Mubadalah.id – Sampah adalah emas, bagi mereka yang memilahnya. Tapi realitanya, di Pesantren yang super padat dengan berbagai macam sampah yang menumpuk, sampah seringkali lebih menjadi drama daripada jadi emas.
Dari banyaknya jenis dan macam-macam sampah, masing-masing memiliki dampak dan manfaatnya sendiri. Sehingga memilah sampah tersebut menjadi sangat penting agar perorangan mengetahui mana yang berbahaya dan mana yang tidak. Mana yang bisa terolah, mana yang tidak bisa hancur dan mana yang bisa lebur dengan sendirinya.
Masalahnya, di Pesantren dengan ekosistem yang unik dan ribuan santri, volume sampah yang terhasilkan tidak main-main. Meski jenisnya masih tergolong ringan berjenis olahan plastik, aqua botol, aqua gelas, sampah sisa makanan, dedaunan, kardus hingga kaca dan kaleng, tanpa pemilahan yang jelas, bau yang menguar bukan lagi sekadar aroma sampah, tapi sudah jadi serangan udara yang merusak harmoni antara manusia dan alam.
Tidak Hanya Masalah Bau, Tapi Juga Masalah Ekosistem
Kondisi tersebut sebagian besar pesantren alami yang tidak memilah sampah mereka. Tapi jujur saja memiliah sampah itu susah-susah gampang.
Bahkan, di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy pun, yang sudah mengadakan kegiatan pemilahan sampah masih saja tercium aroma tak sedap dari sampah yang sudah terpilah. Bagaimana dengan yang tidak terpilah sama sekali? Pasti aromanya bikin kita pengen menghilang dari tempat kejadian. Sebab baunyaaa… Hoekkk!!!
Jangankan soal pemilahan yang belum 100%, pemilahan yang masih 40% pun, sebetulnya masih menjadi kartu kuning. Sebab jika hanya menyelamatkan rongsok dan organik, itu masih belum terealisasi dengan baik dan menyeluruh. Hal ini tertandai oleh kurangnya kesadaran para santri dan kurangnya sosialisasi akan pentingnya melakukan pemilahan secara terus-menerus.
Dengan rindangnya pepohonan dan hijaunya pemandangan sejauh mata memandang di pondok kebon jambu, adanya problematika sampah jelas merusak keindahannya. Menyelamatkan lingkungan secara menyeluruh tentunya tidak hanya dengan menanam pohon, melainkan menjaga tanah yang menjadi sumber hidup bagi tanaman dan tumbuhan.
Zat berbahaya pada sampah yang mencemari tanah dan lingkungan jelas berbahaya bagi keberlangsungan ekosistem pertumbuhan makhluk hidup, terutama manusia. Oleh karenanya, para santri harus selalu diingatkan agar istiqomah memilah sampah baik dari hilir hingga hulunya. Dari ke-istiqomah-an tersebut akan lahir kesadaran, lalu menjadi ilmu yang mencapai amalnya.
Memilah Adalah Bagian Dari Ilmu Yang Menjadi Amal
Dengan banyaknya orang yang hidup dalam satu lingkungan dengan watak beragam, pemilahan mungkin terasa berat dan sulit untuk dipantau secara menyeluruh. Kesadaran dari satu dua orang saja jelas tidak cukup. Maka saling mengingatkan adalah kunci agar pemilahan bisa berkesinambungan. Dan sebenarnya, memilah sampah adalah proses naik kelas seorang santri yang mulanya dari teori menjadi aksi. Dari ilmu menjadi amal.
Di Kebon Jambu sendiri bisa memiliki skema yang keren jika proses pemilahan dapat dijalani secara istiqomah. Sampah rongsok bisa dijual kepada pengepul; sampah organik bisa diolah jadi pakan Maggot sebagai makanan unggas kaya protein. Bahkan bisa dimanfaatkan untuk menutrisi tanaman dan pepohonan di Pesantren.
Adapun sampah plastik yang sulit terurai dapat dimanfaatkan untuk membuat satu kotak batako. Ini sampah yang paling ikonik sekaligus kontoversial. Di mana satu kotak membutuhkan 1 kg plastik. Bayangkan berapa banyak sampah plastik yang bisa kita sulap menjadi batako. Sayangnya lantaran berasal dari plastik, batako ini seringkali tidak lulus uji Kesehatan.
Dari kegiatan sederhana di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy berupa pemilahan organik, rongsok dan sampah plastik yang istiqomah itulah sampah adalah emas tertuju.
Agenda Ro’an Jumat dan Masalah Leader
Dari proses itu sebetulnya cukup sederhana karena akan ada pemilahan besar-besaran pada hari Jum’at dalam agenda Ro’an Jum’at. Namun itu saja tidak cukup karena masih membutuhkan leader yang mengawasi pemilahan tersebut agar tidak salah kamar. Sedangkan pemilahan harian masih belum maksimal lantaran masih banyaknya yang tidak membuang sampah sesuai jenisnya.
Kemudian bisa dipahami bahwa kesadaran sederhana membuang sampah sesuai jenisnya menjadi langkah awal para santri untuk lebih peduli pada pemilahan yang lebih besar. Tidak hanya disitu saja, memilah sesuai jenisnya pun akhirnya menjadi memuaskan seperti sampah cair dan sampah padat. Gerakan sederhana ini tentu saja membuat sampah tidak terlalu bau.
Proses ini tidak hanya soal kebersihan, tapi soal Pendidikan Karakter. Ini soal disiplin, tanggung jawab, dan empati. Kesadaran yang terealisasikan juga merupakan nilai edukatif, moral dan sosial. Hadis masyhur
اَلنَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ yang sering menjadi ikon legendaris pentingnya ‘perhatian’ terdahadap sampah pun sering terabaikan.
Tapi mari kita bawa hadits itu ke level selanjutnya. Sebab kebersihan adalah cermin ketaatan kita sebagai Khalifah fil Ardh dengan menjaga ciptaan Tuhan yang indah di muka bumi. Ingatlah bahwa tugas kita itu menyebarkan rahmah (kasih sayang) ke alam semesta, bukan menyebarkan limbah.
Istiqamah adalah Kunci
Akhir kalam, santri istiqamah dalam memilah sampah adalah pondasi untuk mewujudkan pesantren yang sehat dan ramah lingkungan. Tidak perlu langsung 100%, yang terpenting, leader rajin sosialisasi kepada santri dan santri mulai mau memilah pun sangat amazing!
Istiqamah berupa kesadaran memilah sampah tidak hanya menjadi langkah awal memisahkan sampah sesuai jenisnya sehingga bau pekat dari zat berbahaya pada sampah tidak tercemar. Ia juga menjadi agenda dalam menyelamatkan isu lingkungan.
Dengan membentuk kebiasaan yang baik dan dilakukan secara berkelanjutan, pemilahan sampah menjadi sarana yang membentuk pondasi nan kuat dalam mewujudkan pesantren yang bersih, sehat, ramah lingkungan, dan mewujudkan tugas manusia sebagai penyebar rahmah di alam semesta.
Jadi, sudahkah kamu istiqamah memilah sampahmu hari ini? []



















































