Mubadalah.id – Sterilisasi adalah tindakan operasi pada tubuh perempuan atau laki-laki yang bertujuan membuat seseorang tidak lagi dapat memiliki keturunan. Kemungkinan terjadinya kehamilan setelah sterilisasi hampir nol.
Karena itu, keputusan untuk menjalani sterilisasi harus dipertimbangkan dengan matang. Anda harus benar-benar yakin bahwa tidak ingin memiliki anak lagi pada masa mendatang.
Meskipun memerlukan operasi, tindakan ini bukan termasuk operasi besar. Sterilisasi tergolong prosedur yang ringan, cepat, dan umumnya tidak menimbulkan efek samping yang berarti. Jika Anda berminat, konsultasikan dengan rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang memiliki layanan lengkap.
Vasektomi: Sterilisasi untuk Laki-Laki
Vasektomi adalah operasi sederhana untuk memotong saluran yang membawa sperma dari testis menuju penis. Yang dipotong bukan buah zakar dan bukan pula batang penis.
Tindakan ini relatif mudah dilakukan sehingga tenaga kesehatan yang terlatih dapat melakukannya, tanpa harus selalu oleh dokter bedah.
Prosedurnya hanya memerlukan waktu beberapa menit. Vasektomi tidak menyebabkan laki-laki menjadi impoten. Vasektomi juga tidak mengurangi kenikmatan seksual saat berhubungan intim.
Bahkan setelah operasi, laki-laki tetap dapat berejakulasi atau mengeluarkan air mani. Perbedaannya, air mani tersebut tidak lagi mengandung sperma.
Setelah operasi dilakukan, masih ada sisa sperma yang tersimpan dalam saluran reproduksi. Karena itu, laki-laki perlu mengalami sekitar 20 kali ejakulasi sebelum seluruh sperma benar-benar habis. Selama masa tersebut, tetap gunakan alat kontrasepsi lain seperti kondom atau metode KB lainnya.
Sterilisasi untuk Perempuan
Operasi sterilisasi pada perempuan sedikit lebih rumit daripada vasektomi, tetapi tetap tergolong aman. Prosedur ini biasanya memerlukan waktu sekitar 30 menit.
Caranya adalah dengan membuat dua sayatan kecil pada bagian bawah perut. Setelah itu, saluran telur (tuba falopi) diikat atau dipotong sehingga sel telur tidak dapat mencapai rahim.
Sama seperti vasektomi, prosedur ini tidak memengaruhi kemampuan seksual perempuan dan tidak mengurangi kenikmatan dalam hubungan seksual. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 291.








































