Mubadalah.id – Unity in diversity bukan hanya sebuah konsep semata, tapi adalah sebuah pengalaman nyata yang saya rasakan ketika saya menjadi mahasiswa di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, saya bertekad melanjutkan studi magister di kampus ini. Ketertarikan saya muncul ketika mengetahui misi UIII “memajukan kebudayaan Islam Indonesia salah satu bagian dari dunia.”
Bagi saya, misi ini bukan hanya idealis, tetapi juga sangat relevan dengan tantangan global saat ini, bagaimana kebudayaan Islam Indonesia dapat tampil di panggung Internasional, sambil tetap membawa nilai-nilai keislaman yang inklusif, damai, dan penuh keberagaman. Salah satu jalannya ialah membuka diri untuk belajar bersama teman-teman dari berbagai belahan dunia.
UIII Tempat yang Inklusif
UIII adalah tempat di mana saya merasakan hal itu secara langsung. Mahasiswa di sini bukan hanya dari berasal dari Indonesia, tapi datang dari berbagai belahan dunia seperti Gambia, Afghanistan, Pakistan, Maroko, Australia, Mesir, Palestina, Mexico, Madagaskar, dan masih banyak lagi. Kehadiran mereka membuat kampus ini terasa seperti miniatur dunia.
Di kampus yang menjadi rumah bagi kami ini, kami belajar bahwa keberagaman bukan hanya tentang perbedaan bahasa, budaya, atau kebiasaan, tetapi tentang bagaimana semua itu dapat bertemu dalam satu ruang yang sama dan membentuk harmoni. Setiap di asrama, bahkan di kelas hingga percakapan sederhana itu menjadi bagaimana bisa memahami orang lain, membuka diri, dan merayakan perbedaan.
Mungkin banyak orang yang sudah memahami konsep harmoni agama, toleran, inklusif, tapi saya yakin dengan pemahaman teoritis saja tidak cukup. Kita benar-benar memahami makna keberagaman ketika mengalaminya secara langsung di lingkungan yang penuh perbedaan. Dari pengalaman itu, kita melatih diri kita apakah kita benar-benar masih tetap bisa menghargai dengan adanya perbedaan itu tanpa ada diskriminasi.
Serunya Kehidupan di UIII
Pengalaman di ruang kelas tidak kalah menarik. Di kelas kami memiliki teman-teman dari Maroko, India, Gambia dan Palestina. Kami merasakan bagaimana hidupnya diskusi kelas, masing-masing dari kami menyampaikan argumennya dengan membawa studi kasus yang ada ada di negaranya.
Ketika membahas isu gender, politik, sosial, mereka menghadirkan cara pandang yang benar-benar baru bagi saya. Perspektif mereka benar-benar memperkaya pengetahuan saya sekaligus mengasah open mindedness yang selama ini mungkin hanya menjadi jargon.
Perbedaan ini tidak membuat kami menjadi renggang atau bahkan berjauhan, justru sebaliknya, kami ingin saling tahu dan saling memahami. Ada yang ingin belajar bahasa indonesia dari kami, dan kami pun belajar bahasa resmi mereka, seperti bahasa India. Ketika piknik kelas pun kamu mengenalkan makanan khas indonesia seperti nasi liwet, bakso, dan es kuwut.
Belajar di UIII membuat kami menyadari bahwa Unity in Diversity atau inklusif bukanlah hal yang terjadi begitu saja. Ia harus kita usahakan dengan membuka diri, menurunkan ego, dan melihat manusia lain dengan kacamata manusia, bukan dengan identitas. Saya merasa beruntung menjadi bagian dari lingkungan yang benar-benar memberikan pengalaman hidup tentang persatuan yang terbangun dari perbedaan. []











































