Senin, 16 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perceraian

    Gemuruh Kausa Perceraian

    Khairunnas Anfa’uhum Linnas

    Jargon “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” dan Perihal Tuntutan untuk Selalu Produktif

    Konflik Keluarga

    Sembilan Langkah Menengahi Konflik Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

    Al-Quds Day

    Mengenal Al-Quds Day: Sebuah Pengingat Bahwa Keadilan Tidak Boleh Dilupakan

    Mudik

    Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna

    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Membutuhkan Perhatian Khusus

    Risiko Kesehatan

    Perempuan Lebih Rentan Mengalami Berbagai Risiko Kesehatan

    Kekurangan Gizi

    Kekurangan Gizi Masih Menjadi Ancaman Kesehatan Perempuan

    Layanan Kesehatan

    Hak Perempuan atas Layanan Kesehatan Sepanjang Siklus Kehidupan

    Kehidupan Perempuan

    Kesehatan Perempuan dan Dampaknya bagi Kehidupan Keluarga

    Aisyah dan Hafshah

    Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah

    Keadilan

    Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

    Akhlak

    Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah

    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perceraian

    Gemuruh Kausa Perceraian

    Khairunnas Anfa’uhum Linnas

    Jargon “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” dan Perihal Tuntutan untuk Selalu Produktif

    Konflik Keluarga

    Sembilan Langkah Menengahi Konflik Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

    Al-Quds Day

    Mengenal Al-Quds Day: Sebuah Pengingat Bahwa Keadilan Tidak Boleh Dilupakan

    Mudik

    Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna

    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Membutuhkan Perhatian Khusus

    Risiko Kesehatan

    Perempuan Lebih Rentan Mengalami Berbagai Risiko Kesehatan

    Kekurangan Gizi

    Kekurangan Gizi Masih Menjadi Ancaman Kesehatan Perempuan

    Layanan Kesehatan

    Hak Perempuan atas Layanan Kesehatan Sepanjang Siklus Kehidupan

    Kehidupan Perempuan

    Kesehatan Perempuan dan Dampaknya bagi Kehidupan Keluarga

    Aisyah dan Hafshah

    Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah

    Keadilan

    Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

    Akhlak

    Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah

    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Jargon “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” dan Perihal Tuntutan untuk Selalu Produktif

Hadis “Khairunnas anfa’uhum linnas” tetap indah, dan menjadi kompas hidup dimanapun. Kita hanya perlu memaknainya dengan lebih manusiawi.

Layyinah Ch by Layyinah Ch
16 Maret 2026
in Personal
A A
0
Khairunnas Anfa’uhum Linnas

Khairunnas Anfa’uhum Linnas

7
SHARES
349
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Sebagai santri, saya baru menyadari satu hal, bahwa jargon populer: “Khairunnas anfa’uhum linnas.” bisa memberikan dampak yang luar biasa dalam menjalankan kehidupan, terutama saat kita sudah keluar dari dunia pesantren. Ia bisa menjadi kompas moral kehidupan.

Bahwa hidup tidak boleh egois, hidup harus memberi manfaat. Namun saya luput pada satu hal lainnya: terkdang “obesesi” untuk menjadi bermanfaat, bersaaman dengan over pressure terhadap pencapaian kebermanfaatan itu sendiri.

Dalam diskusi Ramadan bertajuk Overthink Club yang diselenggarakan Mubadalah.id dengan tema kesehatan mental dalam perspektif mubadalah, mbak Hijroatul Maghfiroh memberikan angin segar dalam membaca kalimat yang tersebut. Tentu bukan untuk menolak maknanya, tetapi untuk bertanya dengan lebih berimbang:

Bagaimana Jika Jargon itu Justru Berubah Menjadi Tekanan?

Diskusi ini menghadirkan salah satu pemateri, Hijroatul Maghfiroh, penulis aktif di Mubadalah.id, yang mengajak kami melihat ulang bagaimana cara kita memahami tuntutan untuk selalu “bermanfaat” dalam kehidupan sehari-hari.

Di banyak ruang keagamaan, terutama di lingkungan santri, menjadi“manusia yang bermanfaat” sering kali terdengar sebagai kewajiban yang tidak boleh berhenti. Kita harus aktif. Harus berkontribusi, lalu memberi dampak, dan harus terlihat berguna.

Masalahnya, dalam praktik sehari-hari, jargon ini sering berjalan berdampingan dengan satu kata yang tak kalah populer: produktif.

Kata “produktif” hari ini seperti mantra modern. Motivasi untuk selalu “produktif” kerap hadir dalam berbagai buku pengembangan diri, dalam konten motivasi, di tengah ceramah agama, bahkan diantara obrolan santai antar teman. Orang yang produktif dipuji. Yang tidak, diam-diam dianggap menyia-nyiakan hidup.

Akibatnya, banyak orang hidup dalam perasaan yang aneh: merasa bersalah ketika tidak sedang menghasilkan sesuatu.

Padahal Manusia Bukan Mesin

Tidak semua fase hidup adalah fase berlari. Ada masa ketika seseorang sedang kelelahan, kehilangan arah, atau sekadar butuh berhenti sebentar. Dalam kondisi seperti itu, tuntutan untuk selalu “bermanfaat” justru bisa berubah menjadi bumerang psikologis.

Alih-alih menyemangati, ia malah menambah beban. Diskusi siang itu juga menyinggung sesuatu yang cukup dekat dengan pengalaman banyak orang: overthinking. Istilah ini sering terpakai untuk menggambarkan pikiran yang terlalu ramai memikirkan banyak kemungkinan, banyak kekhawatiran, banyak skenario yang belum tentu terjadi.

Namun menariknya, overthinking tidak selalu harus kita pahami sebagai kelemahan. Ia juga bisa menjadi bagian dari cara manusia memproses pengalaman hidupnya.

Setiap orang memiliki coping mechanism yang berbeda. Ada yang menulis, dan yang berbicara panjang dengan teman. Ada yang memilih berjalan sendirian, lalu juga yang diam, merenung, dan mencoba ulang kekacauan pikirannya.

Tradisi Uzlah dan Usaha untuk Memahami Diri

Fenomena ini agaknya mengingatkan kita kembali pada tradisi Islam yang sebenarnya tidak asing dengan praktik semacam itu. Nabi Muhammad sebelum menerima wahyu sering melakukan uzlah di Gua Hira. Menyendiri, menjauh dari hiruk pikuk Mekah, dan merenungkan banyak hal.

Dalam sejarah intelektual Islam, kita juga mengenal sosok Imam al-Ghazali. Dalam perjalanan spiritualnya, beliau pernah mengalami krisis batin yang cukup berat, yang jika menggunakan istilah hari ini mungkin mendekati apa yang kita sebut sebagai depresi.

Pada masa itu, ia bahkan memilih meninggalkan posisi akademiknya yang sangat prestisius untuk menjalani pengasingan diri, menata ulang jiwanya, dan mencari kembali makna hidup. Artinya, dalam tradisi spiritual Islam, berhenti sejenak bukanlah kegagalan. Kadang ia justru bagian dari proses menemukan kembali diri sendiri.

Mindfulness dan Upaya Penertiban Mimpi-mimpi Liar

Dalam diskusi tersebut juga muncul gagasan tentang mindfulness, kemampuan untuk hadir sepenuhnya pada saat ini. Mengendalikan pikiran, termasuk mimpi-mimpi liar tentang masa depan, memang tidak mudah. Ia perlu latihan.

Kita sering terlalu sibuk memikirkan apa yang harus dicapai besok, sampai lupa menikmati apa yang sedang kita jalani hari ini. Padahal hidup tidak selalu harus dikejar. Kadang ia hanya perlu disadari.

Salah satu refleksi menarik yang muncul dalam diskusi itu adalah pendekatan yang agak mirip dengan stoikisme sederhana: let it go. Tidak semua hal berada dalam kendali kita. Selain itu, tidak semua harapan harus tercapai dan tidak semua target harus terpenuhi.

Kemampuan untuk melepaskan sebagian beban mental sering kali justru menjadi cara untuk tetap waras di tengah kehidupan yang terlalu bising.

Kesehatan Mental dalam Lanskap Mubadalah

Dalam perspektif mubadalah, seperti dijelaskan Hijroatul Mghfiroh, ada satu hal penting yang sering terlupakan ketika kita berbicara tentang kesehatan mental: manusia tidak hidup sendirian.

Tuntutan untuk menjadi manusia yang “bermanfaat” sering kita pahami secara individual, seolah semua harus ditanggung sendiri. Padahal manusia hidup dalam jaringan relasi.

Kita membutuhkan support system, sekecil apa pun itu. Teman yang mau mendengarkan cerita. Keluarga yang memberi ruang untuk beristirahat. Komunitas yang tidak hanya menilai kita dari seberapa sibuk kita terlihat.

Bahkan hubungan dengan alam juga bisa menjadi bagian dari proses pemulihan. Berjalan santai, menghirup udara segar, atau sekadar duduk di tempat yang tenang sering kali membantu pikiran kembali menemukan ritmenya.

Dan tentu saja, ada satu relasi yang sering terlupakan dalam dunia yang terlalu terobsesi pada produktivitas: relasi dengan Tuhan.

Dalam tradisi spiritual Islam, ibadah bukan hanya kewajiban ritual. Ia juga ruang untuk menata ulang jiwa. Salat, doa, dzikir, semuanya adalah cara manusia mengingat bahwa hidup ini tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.

Bahwa nilai manusia tidak selalu diukur dari seberapa banyak ia menghasilkan sesuatu.

Bagi saya pribadi, hadis “Khairunnas anfa’uhum linnas” tetap indah. Tetap menjadi kompas hidup saya dimanapun saya menjejakkan kaki. Karena menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain adalah cita-cita moral yang sangat mulia.

Namun mungkin kita hanya perlu memaknainya dengan cara yang lebih manusiawi.

Karena sebelum seseorang bisa memberi manfaat kepada orang lain, ia juga perlu memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk bernapas. Dan teruntuk dirinya menerima kebermanfaatan dari penerimaan diri dan berdamai dengan segala hal yang berada di luar kendalinya.

Bahkan, jika kita diam. Belum tentu kita sedang malas. Bisa jadi kita hanya sedang mencari cara untuk kembali utuh. Untuk kemudian mampu menebar mandaat dengan cara yang paling jujur dan sehat lahir dan batin. Wallahu A’lam. []

 

Tags: Kesehatan MentalKhairunnas Anfa’uhum LinnasNgaji Ramadan MubadalahOver Think ClubRelasi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Perempuan Lebih Rentan Mengalami Berbagai Risiko Kesehatan

Next Post

Kesehatan Reproduksi Perempuan Membutuhkan Perhatian Khusus

Layyinah Ch

Layyinah Ch

Layyinah CH. seorang ibu, pengajar, yang terkadang menulis sebagai refleksi diri dengan latar belakang pendidikan pesantren dan kajian Islam. Fokus tulisan pada isu keadilan gender, spiritualitas, pendidikan Islam, serta dinamika keluarga dan peran perempuan dalam ruang-ruang keagamaan.

Related Posts

Konflik Keluarga
Keluarga

Sembilan Langkah Menengahi Konflik Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

16 Maret 2026
Keadilan
Pernak-pernik

Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

14 Maret 2026
Idulfitri Bertemu Nyepi
Publik

Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

14 Maret 2026
Vidi Aldiano dan Sheila Dara
Personal

Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

14 Maret 2026
Kesehatan Mental
Personal

Over Think Club: Seni Ngaji Kesehatan Mental Perspektif Mubadalah

13 Maret 2026
Relasi Mubadalah
Pernak-pernik

Relasi Mubadalah Berangkat dari Prinsip Martabat Manusia

13 Maret 2026
Next Post
Kesehatan Reproduksi

Kesehatan Reproduksi Perempuan Membutuhkan Perhatian Khusus

No Result
View All Result

TERBARU

  • Gemuruh Kausa Perceraian
  • Kesehatan Reproduksi Perempuan Membutuhkan Perhatian Khusus
  • Jargon “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” dan Perihal Tuntutan untuk Selalu Produktif
  • Perempuan Lebih Rentan Mengalami Berbagai Risiko Kesehatan
  • Sembilan Langkah Menengahi Konflik Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0