Mubadalah.id – Drama Cina “The Tale of Rose” berkisah tentang perjalanan hidup Huang Yi Mei (diperankan Crystal Liu). Mengambil setting tahun 2000-an awal hinggal 2020-an, serial ini mengikuti perjalanan hidup tokoh utamanya sejak usia 20-an awal hingga 40 tahun.
Dalam rentang waktu sekitar 20 tahun, Huang Yi Mei mengalami transformasi dari perempuan dewasa awal, menjalani peran sebagai istri dan ibu, menjadi single parent, hingga menjadi perempuan yang mandiri dan menemukan makna dalam hidupnya. Kehadiran pria-pria dalam hidupnya tidak hanya memberinya bunga-bunga cinta, tetapi juga memberinya pengalaman hidup agar ia terus tumbuh.
Yi Mei: Bunga Mawar di Rumah Kaca
Huang Yi Mei (biasa dipanggil Mei Gui oleh keluarganya, yang artinya mawar) terlahir dalam keluarga yang sangat harmonis. Kedua orang tuanya bekerja sebagai akademisi menerapkan pola pengasuhan yang cukup demokratis. Mereka memberi kebebasan kepada Yi Mei untuk mengejar pendidikan di bidang seni yang menjadi minatnya.
Sama seperti namanya yang berarti mawar, Yi Mei punya wajah yang cantik, kepribadian yang supel, dan bakat di bidang seni yang membuat banyak orang tertarik padanya. Meskipun demikian, dia punya sifat emosional dan rebel.
Masa kecil hingga remaja Yi Mei tidak kekurangan kasih sayang, terlebih dari kakak laki-lakinya yang menjaganya layaknya bunga di rumah kaca. Hidupnya juga tidak pernah mengalami kesulitan berarti. Itu sebabnya orang tuanya tidak terlalu setuju ketika Yi Mei ingin bekerja setelah lulus kuliah.
Orang tuanya ingin Yi Mei melanjutkan kuliah S-2 karena tidak yakin apakah anaknya bisa bekerja, mengingat selama ini ia hanya bekerja dan bermain. Karena tekadnya kuat, akhirnya Yi Mei diterima bekerja di perusahaan kurasi seni. Di fase inilah Yi Mei mulai mengenal cinta yang akan membawanya pada perjalanan menemukan identitas dan makna hidup.
Zhuang Guo Dong: Cinta Pertama dan Gairah Usia Muda
Yi Mei bertemu Zhuang Guo Dong (punya nama Barat: Eric) dalam sebuah proyek kerja sama antara Cyan dan perusahaan tempat Eric bekerja. Pertemuan pertama mereka membuat Eric terkesan dengan Yi Mei yang cantik dan cerdas. Demikian halnya Yi Mei terkesan dengan Eric yang tampan, cerdas, mapan, dan lulusan Prancis.
Bersama Eric, Yi Mei merasakan cinta yang romantis dan penuh gairah. Namun sayangnya, mereka masih sama-sama punya hasrat yang besar untuk membangun karier. Keputusan Eric secara sepihak untuk pindah ke Prancis demi karier merupakan awal retaknya hubungan Yi Mei. Kesulitan komunikasi di awal tahun 2000-an membuat mereka sering mengalami salah paham.
Pada fase ini, Yi Mei mengalami patah hati untuk pertama kali. Dengan emosi meledak-ledak, Yi Mei melampiaskan kemarahannya pada Eric. Namun, akhirnya ia tersadar bahwa rasa cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan hubungan. Tanpa kompromi dan komunikasi yang baik, mereka tidak akan bisa bersama.
Fang Xie Wen: Ruang Domestik, Komitmen, dan Ekspektasi Sosial
Setelah move on dengan patah hatinya dengan Eric, Yi Mei memutuskan untuk berhenti bekerja. Dia ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-2 dengan mempelajari ilmu baru, yaitu psikologi. Hal itu ia putuskan setelah menyelenggarakan pameran lukisan karya anak berkebutuhan khusus. Ia melihat ada korelasi antara seni dan terapi kejiwaan.
Yi Mei meninggalkan zona nyamannya dengan pindah ke Shang Hai dan menjalani kehidupan sederhana sebagai mahasiswa perantau. Di fase inilah Yi Mei bertemu dengan Fang Xie Wen, seniornya di kampus yang belajar ilmu komputer. Fang Xie Wen adalah laki-laki dari keluarga sederhana yang selalu berupaya melindungi Yi Mei secara material maupun nonmaterial.
Melihat kebaikan Fang Xie Wen, hati Yi Mei pun luluh dan memutuskan menikah dengannya. Keputusan ini tidaklah mudah karena Fang Xie Wen baru saja merintis perusahaannya. Di satu sisi, Fang Xie Wen adalah pekerja keras, tetapi di sisi lain dia selalu merasa insecure, terutama dengan Eric, mantan pacar Yi Mei.
Dengan jiwa provider-nya, Fang Xie Wen berupaya memenuhi semua kebutuhan Yi Mei dan anaknya sehingga Yi Mei tidak perlu bekerja. Namun, ia lupa bahwa Yi Mei juga punya keinginan untuk bekerja sebagai bentuk aktualisasi diri. Lambat laun, rasa sayang Fang Xi Wen berubah menjadi posesif, bahkan ia mensabotase karier Yi Mei.
Ketika masuk ke kehidupan rumah tangga bersama Fang Xie Wen, Yi Mei semakin kehilangan dirinya. Jiwa seninya tidak lagi mendapatkan ruang untuk berkembang karena waktu dan tenaganya ia habiskan untuk mengurus pekerjaan rumah dan mengasuh anak. Terlebih lagi, Yi Mei harus menghadapi berbagai tuntutan dari masyarakat tentang standar ibu yang ideal.
Yi Mei dan Fang Xie Wen juga semakin tidak sejalan dalam hal pengasuhan Fang Tai Chu, anak perempuan mereka. Puncaknya, Fang Xie Wen kembali mensabotase kesempatan karier Yi Mei karena ia ingin punya anak laki-laki, sementara Yi Mei merasa sudah cukup. Tak ingin terus saling menyakiti, Yi Mei memilih untuk mengakhiri pernikahannya.
Fu Jia Ming: Mencintai dan Melepaskan
Setelah berpisah dari Fang Xie Wen, Yi Mei kembali ke rumah orang tuanya di Beijing. Perlahan Yi Mei menekuni seni kembali sembari mengasuh Taichu. Beruntungnya ia kembali bertemu dengan mantan bosnya. Mereka pun bekerja sama membangun Perusahaan kurasi seni dan membuka galeri seni dengan konsep yang sangat mewadahi idealisme Yi Mei.
Dalam fase ini, Yi Mei bertemu dengan Fu Jia Ming, seorang musisi. Fu Jia Ming membuat komposisi musik untuk lukisan Yi Mei dan membuatnya terkesan. Meskipun awalnya terjadi kesalahpahaman, Yi Mei akhirnya merasakan frekuensi yang sama dengan Fu Jia Ming. Yi Mei semakin menemukan jiwanya dalam seni. Terlebih, Fu Jia Ming juga menerima Tai Chu.
Sayangnya, pertemuan dengan Fu Jia Ming adalah pelajaran berharga bagi Yi Mei bahwa titik tertinggi dalam mencintai ialah melepaskan. Yi Mei harus menerima bahwa terkadang ada hal yang tidak bisa dilawan dalam hidup, yaitu kematian. Pertemuan mereka hanya singkat karena Fu Jia Ming meninggal akibat penyakit kelainan jantung.
He Xi: Ketenangan dan Kemandirian
Di usianya yang menginjak 40 tahun, Yi Mei semakin tenang dan matang secara mental. Kariernya di bidang kurasi seni semakin stabil. Di tengah segala kesibukannya, ia tetap menjalankan co-parenting bersama mantan suaminya. Kedewasaannya juga tampak dari relasinya yang baik dengan mantan kekasih, mantan suami, dan keluarganya.
Secara mental, Yi Mei sangat matang, tetapi jiwa mudanya tetap menyala. Tak lagi mengejar asmara dan karier dengan menggebu-gebu, Yi Mei lebih banyak menghabiskan waktunya untuk terus upgrade diri dan menjajal hal-hal menantang. Dia menjalani hobi baru mengendarai motor, kemudian mengambil lisensi penerbang pesawat.
Dalam fase ini, dia bertemu He Xi, pelatih di kursus penerbangan. He Xi berusia jauh lebih muda daripada Yi Mei, masih 24 tahun. He Xi sebenarnya siswa di sekolah penerbangan, tetapi statusnya ditangguhkan karena tersangkut kasus. Karena nasihat dari Yi Mei, akhirnya He Xi kembali mengurus pendidikannya.
Di mata He Xi, Yi Mei adalah sosok perempuan yang sangat inspiratif. Hal itu yang membuat He Xi jatuh hati padanya. Alih-alih membalas perasaan He Xi, Yi Mei justru meminta He Xi menikmati masa mudanya dan tidak perlu menjanjikan apa-apa. Yi Mei melihat bahwa ia dan He Xi sama-sama memiliki masa depan yang terbuka.
Perjalanan hidup Huang Yi Mei sebenarnya bukanlah kisah yang asing bagi kita. Perjalanannya sangat mewakili kehidupan perempuan pada umumnya yang sering mengalami pasang-surut. Pertemuan dan perpisahan, tangis dan tawa datang silih berganti dalam kehidupan dan perempuan harus tetap menjalaninya dengan tegar.
Huang Yi Mei adalah mawar yang cantik sekaligus berduri sebagai simbol ketegarannya dalam menjalani hidup. Huang Yi Mei telah bertransformasi dari bunga mawar dalam rumah kaca menjadi mawar yang tetap tumbuh di tengah kondisi alam yang tak menentu. Tak membuatnya terpuruk, semua cobaan dalam hidupnya justru memberi makna baru. []




















































