Kamis, 5 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Stigma Janda

    Cerai Bukan Aib: Menghapus Stigma Janda dalam Perspektif Islam

    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (2): Asas-asas Maslahat dalam Pernikahan

    Pengalaman Perempuan

    Mengapa Pengalaman Perempuan Harus Dituliskan?

    Merayakan Lebaran

    Merayakan Lebaran: Saat Standar Berbusana Diam-diam Membebani, Bukan Membahagiakan

    Pernikahan Disabilitas

    Lebih dari yang Tampak: Pernikahan Disabilitas, dan Martabat Kemanusiaan

    Life After Campus

    Life After Campus: Ternyata Pintar Saja Tak Cukup!

    Difabel di Sektor Formal

    Difabel di Sektor Formal: Kabar yang Harus Dirayakan

    Ideologi Kenormalan

    Kebijakan Publik dan Ideologi Kenormalan

    Industri Perfilman

    Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ramadan

    Ramadan sebagai Bulan Pembebasan

    Ramadan

    Meski Dhaif, Konsep Tiga Fase Ramadan Tetap Populer di Masyarakat

    Rahmat

    Ramadan Adalah Bulan Penuh Rahmat dan Ampunan

    Tanggung Jawab

    QS. Al-Baqarah 233 Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab Bersama dalam Pengasuhan Anak

    Timbal Balik dalam

    QS. Al-Baqarah 187 dan 232 Tegaskan Prinsip Timbal Balik dan Kerelaan dalam Pernikahan

    Kemitraan

    Al-Qur’an Tegaskan Fondasi Kemitraan Suami Istri dalam QS ar-Rum 21 dan an-Nisa 19

    Hijrah

    Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil

    Hijrah dan Jihad

    “Min Dzakarin aw Untsā”: Prinsip Kesetaraan dalam Hijrah dan Jihad

    Hijrah

    Al-Qur’an Tegaskan Hijrah dan Jihad untuk Laki-laki dan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Stigma Janda

    Cerai Bukan Aib: Menghapus Stigma Janda dalam Perspektif Islam

    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (2): Asas-asas Maslahat dalam Pernikahan

    Pengalaman Perempuan

    Mengapa Pengalaman Perempuan Harus Dituliskan?

    Merayakan Lebaran

    Merayakan Lebaran: Saat Standar Berbusana Diam-diam Membebani, Bukan Membahagiakan

    Pernikahan Disabilitas

    Lebih dari yang Tampak: Pernikahan Disabilitas, dan Martabat Kemanusiaan

    Life After Campus

    Life After Campus: Ternyata Pintar Saja Tak Cukup!

    Difabel di Sektor Formal

    Difabel di Sektor Formal: Kabar yang Harus Dirayakan

    Ideologi Kenormalan

    Kebijakan Publik dan Ideologi Kenormalan

    Industri Perfilman

    Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ramadan

    Ramadan sebagai Bulan Pembebasan

    Ramadan

    Meski Dhaif, Konsep Tiga Fase Ramadan Tetap Populer di Masyarakat

    Rahmat

    Ramadan Adalah Bulan Penuh Rahmat dan Ampunan

    Tanggung Jawab

    QS. Al-Baqarah 233 Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab Bersama dalam Pengasuhan Anak

    Timbal Balik dalam

    QS. Al-Baqarah 187 dan 232 Tegaskan Prinsip Timbal Balik dan Kerelaan dalam Pernikahan

    Kemitraan

    Al-Qur’an Tegaskan Fondasi Kemitraan Suami Istri dalam QS ar-Rum 21 dan an-Nisa 19

    Hijrah

    Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil

    Hijrah dan Jihad

    “Min Dzakarin aw Untsā”: Prinsip Kesetaraan dalam Hijrah dan Jihad

    Hijrah

    Al-Qur’an Tegaskan Hijrah dan Jihad untuk Laki-laki dan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Rekomendasi

Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

Kunci kebahagiaan adalah takwa. Dan takwa itu menjadi tujuan utama ibadah yang kita lakukan selama satu bulan penuh, yaitu ibadah puasa Ramadan.

Umnia Labibah by Umnia Labibah
30 Maret 2025
in Rekomendasi, Rujukan
A A
0
Idul Fitri

Idul Fitri

27
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Khutbah I

‎اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قال الله تعالى: الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah.

Di pagi hari yang penuh berkah, alunan takbir memenuhi rongga bumi, membumbung tinggi ke angkasa bersama cahaya matahari pagi. Hari ini, alam semesta ikut bertasbih, mengiringi umat Islam yang berbahagia di hari kemenangannya, setelah satu bulan penuh berpuasa karena Allah, imanan wahtisaban. Kini tibalah saatnya kita merayakan kemenangan dan keberkahan, semoga:

 جَعَلَنَا اللَّهُ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ

“Semoga kita menjadi orang yang kembali fitri dan menjadi orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan sejati, yaitu masuk dalam golongan orang-orang muttaqin.”

Di pagi ini, jiwa-jiwa yang haus akan rahmat Allah dipenuhi keceriaan yang mendalam, dalam lautan ampunan yang diguyurkan Allah, Tuhan semesta alam. Tepat sekali jika dalam kesempatan yang indah ini, kita menguatkan rasa syukur kita kepada Allah Swt. Syukur, bahagia, dan bungah karena alhamdulillah berkat pertolongan dari Allah Swt kita dapat melaksanakan ibadah puasa satu bulan penuh. Sehingga hari ini sampai pada perayaan Idul Fitri. Sebuah pertanda bahwa kita telah berhasil menundukkan hawa nafsu untuk menjadikan diri sebagai jiwa-jiwa yang suci.

Idul Fitri adalah hari istimewa yang patut dirayakan. Sebab, ibadah puasa adalah ibadah yang istimewa, yang disyariatkan Allah kepada umat manusia. Bahkan Nabi Muhammad Saw sendiri dalam berbagai hadis menyebutkan keistimewaan hari raya ini—tidak boleh ada umat Islam yang kekurangan dan kelaparan. Sehingga semua bisa merasakan kebahagiaan di hari itu. Allah berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS. Yunus ayat 58)

Menghidupkan Syi’ar Islam

Bergembira di hari lebaran ini bukan hanya melepas lelah setelah beribadah. Tetapi juga berpahala karena menghidupkan syi’ar agama Islam, sebagaimana Ibnu Hajar Asqalani mengatakan:

إِظْهَار السُّرُورِ فِي الْأَعْيَادِ مِنْ شِعَارِ الدِّينِ

“Mengekspresikan kegembiraan di hari-hari Ied adalah salah satu syi’ar di dalam agama.” (Fathul Baari 2/443).

Dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 32 disebutkan pula:

 وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ

Artinya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj ayat 32)

Maka, merayakan Idul Fitri adalah bagian dari mengagungkan syi’ar Allah. Sebab, Idul Fitri bukan sekadar tentang pakaian dan berbagai aneka hidangan. Idul Fitri adalah momentum untuk menguatkan tekad baja, menjadi hamba Allah yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 183, yaitu menjadi hamba yang bertakwa.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. al-Baqarah ayat 183)

اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah.

Allah sangat memuliakan manusia dan menghendaki manusia berserah diri kepada-Nya dalam Islam serta menjadi orang yang bertakwa. Sehingga, Allah mensyariatkan berpuasa di bulan Ramadan. Allah menghendaki umat Nabi Muhammad menjadi manusia pilihan, memiliki derajat terbaik di sisi-Nya.

Dari makhluk biasa saja menjadi istimewa di hadapan Allah, menaikkan harganya, ditinggikan derajatnya, yaitu derajat orang bertakwa. Dan takwa inilah yang akan menjadi kunci kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Dalam kitab Kifayatul Atqiya, disebutkan:

“Taqwal ilaahu madaaru kulli sa’adatin # wattiba’u ahwa ra’su syarri khoba ila”.

Ada satu kunci utama meraih kebahagiaan, yaitu takwa. Dan barangsiapa mengikuti hawa nafsu, itulah pokok keburukan.

Dalam maqolah di atas, disebutkan bahwa kunci kebahagiaan adalah takwa. Dan lawan dari takwa adalah hawa nafsu. Jadi, dapat kita pelajari bahwa lawan takwa itu bukan orang musyrik, bukan orang munafik, bukan Muslim. Tetapi ada pada diri sendiri.

Sering kali kita tidak jeli, menggantungkan kualitas Islam, iman, dan takwa kita pada orang lain atau sesuatu di luar diri kita. Padahal musuh utamanya ada pada diri sendiri.

Disebutkan tadi bahwa kunci kebahagiaan adalah takwa. Dan takwa itu menjadi tujuan utama ibadah yang kita lakukan selama satu bulan penuh, yaitu ibadah puasa Ramadan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa saat kita menjalankan perintah Allah, berpuasa di bulan Ramadan. Maka sejatinya kita sedang meniti jalan untuk meraih kunci kebahagiaan.

Kunci kebahagiaan manusia adalah takwa, yang jika telah kita genggam erat. Maka kita akan sampai pada tujuan hidup kita: fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah.

اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah.

Lalu, mengapa kunci kebahagiaan berupa takwa harus kita raih dengan berpuasa satu bulan penuh? Puasa hakikatnya adalah ibadah yang bermakna mengosongkan—mengosongkan perut, mengosongkan nafsu. Serta mengosongkan sifat-sifat buruk seperti kedengkian, amarah, hasut, kikir, tidak peduli terhadap sesama, mengambil hak orang lain, menyakiti orang lain, dan lain sebagainya.

Mengosongkan perut dengan menahan haus dan lapar ternyata memiliki alasan. Karena makanan itu menjadi jalan darah, dan darah menjadi sempit dengan berkurangnya makanan. Dan jalan darah ini juga merupakan tempatnya hawa nafsu.

Puasa juga merupakan ibadah yang bermakna imsak, atau menahan diri—yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu. Dengan berlatih menahan diri (imsak), kita akan menjadi pribadi yang mampu mengendalikan diri. Sehingga seluruh potensi kehidupan yang Allah berikan kepada manusia dapat mereka berdayakan untuk kebaikan, bukan sebaliknya untuk merusak atau menyakiti orang lain. Inilah esensi takwa yang menjadi tujuan dari ibadah puasa.

Sehingga, jika kita teliti, ada relasi yang sangat erat antara kebahagiaan, takwa, dan puasa. Disebutkan bahwa jalan kebahagiaan adalah takwa, caranya dengan puasa, maka orang yang berhasil disebut: minal ‘aidin wal faizin, orang yang kembali fitrah dan berbahagia.

اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah.

Dalam kitab karya Imam Al-Ghazali, Kimya’us Sa’adah, disebutkan bahwa kebahagiaan adalah proses yang harus diperjuangkan dan merupakan hasil mujahadah. Kebahagiaan diibaratkan seperti mengubah logam biasa menjadi logam mulia atau emas. Dibutuhkan proses ditempa, dibakar, ditempa lagi hingga batu menjadi logam mulia—emas yang berharga. Jika kita nalar, batu tidak akan bisa menjadi emas. Tentu tidak, karena bukan logam.

Demikian perumpamaan manusia. Manusia bisa menjadi mulia di sisi Allah jika sifat-sifat kebinatangan yang ada pada dirinya ditempa. Sehingga yang muncul adalah sifat-sifat ilahiyah. Sifat ilahiyah inilah yang akan mengantarkan manusia menjadi muttaqiin, sebuah predikat yang diberi tempat terbaik di sisi Allah.

Al-Ghazali menunjukkan dalam kitab ini bahwa dalam diri manusia terkumpul berbagai karakter, yaitu karakter hewan, karakter binatang buas. Hingga karakter malaikat.

Pertama, Karakter hewan (صفات البهائم) adalah sifat kebinatangan yang parameter bahagianya adalah dengan terpenuhinya kebutuhan makan, minum, tidur dan seks.

Kedua, karakter binatang buas (صفات السباع) di mana parameter kebahagianya adalah bisa memukul dan membunuh.

Ketiga, karakter Iblis (صفات الشياطين) yang berbahagia dengan cara melakukan makar, kriminal dan tipu muslihat.

Keempat, adalah karakter maaikat (صفات الملائكة) yang berbahagia karena merasakan indahnya kehadiran Allah dalam hidupnya.

Hubungan takwa dengan potensi kemanusiaan manusia: manusia memiliki unsur hewan dan unsur malaikat. Takwa mendekatkan diri pada unsur malaikat, yang bisa membawa manusia lebih dekat dengan Tuhannya.

Implementasi Takwa

Orang yang bertakwa dalam kesehariannya akan mengimplementasikan kehidupan yang seimbang antara hablum minallah dan hablum minannas.

Pertama, hablum minallah adalah penguatan dimensi vertikal kepada Allah Swt. melalui peningkatan ibadah dan meraih ampunan atas segala dosa.

Kedua, hablum minannas adalah penguatan dimensi horizontal kepada sesama manusia melalui kepekaan sosial. Serta dengan senantiasa menebar kebaikan dan cinta.

Jika dua hal ini mampu kita aplikasikan dalam kehidupan kita. Maka insya Allah kehidupan kita akan di naungi kebahagiaan hingga akhir masa. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

 وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

Artinya, “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran ayat 133).

Orang yang bertakwa dalam ayat selanjutnya:

 الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Artinya, “(Yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran ayat 134).

Patuh dan Taat kepada Perintah Allah Swt

Pondasi ketakwaan, selain berupaya meraih ampunan Allah dengan patuh dan taat pada perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, juga harus kita perkuat dengan ibadah sosial seperti sedekah, infak, dan zakat.

Allah juga memerintahkan agar kita senantiasa mengendalikan amarah dan suka memaafkan kesalahan, karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Sehingga, dapat kita pahami bahwa takwa bukan hanya tentang memuji Allah, tetapi juga tentang bagaimana membangun relasi sosial yang berkeadaban.

Maka, mari kita jadikan momen Ramadan dan Idul Fitri ini sebagai momentum untuk menguatkan ikatan sosial di antara kita. Memohon maaf kepada ayah dan ibu, atau berziarah ke makamnya bila sudah tiada. Mari kita juga memohon maaf kepada keluarga, kerabat, sesama Muslim, dan sesama manusia.

Harmonisasi horizontal dan kesadaran diri untuk menghargai kemanusiaan setiap insan, dengan perisai pengendalian diri yang terlatih selama berpuasa, akan membawa kita menjadi masyarakat yang ideal—masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kerahmatan, sebagaimana tugas manusia di bumi dalam misi rahmatan lil ‘alamin.

Maka, ketakwaan yang ideal menurut Allah Swt dalam syariat puasa adalah jalan untuk mencapai insan kamil. Jika manusia-manusia dalam suatu masyarakat memiliki sifat-sifat kamil yang paripurna. Maka akan terbentuklah negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

 اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah.

Demikianlah khutbah Idul Fitri kali ini. Semoga kita benar-benar menjadi golongan orang-orang yang bertakwa dan senantiasa menjaga ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Khutbah II

 اللهُ اَكْبَرُ (٣×) اللهُ اَكْبَرُ (٤×) اللهُ اَكْبَرُ كبيرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذي وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Tags: BerkeadabanHari KemenanganIdul Fitri 1446 HInsan BertakwaKhutbahmasyarakatmenjadiMewujudkanteks
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

Next Post

Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

Umnia Labibah

Umnia Labibah

Sekretaris Nawaning JPPPM pusat. Alumni DKUP Fahmina, Div.Advokasi PC Fatayat NU, dan Jaringan KUPI

Related Posts

Ramadan
Pernak-pernik

Meski Dhaif, Konsep Tiga Fase Ramadan Tetap Populer di Masyarakat

4 Maret 2026
Metodologi Mubadalah
Pernak-pernik

Metodologi Mubadalah dan Implementasinya dalam Kehidupan Masyarakat

27 Februari 2026
Dakwah Mubadalah dalam
Pernak-pernik

Metodologi Dakwah Mubadalah dan Relevansinya bagi Kehidupan Masyarakat

26 Februari 2026
Pemerintah
Lingkungan

Pemerintah dan Masyarakat Didorong Berkolaborasi Jaga Kelestarian Lingkungan

2 Februari 2026
Masyarakat jahiliyah
Publik

Mengapa Al-Qur’an Mengkritik Perilaku Masyarakat Jahiliyah?

2 Februari 2026
Masyarakat Mollo
Publik

Kosmologi Masyarakat Adat Mollo dalam Melawan Tambang

22 Desember 2025
Next Post
Idulfitri

Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Ramadan sebagai Bulan Pembebasan
  • Cerai Bukan Aib: Menghapus Stigma Janda dalam Perspektif Islam
  • Meski Dhaif, Konsep Tiga Fase Ramadan Tetap Populer di Masyarakat
  • Ngaji Manba’us-Sa’adah (2): Asas-asas Maslahat dalam Pernikahan
  • Ramadan Adalah Bulan Penuh Rahmat dan Ampunan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0