Mubadalah.id – Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Cirebon bersama Rhizoma memastikan isu transisi energi tak lagi hanya dibahas di ruang kebijakan elite. Pada 30 November 2025, organisasi lintas komunitas itu menggelar diskusi kolaboratif bertajuk Penguatan Transisi Energiempuan Muda Penggerak di Ruang Konvergensi ISIF, mulai pukul 08.00 WIB.
Agenda ini menjadi bagian dari kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) 2025, menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan juga punya wajah ekologis yaitu ketidakadilan energi dan kerentanan iklim.
Pengkampanye iklim muda, Klistjart Tharissa menyampaikan realitas bahwa energi yang menyalakan dapur, kendaraan, pabrik, hingga barang di etalase toko, masih digerakkan oleh fosil. Yaitu minyak bumi, gas alam, dan batu bara yang menjadi tulang punggung energi Indonesia.
Bahan bakar seperti BBM dan Solar dan gas dapur LPG berasal dari sumber energi fosil yang terbentuk dari sisa organisme purba puluhan ribu tahun lalu. Ia tidak bisa diperbarui dalam waktu manusia hidup.
Sehingga, butuh ribuan tahun untuk terbentuk kembali. Bahkan tubuh manusia pun memakan 5.000 tahun untuk bertransformasi, itu pun hanya analogi yang menegaskan betapa mustahilnya energi ini pulih cepat.
Di Indonesia, sebaran tambang itu merata dan masif. Batu bara mendominasi suplai listrik nasional, terutama di Kalimantan dan Sumatera. Lalu, minyak bumi bisa kita temukan di wilayah Sulawesi, Kalimantan, juga di Papua.
Selain itu, Jawa juga menjadi mesin industri hilir, memproses energi dan bahan turunan kimianya menjadi komoditas industri. Meski cadangan hulunya lebih kecil. Sementara itu, wilayah seperti Sulawesi kini juga jadi pusat tambang Nikel dan pasir silika yang menopang industri teknologi.
Membentuk Sistem yang Timpang
Rantai pasok ini membentuk sistem yang timpang yaitu sangat berdampak ekologis, ekonomi, dan sosialnya paling keras memukul lapisan perempuan muda dan komunitas miskin. Sementara keuntungannya menumpuk di pusat-pusat kekuasaan.
Isu ini semakin genting ketika bicara emisi. Empat sektor utama—kelistrikan, transportasi, pertanian & peternakan, serta limbah, menyumbang puncak emisi gas rumah kaca Indonesia. Karbondioksida (CO2) menjadi aktor dominan, menahan panas matahari di atmosfer, memicu pemanasan global.
Selain itu, gas metana dari limbah organik dan plastik menyimpan daya rusak 20 kali lipat lebih kuat dari CO2.
Di kota-kota kuliner seperti Cirebon, pola konsumsi dan produksi sampah organik yang tinggi memunculkan problem baru. Yaitu limbah makanan yang langsung dibuang tanpa pengolahan menciptakan emisi tersembunyi yang mengurung panas bumi layaknya ruangan tertutup yang makin menghangat.
Caca menegaskan bahwa transisi energi berkeadilan tidak bisa kita tunda. Ia harus memastikan perempuan muda menjadi motor perubahan, bukan sekadar penerima dampak.
Menurutnya, gerakan ini wajib menuntut tiga hal sekaligus. Pertama, penghentian ketergantungan fosil. Kedua redistribusi akses energi yang adil. Ketiga, perlindungan perempuan muda dari kerentanan iklim yang sering memicu kekerasan berbasis gender di level sosial.
Oleh karena itu, transisi energi bukan hanya soal panel surya dan listrik hijau. Namun ia adalah soal martabat kemanusiaan, keadilan ruang hidup, dan masa depan perempuan muda sebagai penjaga poros keberlanjutan. []






































