Sabtu, 14 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    Sejarah Difabel

    Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

    Krisis Lingkungan

    Perempuan, Alam, dan Doa: Tafsir Fikih Ekoteologis atas Krisis Lingkungan

    Kehilangan Tak Pernah Mudah

    Kehilangan Tak Pernah Mudah: Rasul, Duka, dan Etika Menjenguk yang Sering Kita Lupa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    Kegagalan Perkawinan

    Kegagalan Adaptasi dan Pentingnya Kafa’ah dalam Perkawinan

    Relasi Suami-Istri

    Relasi Suami-Istri dan Dinamika Perubahan dalam Perkawinan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    Sejarah Difabel

    Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

    Krisis Lingkungan

    Perempuan, Alam, dan Doa: Tafsir Fikih Ekoteologis atas Krisis Lingkungan

    Kehilangan Tak Pernah Mudah

    Kehilangan Tak Pernah Mudah: Rasul, Duka, dan Etika Menjenguk yang Sering Kita Lupa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    Kegagalan Perkawinan

    Kegagalan Adaptasi dan Pentingnya Kafa’ah dalam Perkawinan

    Relasi Suami-Istri

    Relasi Suami-Istri dan Dinamika Perubahan dalam Perkawinan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom

Perempuan Sebaiknya Bekerja Menurut Islam, Mengapa?

Mubadalah by Mubadalah
1 November 2022
in Kolom
A A
0
Perempuan Sebaiknya Bekerja Menurut Islam

Perempuan Sebaiknya Bekerja Menurut Islam

6
SHARES
301
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Pandangan bahwa kewajiban memberi nafkah dalam keluarga ada pada laki-laki seringkali menuntun orang untuk menganggap bahwa kemandirian ekonomi perempun tidak penting. Padahal perempuan sebaiknya bekerja menurut Islam.

Cara pikir kebanyakan orang, sekarang ada ayah yang memberikan nafkah pada perempuan, dan kelak ada suami yang menggantikan fungsi tersebut. Tidak jarang cara berfikir seperti ini juga menuntun orangtua melarang anak perempuannya sekolah tinggi karena memandang hal tersebut tidak berguna. Bahkan ketika berhasil menyelesaikan pendidikan formal jenjang tertinggi pun seseorang bisa tidak bekerja karena suami melarangnya.

Mengapa perempuan sebaiknya bekerja menurut Islam? Berikut penjelasannya.

Kewajiban Nafkah dan Kontribusi Perempuan di Masa Rasulullah

Kewajiban laki-laki untuk menafkahi perempuan didasarkan pada QS. An-Nisa (4:34) sebagai berikut:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ….

“Laki-laki adalah penaggungjawab bagi perempuan karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki dan perempuan) atas sebahagian yang lain (laki-laki dan perempuan), dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka....”. (QS. 4: 34).

Para mufasir pada umumnya menekankan tentang kewajiban laki-laki memberikan nafkah pada keluarga. Dalam kitab tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Al-Qurthubi menegaskan kewajiban seorang suami untuk menafkahi istrinya. Jika ia tidak mampu melakukan kewajiban ini, maka istri berhak mengajukan fasakh (pembatalan nikah) karena tujuan pernikahan tidak tercapai. Penegasan ini juga terdapat di berbagai kitab fiqh al-Ahwal asy-Syakhsyiyyah yang membahas tentang kewajiban suami istri, yang diadopsi dalam UU Nomer 1 tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 34 ayat (1) dan Kompilasi Hukum Islam pasal 80 ayat (2) dan (4).

Tetapi, kewajiban suami mencari nafkah dalam keluarga tidak disebutkan dalam aturan mana pun sebagai larangan istri atau perempuan bekerja. Pada masa Rasulullah Saw. pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan oleh perempuan sangatlah beragam. Istri Rasulullah Saw yang bernama Khadijah binti Khuwailid Ra dikenal sebagai pebisnis perempuan yang disegani, produknya dipasarkan hingga ke berbagai kota yang sekarang menjadi negara, mempunyai banyak karyawan laki-laki di antaranya adalah Rasulullah Saw sendiri. Beliau terus melanjutkan bisnisnya setelah menikah dengan Rasulullah Saw bahkan turut membiayai perjuangan beliau.

Perempuan lain ada yang menjadi perias pengantin, seperti Ummu Salim binti Malhan, menyamak kulit binatang seperti Zainab binti Jahsy Ra. Beberapa sahabat perempuan Nabi juga ada yang bekerja sebagai pencari nafkah tunggal keluarganya seperti Raithah, istri sahabat Nabi yang bernama Abdullah ibn Mas’ud. Hal ini terus berlanjut setelah Rasulullah Saw wafat. Khalifah Umar bin Khathab mengangkat perempuan bernama Asy-Syifa’, seorang perempuan yang pandai menulis, menjadi kepala pasar di kota Madinah.

Perempuan juga terlibat dalam peperangan seperti Ummu Salamah (istri Nabi), Shafiyah, Laila Al-Ghaffariyah, Ummu Sinam Al-Aslamiyah. Sebagian dari mereka aktif di dapur umum juga melakukan perawatan pasukan yang mengalami cidera. Namun demikian sejarah juga mencatat bahwa kiprah perempuan dalam peperangan tidak sebatas itu.

Khairuddin az-Zirkly dalam kitab Al-A’lam terbitan Darul Ilmi Lilmayalin tahun 2002 menjelaskan kisah heroik sahabat perempuan Nabi yang bernama Nusaibah bintu Ka’ab al-Anshoriyyah. Sahabat Nabi yang dikenal juga dengan panggilan Ummu Amarah ini terlibat dalam banyak peperangan seperti Uhud, Hudaibah, Khaibar, Hunain, dan juga banyak meriwayatkan hadis. Keterlibatan beliau dalam perang tidak hanya di dapur dan perawatan umum melainkan terjun langsung dalam peperangan. Ketika ikut perang Uhud ia terluka parah. Ada lebih dari 12 luka di tubuhnya karena tombak, panah, maupun pedang. Saat itu, ia mati-matian membela Rasulullah Saw ketika sahabat Nabi lainnya. Ibunya bahkan ikut dalam perang tersebut dan mengobati lukanya.

LARANGAN PEREMPUAN BEKERJA DENGAN DEMIKIAN BERTENTANGAN DENGAN FAKTA SEJARAH YANG MENUNJUKKAN AKTIFNYA PEREMPUAN PADA MASA RASULULLAH DI RUANG PUBLIK.

Di kemudian hari, setiap bercerita tentang perang Uhud, Rasulullah Saw selalu mengenang sahabat perempuan ini dan menceritakan bahwa saat itu  kanan kiri beliau selalu dijaga ketat oleh Nusaibah. Ia melindungi beliau secara penuh. Nusaibah bahkan masih terus aktif ikut perang setelah Rasulullah Saw wafat. Ketika perang Yamamah, ia berada di garda depan. Tangannya terputus dan terluka parah sehingga harus dipulangkan ke Madinah untuk diobati dan dikunjungi oleh khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq.

Larangan Perempuan Bekerja Bertentangan Fakta Sejarah

Larangan perempuan bekerja dengan demikian bertentangan dengan fakta sejarah yang menunjukkan aktifnya perempuan pada masa Rasulullah di ruang publik, bahkan Rasulullah Saw membolehkan perempuan bekerja saat iddah sebagaimana diceritakan oleh riwayat berikut:

عَنْ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ طُلِّقَتْ خَالَتِي فَأَرَادَتْ أَنْ تَجُدَّ نَخْلَهَا فَزَجَرَهَا رَجُلٌ أَنْ تَخْرُجَ فَأَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَلَى فَجُدِّي نَخْلَكِ فَإِنَّكِ عَسَى أَنْ تَصَدَّقِي أَوْ تَفْعَلِي مَعْرُوفًا (رواه مسلم، رقم الحديث: 3794).

“Dari Jabir bin Abdillah Ra ia bercerita bahwa bibinya dicerai dan keluar rumah untuk memetik kurma. Di jalan, ia dihardik seseorang karena keluar rumah. Kemudian ia mendatangi Rasululllah Saw dan menceritakan kejadian yang menimpanya. “Ya silahkan keluar petiklah kurmamu itu. Dengan demikian kamu bisa bersedekah atau berbuat baik (kepada orang lain dengan kurmamu itu)”. (Riwayat Muslim, no. 3794).

Alasan Sebaiknya Perempuan Bekerja 

Sebaiknya perempuan bekerja menurut Islam perlu didorong untuk sekolah setinggi mungkin dan mempunyai pekerjaan yang bisa menghidupi diri dan keluarganya karena beberapa hal. Pertama, tidak semua perempuan mempunyai suami yang bisa sendirian mencukupi kebutuhan keluarga. Perempuan yang mempunyai pekerjaan dapat bahu membahu memenuhi kebutuhan keluarga bersama suami. Kedua, rejeki suami sebagaimana rejeki istri tidak ada yang menjamin terus menerus lancar sehingga suami yang sedang lancar rejekinya juga sewaktu-waktu bisa bangkrut, mereka yang punya posisi bagus di sebuah perusahaan juga bisa kena PHK. Ketiga, tidak semua laki-laki setia kepada istri dan keluarga sepanjang usia perkawinan sehingga perempuan bisa sewaktu-waktu ditelantarkan suami kemudian harus menghidupi sendiri anak-anaknya. Keempat, Allah tidak memberikan jaminan bahwa usia suami pasti lebih panjang daripada istri sehingga perempuan bisa sewaktu-waktu ditinggal mati oleh suami lalu menjadi pencari nafkah tunggal keluarga.

Pada realitasnya, banyak sekali perempuan yang mengalami kondisi dinikahkan di usia dini, kemudian putus sekolah, lalu tidak bekerja karena mengurus anak, kemudian ditelantarkan begitu saja oleh suami, atau suami tiba-tiba dipanggil yang Maha Kuasa sehingga tiba-tiba mau tidak mau harus bekerja menafkahi diri dan anak-anaknya sendiri. Sekolah rendah menyebabkan daya tawar perempuan di bursa kerja juga rendah. Akhirnya hanya pekerjaan-perkejaan beresiko tinggi yang bisa didapat mereka. Misalnya pekerjaan yang mengharuskan mereka tinggal beda kota atau negara dengan anak-anaknya. Dalam kondisi kepepet seperti itu, perempuan juga rentan menjadi korban perdagangan perempuan dengan modus tawaran pekerjaan.

Tentu saja perempuan dan laki-laki sama-sama diperintahkan untuk berbuat baik dan mencegah yang mungkar dalam bekerja, mereka sama-sama diperintahkan menjaga sikap dan kehormatan dengan baik, sama-sama diperintahkan untuk menahan pandangan, menjaga kehomatan, tidak melakukan perbuatan yang mendekati zina apalagi melakukan zina, karena keduanya di samping akan dimintai pertanggungjawaban atas pekerjaan mereka di dunia oleh pimpinan, mereka juga sama-sama akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt di akherat kelak.

Ketika laki-laki dan perempuan diperintahkan untuk tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan. Demikian pula laki-laki dan perempuan dalam kehidupan perkawinan. Mereka perlu bahu membahu memikirkan strategi yang tepat untuk menjalankan kewajiban dalam rumah tangga seperti memenuhi nafkah keluarga dan membesarkan anak-anak agar bisa tumbuh kembang secara maksimal. Ketika suami kebetulan tidak mampu menafkahi keluarga karena sesuatu hal, maka ada pilihan lain agar perkawinan tidak rusak karena suami dan istri bisa mengambil strategi bertukar peran di mana istri yang mencari nafkah dan suami bertanggungjawab atas semua urusan domestik sehingga suami dan istri tetap berbagi tugas secara proporsional. Wallahu a’lam bish-showab.

Penulis: Nur Rofi’ah, Dosen tafsir di UIN Syarif Hidayatullah dan Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ) Jakarta.

Tags: keluargaperempuanperempuan beerja
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

3 Pola Parenting dalam Film CODA yang Dapat Kita Pelajari

Next Post

Iblis Laki-laki atau Perempuan?

Mubadalah

Mubadalah

Portal Informasi Popular tentang relasi antara perempuan dan laki-laki yang mengarah pada kebahagiaan dan kesalingan dalam perspektif Islam.

Related Posts

Visi Keluarga
Pernak-pernik

Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

13 Februari 2026
Konsep Keluarga
Pernak-pernik

Konsep Keluarga dalam Islam

13 Februari 2026
qurrata a’yun
Pernak-pernik

Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

12 Februari 2026
Doa Keluarga
Pernak-pernik

Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

11 Februari 2026
Sains
Publik

Sains Bukan Dunia Netral Gender

11 Februari 2026
The Tale of Rose
Film

Satu Mawar, Empat Cinta: Transformasi Karakter Huang Yi Mei dalam Drama Cina “The Tale of Rose”

10 Februari 2026
Next Post
Iblis laki-laki atau perempuan?

Iblis Laki-laki atau Perempuan?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh
  • Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural
  • Konsep Keluarga dalam Islam
  • Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan
  • Makna Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0