Mubadalah.id – Selama ini, kita semua sering mengira urusan makan adalah soal selera dan disiplin setiap orang, kuat atau tidak menahan gula, rajin atau tidak memasak, peduli atau tidak pada tubuh sendiri. Namun, buku My Food is African: Healthy Soil, Safe Foods and Diverse Diets membongkar itu semua.
Menurut saya, pembahasan tentang “makan sehat” tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial, ekonomi, dan politik. Pilihan konsumsi dinilai tidak sepenuhnya bebas, karena dipengaruhi oleh sistem produksi, distribusi, dan promosi pangan.
Dari judul My Food is African digunakan untuk menegaskan bahwa makanan memiliki akar sejarah dan logika ekologis tertentu. Buku ini memandang makanan tidak hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai hasil dari relasi jangka panjang antara manusia, tanah, musim, dan pengetahuan lokal.
Lalu, saya mempertanyakan bagaimana suatu jenis makanan menjadi standar atau “normal” pada masa kini, siapa yang membentuk standar tersebut, serta siapa yang menanggung dampak sosial dan ekologisnya?
Pada bagian awal, buku ini membahas peran pangan tradisional sebagai sumber pengetahuan bertahan hidup. Contoh yang ia sebutkan di antaranya umbi-umbian, kacang-kacangan, biji-bijian lokal, sayuran, buah musiman, serta praktik fermentasi dan pengawetan.
Keragaman pangan sebagai strategi adaptasi terhadap krisis, perubahan musim, dan keterbatasan sumber daya, bukan sekadar variasi menu.
Buku ini juga menyoroti peran perempuan dalam menyimpan dan mewariskan pengetahuan pangan. Pengetahuan tersebut umumnya dimiliki oleh ibu, nenek, pedagang pasar, serta pengolah makanan rumahan.
Namun, menurut saya, pengetahuan ini jarang diakui sebagai bentuk keilmuan dan lebih sering diposisikan sebagai bagian dari kerja domestik.
Padahal, buku ini mencatat bahwa praktik pengelolaan makanan di tingkat rumah tangga menyimpan informasi penting terkait gizi, keamanan pangan, serta pengelolaan kebutuhan keluarga dan komunitas.
Makanan Tradisional
Buku ini juga mencatat adanya pergeseran persepsi terhadap jenis makanan. Makanan tradisional kerap diposisikan sebagai sesuatu yang tertinggal, sementara makanan pabrikan dipromosikan sebagai simbol kemajuan.
Proses ini, sangat terpengaruhi oleh strategi pemasaran dan iklan yang membentuk standar konsumsi masyarakat. Termasuk dalam mendefinisikan makanan yang sehat dan praktis.
Dalam praktiknya, pilihan makanan masyarakat tidak sepenuhnya terbentuk secara bebas. Faktor promosi, citra modernitas, ketersediaan produk, serta tekanan gaya hidup turut memengaruhi preferensi konsumsi.
Akibatnya, selera publik lebih banyak terbentuk oleh sistem pasar daripada kebutuhan gizi atau kearifan pangan lokal.
Buku ini juga mengkritik apa yang disebut sebagai chemical mistake atau kesalahan kimia dalam sistem pertanian modern. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan ketergantungan pada pendekatan industri, seperti monokultur, penggunaan pupuk kimia, produksi massal, serta teknologi yang diposisikan sebagai solusi utama atas persoalan kelaparan.
Meski sistem ini sempat meningkatkan hasil panen, lalu saya mempertanyakan distribusi manfaatnya. Menurut buku tersebut, keuntungan terbesar tidak selalu para petani kecil nikmati, melainkan oleh pihak-pihak yang menguasai rantai produksi dan distribusi.
Selain itu, penggunaan pestisida dan pupuk kimia tidak hanya berdampak pada lahan pertanian. Residu bahan kimia tersebut dapat mencemari air, udara, dan tanah, serta berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia melalui rantai makanan.
Petani
Dalam buku tersebut menjelaskan bahwa petani kerap berada dalam posisi tawar yang lemah. Mereka harus menghadapi berbagai tekanan, mulai dari serangan hama, target produksi, fluktuasi harga pasar, promosi input pertanian, hingga kebijakan yang menekankan peningkatan hasil panen. Ketika tidak mengikuti sistem tersebut, petani tidak ia anggap modern.
Namun, ketika mengikuti, mereka harus menanggung biaya produksi dan risiko yang tinggi. Situasi ini menunjukkan bahwa beban tanggung jawab sering kali melekat pada individu, sementara faktor struktural yang membatasi pilihan petani jarang mereka bahas.
Buku ini juga menyoroti kondisi tanah sebagai faktor penting dalam sistem pangan. Tanah mereka gambarkan sebagai ekosistem hidup yang mengandung mikroorganisme berperan dalam menjaga siklus nutrisi, struktur tanah, dan kemampuan menyimpan air.
Tanah yang sehat dinilai mampu menyerap dan menahan air dengan baik, sementara tanah yang rusak cenderung kehilangan fungsi tersebut.
Menurut buku ini, keamanan pangan tidak bisa kita lepaskan dari cara manusia memperlakukan lingkungan. Kesehatan tubuh, termasuk sistem pencernaan, dipandang memiliki hubungan langsung dengan kualitas ekosistem yang menjadi sumber pangan.
Menanggapi pertanyaan praktis mengenai pilihan makanan sehari-hari, buku ini tidak memberikan panduan diet spesifik. Sebaliknya, saya menawarkan prinsip umum berupa pola makan yang lebih beragam, berbasis bahan pangan utuh, dan minim proses.
Salah satu pendekatan yang mereka kenalkan adalah konsep “piring pelangi”, yaitu konsumsi berbagai jenis bahan pangan dengan warna dan kandungan gizi yang berbeda.
Ketersediaan dan Promosi
Namun, buku ini juga menekankan bahwa pilihan makanan sangat terpengaruhi oleh akses. Faktor harga, ketersediaan, promosi, dan tren sosial turut menentukan keputusan konsumsi. Dalam banyak kasus, sistem pangan membuat pilihan yang lebih sehat menjadi lebih mahal dan sulit terjangkau.
Kritik juga diarahkan pada praktik fortifikasi dan biofortifikasi. Penambahan zat gizi pada satu komoditas dapat membantu dalam kondisi tertentu, tetapi tidak menyelesaikan persoalan mendasar, seperti hilangnya keragaman pangan, ketimpangan akses, kemiskinan, dan meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses. Menurut buku ini, selama struktur sistem pangan tidak berubah, fortifikasi hanya menjadi solusi sementara.
Secara keseluruhan, My Food is African menekankan pentingnya pendekatan kolektif dalam membangun sistem pangan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Buku ini menyatakan bahwa tanggung jawab atas pola makan sehat tidak dapat dibebankan sepenuhnya pada individu, terutama perempuan yang selama ini sering diasosiasikan dengan urusan dapur tanpa pengakuan sosial yang memadai.
Saya menggarisbawahi perlunya penguatan pasar lokal, dukungan bagi petani kecil, pendidikan pangan yang kontekstual, ruang komunitas untuk berbagi pengetahuan, serta kebijakan yang tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan keadilan dalam rantai pasok. []




















































