukti “kejantanan” seorang ayah. Laki-laki juga berharap memiliki banyak keturunan, terutama anak laki-laki.
Akibatnya, ketidaksuburan bukan hanya dipandang sebagai persoalan pribadi yang mengecewakan, tetapi juga sebagai sesuatu yang memalukan secara sosial.
Maka dari itu, kita akan membahas persoalan kemandulan atau ketidaksuburan, baik pada laki-laki maupun perempuan. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami ketidaksuburan. Sebagian penyebab dapat Anda atasi melalui pengobatan atau perubahan gaya hidup, sementara sebagian lainnya harus menerimanya sebagai kenyataan.
Melalui pembahasan ini, kami mengajak Anda memahami berbagai aspek ketidaksuburan sekaligus mengenali langkah-langkah yang dapat Anda lakukan untuk menghadapinya. Yang terpenting, jangan sampai ketidaksuburan menjadi penghalang untuk tetap menjalani kehidupan yang bahagia dan bermakna. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 300.









































