Mubadalah.id – Pecinta Drama Korea sedang ramai membahas salah satu serial berjudul “The Art of Sarah”. Sebuah serial misteri yang rilis pada 13 Februari 2026. Drama ini populer karena plotnya yang penuh teka-teki tentang ambisi kelas atas pada tas mewah.
Sinopsis singkatnya cerita The Art of Sarah berfokus pada Sarah Kim, seorang direktur regional dari merek tas mewah eksklusif bernama Boudoir. Sarah sebagai ikon kemewahan yang melayani 0,1% kalangan kelas atas dan selebritas di Korea. Segalanya berubah ketika terdapat sesosok mayat perempuan di sebuah saluran pembuangan. Teridentifikasi mayat tersebut adalah Sarah Kim, karena terdapat tas mewah dan serta ada tato unik yang ada pada tubuhnya.
Pemeran serial ini adalah Lee Joon-hyuk sebagai Park Mu-gyeong, yaitu detektif dari Unit Kejahatan Kekerasan yang mencoba mengungkap siapa sebenarnya sosok di balik nama “Sarah Kim”. Detektif Park Mu-gyeong yang menyelidiki kasus ini mulai menemukan bahwa kehidupan glamor Sarah hidup di atas tumpukan kebohongan, adanya pencurian identitas, dan manipulasi psikologis.
Adapun pemeran Kim Sarah adalah Shin Hye-sun. Seorang wanita misterius, elegan dan dingin yang terobsesi pada kekuasaan dan kemewahan. Shin Hye-sun memerankan tiga karakter sekaligus : Mok Ga-hui sebagai gadis kelas pekerja yang malang dan terjerat utang, Kim Eun-jae sebagai sosok manipulatif yang bekerja di bar demi bertahan hidup dan Kim Sarah sebagai ikon kemewahan. Hampir semua ulasan sepakat bahwa Shin Hye-sun adalah nyawa dari drama ini.
Kemampuan aktingnya mengubah ekspresi dari sosok yang rapuh menjadi predator sosial yang sangat cerdas mendapatkan pujian luar biasa. Aktingnya luar biasa keren. Serial dengan 8 episode ini penuh dengan cliffhanger, membuat penonton ingin terus lanjut ke episode berikutnya. Serial drama ini menyindir bagaimana masyarakat kelas atas begitu mudah tertipu hanya karena tampilan luar dan merek mewah.
Tas Mewah, Pembelian Simbol dan Status Sosial
Kritik terhadap kesia-siaan status sosial, industri barang mewah, dan bagaimana identitas bisa telah terkonstruksi melalui persepsi publik. Fenomena tas mewah seharga mobil atau rumah memang sering bikin geleng-geleng kepala. Secara psikologis, ini bukan sekadar urusan “beli barang untuk bawa barang”, tapi sebuah simulasi status yang sangat kompleks.
Dari kacamata psikologi, terdapat istilah Signaling Theory atau teori sinyal tentang manusia sebagai makhluk sosial yang hierarkis. Dalam psikologi evolusioner, menggunakan istilah Veblen Goods, sebuah istilah untuk menamakan barang yang permintaannya naik justru saat harganya naik. Demi mengirim sinyal kepada lingkungan. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa kita memiliki sumber daya berlebih.
Pada kenyataannya, sebuah tas mahal adalah sebagai tiket instan untuk masuk ke lingkungan sosial tertentu, tanpa harus menjelaskan siapa kita. Ini adalah cara otak mencari validasi instan. Pertanyaannya, apakah membeli tas mewah sebuah bentuk investasi atau justifikasi. Banyak orang berargumen ini adalah “investasi” karena harga tas seperti Hermès Birkin atau Chanel klasik cenderung naik setiap tahun. Terbukti terdapat pasar resale yang kuat.
Membeli tas mewah dengan harga fantastis atas nama investasi usai mengeluarkan uang seringkali hanyalah sebuah disonansi kognitif. Artinya, itu adalah bentuk penghiburan pada diri. Supaya usai membeli, tidak merasa bersalah setelah mengeluarkan uang ratusan juta. Kemudian otak menciptakan alasan logis berdalih sebagai investasi untuk membenarkan keputusan emosional tersebut agar tidak merasa boros.
FOMO (Fear of Missing Out)
Secara harfiah artinya takut ketinggalan momen. Suatu kecemasan sosial yang muncul ketika seseorang merasa orang lain sedang bersenang-senang, merasa lebih baik, atau memiliki barang yang lebih keren. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia untuk merasa terhubung.
Misalnya seseorang sebenarnya tidak butuh tas merek “H”, tapi karena semua teman di geng memakainya dan posting di Instagram, kemudian merasa “kurang” atau “terasing” jika tidak memilikinya. Akhirnya membeli barang bukan karena fungsi atau suka, tapi untuk menghilangkan rasa cemas. Di era media sosial, tas mewah bukan lagi soal selera pribadi. Otak memberikan sinyal barang tersebut sebagai standar minimal untuk mendapatkan validasi.
Membeli tas tersebut sebenarnya adalah upaya untuk meredam kecemasan supaya tidak terkucilkan dan mendapat standar mampu secara finansial di komunitasnya. Menariknya, dalam drama “The Art of Sarah”, memperlihatkan bagaimana tas mewah menjadi senjata. Sarah Kim menggunakan tas bukan karena dia suka desainnya, tapi karena dia tahu orang lain akan tunduk pada simbol tersebut. menggunakan kalimat “Orang tidak melihat wajahmu, mereka melihat apa yang kamu jinjing“.
Manusia sering kali lebih menghargai simbol keberhasilan daripada karakter asli seseorang. Membeli tas mewah adalah “membeli kelas”. Ini adalah fenomena psikologi di mana tingkat adopsi suatu keyakinan atau tren meningkat seiring dengan banyaknya orang yang sudah mengadopsinya. Sederhananya: “Kalau semua orang melakukannya, pasti itu benar atau bagus”. Sebuah standar penyeragaman simbol kesuksesan melalui kepemilikan tas mewah.
Bandwagon Effect (Efek Ikut-ikutan)
Analogi selanjutnya adalah kereta kuda atau disebut bandwagon. Bayangkan ada kereta musik lewat, orang-orang mulai melompat naik ke atasnya hanya karena melihat orang lain sudah di sana. Tanpa mengetahui kereta itu mau pergi ke mana. Otak kita mencoba menghemat energi dalam mengambil keputusan. Seseorang melihat apa yang mayoritas orang lain lakukan sebagai “pintasan” untuk menentukan pilihan
Di dunia yang materialistis ini, sebuah tas tiba-tiba jadi mahal dan langka bukan karena kualitas kulitnya meningkat. Melainkan karena begitu banyak orang terutama public figure yang memakainya, sehingga nilainya naik secara sosial dan psikologis.
Dalam konteks ekonomi, gabungan keduanya menciptakan “Bubble” atau gelembung ekonomi. Bandwagon membuat harga barang naik karena permintaan tinggi. Fenomena FOMO memaksa orang yang sebenarnya tidak mampu untuk tetap membeli karena takut kehilangan status.
Di drama The Art of Sarah, Sarah Kim sangat paham cara memainkan dua instrumen ini. Dia menciptakan kelangkaan buatan agar orang merasa FOMO, dan memastikan orang-orang berpengaruh memakainya supaya terjadi bandwagon effect.
Jika kita pernah ingin membeli sesuatu hanya karena “FYP” di market place. Itulah bentuk kerja sama antara FOMO dan Bandwagon mempengaruhi diri kita. Hidup sederhana bukan berarti miskin, namun bijak dalam mengelola harta, memprioritaskan kebutuhan pokok, berbagi pada sesama. Karena pemboros itu adalah saudara syaitan. Seperti firman Allah SWT dalam surat Al-Isra’ : 27
اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا [٢











































