Mubadalah.id – Setelah artikel sebelumnya saya mengulas tentang Normalisme Kuasa Difabel dalam Sejarah Yunani, kali ini saya akan melanjutkan dengan kepedihan sejarah difabel dari masa ke masa. Catatan ini pun merupakan ringkasan dari artikel di Jurnal Perempuan edisi 65 tahun 2010 tentang “Mencari Ruang untuk Difabel.”
Artikel ini tertulis dalam versi panjang oleh Slamet Tohari, dan saya meringkasnya untuk mengetahui sejauh mana kita memahami isu disabilitas, bagaimana sejarah dunia, baik dalam perspektif agama, politik dan ekonomi telah melemahkan kaum difabel.
Dalam artikel jurnal tersebut, tertuliskan bahwa orang-orang yang melanggar aturan Tuhan, immoral serta bertindak jahat akan mendapat hukuman dan Tuhan akan membutakan matanya. “Kecacatan” adalah suasana keburukan, kejelekan dan kesengsaraan, hingga posisinya menjadi wilayah yang digunakan untuk menghukum orang-orang “jahat” dan keluar dari jalur Tuhan.
Sementara itu dalam Perjanjian Baru, dalam Kitab Matius, tertuliskan bahwa Yesus menyembuhkan penderita lumpuh setelah mengatakan bahwa dosa-doa orang tersebut telah terampuni. Ini berarti, menderita kelumpuhan karena kehidupannya sarat dengan dosa, hingga kelumpuhan adalah balasannya.
Lebih lanjut lagi, dalam pandangan Kristiani selalu menghubungkan orang difabel dengan garis kekotoran dan dosa. Ini dapat terbaca pada apa yang St. Agustinus percayai, sebagai orang yang terpercaya membawa agama Kristen di Inggris sekitar akhir abad ke-enam.
Agustinus menyatakan bahwa disabilitas adalah hukuman bagi turunnya Adam dan dosa-doa yang lain. Selain itu juga, pada kurun abad ini, tengah berkembang dalam benak masyarakat, difabel selalu saja terhubungkan dengan kekuatan setan. Perempuan yang mempunyai anak difabel selalu saja terasosiasikan mempunyai dan telah berani berhubungan dengan ilmu sihir (witchraft), atau paling tidak mempelajari ilmu sihir.
Kondisi Difabel di Abad Pertengahan
Sejarah kepedihan difabel ini berlanjut, dan agama selalu menjadi pondasi utama atas penderitaan sekelompok orang yang memang “tak berdaya” ini. Martin Luther yang rasionalis dan pahlawan tersebut juga terlibat dalam penggilasan orang-orang difabel.
Sang reformis besar dan orang yang bertanggung jawab atas kelahiran agama Protestan tersebut menyokong dan memproklamirkan pembunuhan bayi-bayi difabel di Jerman. Ini berkaitan dengan streotipe orang-orang difabel yang mereka anggap sebagai “titisan setan.”
Demikian kondisi difabel di abad pertengahan. Malleus Maficarume pada tahun 1487 bahkan mendeklarasikan bahwa bayi-bayi difabel merupakan produk dari hasil hubungan intercourse antara perempuan dan setan.
William Shakespeare, sastrawan Inggris yang terkenal itu, memberikan ilustrasi bahwa kaum difabel merupakan orang yang sebenarnya belum saatnya untuk terlahirkan, atau sebagai orang yang belum selesai dalam proses menjadi manusia. Hal ini sebagaimana tergambar dalam syairnya;
“.. cheated of feature by dissembling natire. Deformed, unfinished, sent before my time into this breathing world, scarce half made up. And that so lamely unfashionable..” Selain itu, difabel pada zaman ini juga menjadi bahan lelucon dan cemoohan yang terus berlangsung hingga sekarang.
Perjanjian Westphalia
Dalam derap sejarah, negara-bangsa merupakan produk dari sebuah konsep keperkasaan, “kenormalan” dan kekerasan. Awal konsep negara merupakan sebuah konstruksi dari rentetan perang panjang hingga akhirnya muncul perjanjian Westphalia pada tahun 1648.
Perjanjian ini merupakan peralihan dari kekuasaan Gereja ke daulat sang raja. Dan perjanjian ini merupakan akomodasi untuk perang yang berlangsung selama 30 tahun. Dari sinilah benih negara-bangsa itu muncul. Negara-bangsa dan awal kemunculan nasionalisme juga tak luput dari peran Protestanisme yang dimotori Martin Luther.
Lantas bagaimana dengan difabel, jika motor penggerak dari semangat negara bangsa itu menyokong pembunuhan bayi-bayi difabel?
Semenjak abad ke 17, kekuasaan gereja secara dramatis mulai runtuh oleh beberapa konfrontasi politik. Banyak orang yang kemudian menjadi peminta-minta karena beberapa sebab. Pertama, mulainya komersialisasi hasil pertanian yang lebih luas.
Kedua, banyaknya imigran ke beberapa tempat yang dianggap lebih maju dan perubahan-perubahan yang lainnya. Ketiga, awal mula ilmu pengetahuan rasional tumbuh. Keempat, banyak penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan terutama ilmu alam.
Pasca-perang Salib
Dalam bukunya Madness and Civilization (1988), Foucault menjelaskan hingga pasca-perang Salib, tempat-tempat yang dibuat untuk mengumpulkan para penderita lepra masih banyak ia jumpai. Pada abad ke-12 misalnya, di Inggris dan Skotlandia masih terdapat 220 tempat yang mencakup hampir satu juta penderita.
Jumlah ini kemudian menurun pada abad ke 14. Lalu di berbagai belahan daerah di Eropa, secara drastis penderita lepra mengalami penurunan. Banyak rumah untuk penderita lepra, tiba-tiba berganti menjadi rumah pengemis, gelandangan, dan tentu saja bagi difabel, terutama mereka yang berada di kelas bawah.
Di awal abad ke 17 di Prancis juga berdiri rumah yang mereka beri nama “hospital general”. Berbagai gedung untuk pengawasan dan pendisplinan mereka bangun untuk tentara-tentara yang menjadi cacat, orang-orang miskin dan seterusnya seperti gedung Salpatire, gedung La Pitie, La Savoniere dan lain-lain. Semua tertangani dalam satu komando untuk satu tujuan “rehabilitasi” dan terciptanya ketertiban sosial menuju masyarakat yang bersih dan teratur.
Gedung-gedung serupa juga ada di Jerman, bahkan Jerman telah melakukan tindakan ini jauh sebelum Prancis. Bangun serupa telah berdiri sejak 1620, dan hanya selang beberapa waktu, berbagai model bangunan yang bertujuan serupa bermunculan di mana-mana.
Hal yang sama juga terjadi di Inggris, semuanya bertujuan untuk menciptakan kota yang rapi, tertib san tentu saja normal. Di antara mereka juga terdidik agar dapat menjadi pekerja-pekerja murahan untuk membantu pabrik.
Lalu di Bermen, Brunwick Munich mereka dipekerjakan secara murah untuk pemintalan. Selain itu, di Hamburg untuk pembelahan kayu, di Nuremberg untuk menggosokkan kaca, dan di Mainz untuk penggilingan tepung dan seterusnya.
Negeri Barat bukan Kiblat Kemanusiaan
Lantas apa di balik semua ini? Foucault menangkapnya sebagai bagian dari kehendak untuk mewujudkan impian-impian para kaum borjuis yang tengah tumbuh saat itu. Sebuah impian untuk mewujudkan kota yang nyaman, teratur, tertata rapi, sehat dan sesuai dengan cita-cita mereka yang berorientasikan pada pertumbuhan ekonomi.
Terlebih lagi perkembangan dunia medis menjadi penjelas akan gambaran-ganbaran ketakutan mereka atas penyakit. Sepertinya Eropa saat itu sedang terlanda ketakutan amat besar, ketakutan akan kekotoran, ketidaknormalan dan penyakit.
Kemudian, dalam perjalanannya kaum difabel pada zaman ini pun banyak teranalisis secara medis hingga direhabilitasi. Artinya diperbaharui selayaknya rumah yang rusak. Panti asuhan dan pusat rehabilitasi berdiri di mana-mana, mereka bangun untuk mensterilkan kaum difabel.
Konstruksi dan sikap atas kaum difabel tak ubahnya seperti memperlakukan “orang gila” di abad pertengahan Eropa, di mana pada abad ini pengidap lepra pun telah lenyap begitu saja, tergantikan oleh keberadaan orang-orang yang dianggap gila. Proses ini lantas didahului oleh kuasa diskursus, dan rasionalitas yang berwujud dalam legitimasi klinis/medis bagi kaum difabel.
Melalui sejarah difabel yang penuh luka ini, kita menjadi tahu bahwa negara-negara Barat yang sering kita puja sebagai pusat peradaban kemanusiaan dan ilmu pengetahuan tersebut pernah bersikap aniaya terhadap kaum difabel. Ini menjadi catatan penting tentang perubahan cara pandang, dan bagaimana pengaruhnya hingga sampai ke Indonesia, yang akan saya tulis dalam artikel selanjutnya. []




















































