Jumat, 6 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Cinta Bukan Kepemilikan

    Cinta Bukan Kepemilikan, Kekerasan Bukan Jalan Keluar

    Kesetaraan Gender

    Kesetaraan Gender: Bukan Kemurahan Hati, Melainkan Mandat Peradaban

    Curu Pa'dong

    Tradisi Curu Pa’dong: Mengikat Cinta, Keluarga, dan Kehidupan

    Hari Kemenangan

    Difabel, Hari Kemenangan (Raya), dan Mendambakan Kesejahteraan

    Stigma Janda

    Cerai Bukan Aib: Menghapus Stigma Janda dalam Perspektif Islam

    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (2): Asas-asas Maslahat dalam Pernikahan

    Pengalaman Perempuan

    Mengapa Pengalaman Perempuan Harus Dituliskan?

    Merayakan Lebaran

    Merayakan Lebaran: Saat Standar Berbusana Diam-diam Membebani, Bukan Membahagiakan

    Pernikahan Disabilitas

    Lebih dari yang Tampak: Pernikahan Disabilitas, dan Martabat Kemanusiaan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Hak Perempuan

    Hak Perempuan dan Kebijakan Kependudukan dalam Pengendalian TFR

    Demografi

    Indonesia di Titik Kritis Demografi Menuju Indonesia Emas 2045

    Ramadan

    Ramadan sebagai Bulan Pembebasan

    Ramadan

    Meski Dhaif, Konsep Tiga Fase Ramadan Tetap Populer di Masyarakat

    Rahmat

    Ramadan Adalah Bulan Penuh Rahmat dan Ampunan

    Tanggung Jawab

    QS. Al-Baqarah 233 Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab Bersama dalam Pengasuhan Anak

    Timbal Balik dalam

    QS. Al-Baqarah 187 dan 232 Tegaskan Prinsip Timbal Balik dan Kerelaan dalam Pernikahan

    Kemitraan

    Al-Qur’an Tegaskan Fondasi Kemitraan Suami Istri dalam QS ar-Rum 21 dan an-Nisa 19

    Hijrah

    Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Cinta Bukan Kepemilikan

    Cinta Bukan Kepemilikan, Kekerasan Bukan Jalan Keluar

    Kesetaraan Gender

    Kesetaraan Gender: Bukan Kemurahan Hati, Melainkan Mandat Peradaban

    Curu Pa'dong

    Tradisi Curu Pa’dong: Mengikat Cinta, Keluarga, dan Kehidupan

    Hari Kemenangan

    Difabel, Hari Kemenangan (Raya), dan Mendambakan Kesejahteraan

    Stigma Janda

    Cerai Bukan Aib: Menghapus Stigma Janda dalam Perspektif Islam

    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (2): Asas-asas Maslahat dalam Pernikahan

    Pengalaman Perempuan

    Mengapa Pengalaman Perempuan Harus Dituliskan?

    Merayakan Lebaran

    Merayakan Lebaran: Saat Standar Berbusana Diam-diam Membebani, Bukan Membahagiakan

    Pernikahan Disabilitas

    Lebih dari yang Tampak: Pernikahan Disabilitas, dan Martabat Kemanusiaan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Hak Perempuan

    Hak Perempuan dan Kebijakan Kependudukan dalam Pengendalian TFR

    Demografi

    Indonesia di Titik Kritis Demografi Menuju Indonesia Emas 2045

    Ramadan

    Ramadan sebagai Bulan Pembebasan

    Ramadan

    Meski Dhaif, Konsep Tiga Fase Ramadan Tetap Populer di Masyarakat

    Rahmat

    Ramadan Adalah Bulan Penuh Rahmat dan Ampunan

    Tanggung Jawab

    QS. Al-Baqarah 233 Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab Bersama dalam Pengasuhan Anak

    Timbal Balik dalam

    QS. Al-Baqarah 187 dan 232 Tegaskan Prinsip Timbal Balik dan Kerelaan dalam Pernikahan

    Kemitraan

    Al-Qur’an Tegaskan Fondasi Kemitraan Suami Istri dalam QS ar-Rum 21 dan an-Nisa 19

    Hijrah

    Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Sastra

Ibu, Jika Surga (Tak) Berada di Bawah Telapak Kakimu

Jika takdir bisa dipesan, aku ingin meminta Ibu yang kuat, yang setelah melahirkanku, tidak meninggalkanku tergeletak di dekat tong sampah dengan tubuh bayiku yang telanjang

Nikmara by Nikmara
9 Oktober 2022
in Rekomendasi, Sastra
A A
0
Ibu

Ibu

49
SHARES
2.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Jika surga berada di bawah telapak kaki Ibu, lantas bagaimana denganku yang tidak punya Ibu?

Jika surga berada di bawah telapak kaki Ibu, lantas bagaimana nasibku yang dibuang orangtuaku?

Jika surga berada di bawah telapak kaki Ibu, lantas bagaimana dengan kelahiranku yang tak diinginkan?

Mubadalah.id – Orang lain menikmati masa-masa indah dipeluk, dicium, dicintai, disayangi, oleh sosok ayah-ibu. Sementara aku harus berjuang keras mengusahakannya sendiri. Mengimajinasikan pelukan hangat sesekali, namun tetap saja aku tak mampu. Aku tak punya pengalaman semacam itu. Hanya pelukan dari hujan, awan hitam, halilintar dan dinding dingin di pojokan gorong-gorong jembatan tempatku menghabiskan masa kecilku hingga remaja.

Pelukan Imajiner

Selama hidup, wajah suram adalah wajah yang paling bisa kutunjukkan pada dunia. Hanya wajah itu yang kumiliki. Seolah senyum adalah kemewahan. Aku hidup dalam lorong kecemasan dan ketakutan, namun sekuat badan aku mesti menahannya. Aku hanya bisa marah sesekali, dan memprotes pada semesta dengan wajah galakku. Namun demikian, masyarakat, kerumunan itu, menuntut banyak sekali hal. Saat aku bersikap kejam dan keras, orang-orang berkata bahwa aku adalah anak kurangajar yang kurang didikan orangtua.

Kau tahu betapa irinya aku memandang mereka yang setiap ada masalah langsung pulang ke rumah dan memeluk ibunya, ayahnya? Mereka punya tempat bersandar, tempat pelarian, tempat rebahkan segala gundah dan kecemasan. Setiap ada masalah, aku hanya akan meringkuk di balik selimutku yang lusuh, memeluk diri sendiri dengan luka yang tak pernah luruh.

Pernah aku berlari pada kekasihku, namun toh akhirnya dia mengkhianatiku. Pernah kuberlari pada temanku, toh akhirnya merekapun meninggalkanku. Semua orang yang kutuju menjauh dariku karena tak tahan denganku sebab kata mereka, aku adalah manusia setengah penuh. Setengahku manusia, namun setengahnya hanya berisi hasrat-hasrat setan, sebagai akibat dari takdir yang mengantarkanku menjadi anak yang tak jelas asal-muasal.

Cinta seorang ibu yang (katanya) abadi itu tak pernah aku miliki. Cinta yang tak perduli betapa buruk dan menyebalkannya aku. Betapa jelek dan rusaknya diriku. Menurutmu, seberapa besar kekuatan yang aku butuhkan untuk bertahan di tengah dunia tak adil ini?

Garis Darah yang Tak Jelas

Saat aku melakukan kesalahan, orang-orang menyudutkanku, menuduhku sebagai anak tak tahu didikan. Benar, aku memang tak tahu didikan. Begitu lahir aku dilepas ke alam bebas memasuki rimba raya. Hukum yang kupelajari adalah hukum saling memangsa, seleksi alam, yang kuat yang menang. Orang-orang yang punya ibu tak akan mengerti pahit dan perihnya berdiri seorang diri, tak tahu lahir dari rahim siapa, darah yang mengalir di tubuh ini darah siapa, saat bercermin aku entah mirip siapa?

Dalam hal ini tak ada solusi untukku. Setiap kali orang menasehatiku, aku tahu mereka hanya memberi rasa simpati sedikit agar aku tak merasa tertekan. Tapi mereka tak benar-benar tahu apa yang kurasakan. Setiap hari aku berkubang dalam pertanyaan mengenai eksistensiku. Siapa aku? Dari mana asal daging dan darah ini? Aku tak tahu asal usulku. Seolah aku lahir dari dunia antah berantah.

Aku tidak minta dilahirkan. Tapi kenapa aku lahir? Aku salah apa? Hingga aku dilempar ke dunia semacam ini. Dunia yang penuh ancaman dan luka. Dunia penuh dominasi di mana orang-orang saling unjuk kehebatan memiliki sesuatu bernama “keluarga”. Celakanya aku lahir tanpa keluarga, tanpa ayah-ibu. Kau tahu betapa kelam dan abu-abunya hidupku?

Tentang Ibu

Suatu hari teman-teman perempuanku membicarakan tentang Ibu, mereka belajar masak bersama, menanam bunga bersama. Teman yang laki-laki disembuhkan, diobati, ditiupi luka di dengkulnya oleh ibu mereka. Ditanyai sudah makan, sudah minum, sudah mandi? Dan dimarahi karena hujan-hujanan sampai sore hari. Ah, perih sekali dada ini. Setiap ada materi di sekolah tentang berbakti pada orang tua, aku hanya mampu meraba-raba, tak jelas hubungan hebat antara anak dan orang tua itu bagaimana?

Kini saat aku dewasa, aku sering mendengar pembicaraan tentang quality time bersama keluarga, liburan bareng, posting foto bareng, perayaan ulang tahun, deep talk. Tentu aku merasa remuk dan koyak. Seandainya aku menjadi sebatang kara karena ditinggal mati orang tuaku, setidaknya ada batu nisan tempatku berkunjung dan menumpahkan airmata. Batu nisanpun ternyata aku tak punya.

Katanya, ibu adalah penentu surga bagi anak. Anak menjadi baik, mencapai surga dunia terbaik dan berada di jalan yang lurus-mulus, semua karena ibunya yang mempersiapkan dan menyediakan segala sesuatunya untuk anaknya. Lantas bagaimana denganku? Teori itu terdengar jahat dan berdengung di telingaku. Tak ada yang menyisir rambutku, menepuk pundakku, menyuguhkan sarapan untukku. Apalagi memilihkan mana jalan yang benar dan yang tidak. Tak ada yang menyiapkan surga untukku.

Bolehkah Aku Menutup Telingaku?

Kadang aku sedih saat mendengar, melihat, dan membaca segudang kisah tentang kebaikan dan keagungan seorang Ibu. Sahabatku sering memposting foto dan story betapa ibunya sangat hebat, baik, pengertian, menyiraminya dengan kasih sayang.

Sementara ayahnya menghujaninya dengan ilmu dan materi yang berkecukupan. Aku bahagia, aku senang mendengarnya, tapi bisakah kau kecualikan aku dari storymu? Bisakah kau bicarakan tema “Ibu” dengan mereka saja yang punya ibu? Bolehkah aku berlari? Bolehkah aku menutup telingaku? Aku ingin sekali menyepi. Aku hanya mampu berteriak dalam hati.

Hatiku luka, sakit, seolah tertusuk pedang tajam. Karena aku tak punya ibu. Tak ada yang menjadi malaikat baik hati yang menyediakan semuanya untukku seperti di dalam kisah-kisah itu. Tentu aku ingin punya ibu. Aku ingin dihujani cinta dan kehangatan semacam itu. Namun kenyataannya, aku harus menjadi ibu dan ayah bagi diriku sendiri. Aku harus merangkul dan menafkahi diri sendiri. Aku bersandar dan merebahkan semua luka pada diri sendiri. Menjadi sebatang kara dan terlunta-lunta di belantara kehidupan ini.

Aku adalah Debu Asing

Kepada siapa aku minta tolong, mengadu, dan menghiba. Buku-buku menyajikan banyak teori tentang bagaimana cara menjadi Ibu yang baik. Namun jarang ada buku yang merangkul dan memberi tutorial pada minoritas tersingkir sepertiku, mengajari caranya menjadi individu sempurna tanpa ibu. Mungkinkah aku bisa sempurna? Aku hanyalah manusia setengah penuh.

Jika aku tumbuh dan besar menjadi monster, orang-orang tak akan perduli, tak akan ada yang memaklumi dan menghukumi wajar, memberikan permakluman bahwa semua terjadi karena aku tak punya orang tua. Mereka hanya akan memberiku seluruh hujatan.

Tak ada yang mau melihat sisi manusiaku, sisi lemahku, kebingungan identitas, bahwa aku tak punya legitimasi genetik di atas muka bumi ini. Aku hanya sosok manusia yang lahir dari debu asing tak bernilai. Lahir dari kesalahan, ketidaksiapan, dan pelarian tanggung-jawab. Dibuang, ditinggal, tak berharga.

Karena aku sendirian, orang-orang merasa bebas menyepelekan dan menghina keberadaanku. Sebab mereka merasa aman, tak akan ada ibu yang marah dan memberi pelajaran pada ibu lain karenaku. Tak akan ada ayah yang “berkelahi” dengan ayah lain demi membelaku.

Aku harus lebih kuat dalam menahan amarah, lebih tabah dalam menghadapi ujian, harus lebih digdaya dalam segala hal. Tak berhenti di sana, akupun harus belajar moral, agama, sopan-santun, hingga ilmu kasih sayang seorang diri. Juga belajar psikologi, untuk mengobati dan membalut luka jiwaku yang begitu lestari. Menjalani hidup sambil mencari obat luka, sambil berjuang mencari uang, mencari kasih sayang, mencari rumah tempat pulang, mencari sandaran, mencari dukungan. Ah tugas hidupku banyak sekali.

Penerimaan

Dan pada akhirnya, mau tak mau, aku harus menerima kenyataan dan keadaan bahwa beginilah adanya diriku. Sejarah hidupku selama 25 tahun sudah tertulis dan tak bisa terhapus. Waktu tak bisa aku putar ulang, masa lalu tidak bisa kita ubah. Mau mengumpat bagaimanapun umpatan itu tak akan bisa menghadirkan sosok ayah dan ibu. Aku hanya mencoba menghayati masa kiniku dan berusaha menjalani kehidupan sebaik-baiknya.

Katanya hidup memang tentang penerimaan. Namun mengaplikasikan konsep nrimo ing pandum sangat susah. Menerima bahwa jatahku di muka bumi ini adalah tidak punya ibu, tidak punya ayah, tidak punya garis darah yang jelas, tidak mudah. Tak ada warisan yang ditinggalkan, bahkan sekedar pertanda, sekedar surat, sekedar jepit rambut atau apa. Aku terbuang, tanpa sehelai benangpun. Satu-satunya pelipur adalah kesadaran bahwa aku tidak ditenggelamkan ke sungai saja itu sudah cukup. Tak apa. Aku masih diberi kesempatan hidup.

Anak Semesta dan Jalan Menuju Surga

Entahlah. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku hanya akan menjalani hidupku dan berusaha sebaik-baiknya. Luka yang melekat akan tetap bersarang. Hanya berharap aku tidak akan terseret dan tersesat lebih jauh ke lorong gelap kehidupan. Terjebak dalam ketidakjelasan dan keputusasaan. Berharap orang mau memahamiku, dan aku berusaha baik kepada mereka. Berharap ada tangan tulus yang mengulur padaku, menggenggam dan menyemangatiku.

Aku anak semesta. Semesta melahirkanku. Di hadapannya aku membentuk keluarga baru. Keluarga yang berisi aku, diriku, dan diriku. Aku menjadi ayah dan ibu bagi diriku sendiri. Sampai barangkali suatu hari aku bisa bertemu manusia baik yang mau membentuk keluarga bersamaku, menciptakan kondisi ideal yang bukan berisi aku dan aku. Melainkan minimal berisi kau dan aku. Semoga.

Terimakasih sudah mau mendengarku. Cerita piluku. Maafkan jika kisahku ini terdengar sinis, pesimis dan dipenuhi gejolak umpatan. Nada-nada egois, serta keinginan muluk yang campur-aduk dengan sedikit daya untuk tetap tabah dan rela. Aku hanyalah manusia setengah penuh, yang berusaha untuk tetap baik-baik saja.

Dan jika surgaku tak berada di bawah telapak kaki Ibu, maka biarkan aku mencipta jalan menuju surgaku sendiri. []

Tags: anakcerpenIbukeluargaRelasiSastra
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mama Dedeh Menolak Islam Nusantara

Next Post

Makna Mubadalah, Membangun Relasi Ideal dalam Islam

Nikmara

Nikmara

Related Posts

Kesetaraan Gender
Publik

Kesetaraan Gender: Bukan Kemurahan Hati, Melainkan Mandat Peradaban

5 Maret 2026
Stigma Janda
Keluarga

Cerai Bukan Aib: Menghapus Stigma Janda dalam Perspektif Islam

5 Maret 2026
Ngaji Manba’us-Sa’adah
Personal

Ngaji Manba’us-Sa’adah (2): Asas-asas Maslahat dalam Pernikahan

4 Maret 2026
Keluarga Berencana
Aktual

Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

4 Maret 2026
Tanggung Jawab
Pernak-pernik

QS. Al-Baqarah 233 Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab Bersama dalam Pengasuhan Anak

4 Maret 2026
Pernikahan Disabilitas
Disabilitas

Lebih dari yang Tampak: Pernikahan Disabilitas, dan Martabat Kemanusiaan

4 Maret 2026
Next Post
Makna Mubadalah

Makna Mubadalah, Membangun Relasi Ideal dalam Islam

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an
  • Cinta Bukan Kepemilikan, Kekerasan Bukan Jalan Keluar
  • Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban
  • Kesetaraan Gender: Bukan Kemurahan Hati, Melainkan Mandat Peradaban
  • Hak Perempuan dan Kebijakan Kependudukan dalam Pengendalian TFR

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0