Mubadalah.id – Bila Anda (sebagai suami) tunjukkan pada istri Anda bahwa Anda memperhatikannya, ia akan merasa lebih nyaman, secara rohaniah maupun jasmani. Pastikan bahwa istri Anda memperoleh bantuan dalam mengerjakan tugasnya sehari-hari. Ia tidak boleh terlalu lelah.
Kalau Anda sendiri tidak bisa membantunya, mintalah orang lain untuk membantunya. Awasi makanan yang dimakannya, pastikan agar ia dapat cukup gizi, dan mendapatkan perawatan pra-kelahiran (lihat halaman 90).
Saat Persalinan
Anda (sebagai suami) dapat membantu istri Anda agar merasa kuat dan nyaman selama persalinan, antara lain dengan cara:
Pertama, pastikan ada makanan dan minuman yang cukup di rumah. Kedua, bila istri Anda melahirkan di rumah, tanggung jawab untuk memanggil bidan atau membantu persalinan terutama ada di tangan Anda.
Ketiga, begitu juga transportasi ke rumah sakit bila diperlukan, atau bila sudah direncanakan untuk melahirkan di sana. Keempat, anda bisa mengasuh anak-anak Anda yang lain.
Kelima, bila Anda hadir di sisinya selama proses kelahiran, berikan semangat dan bantuan fisik maupun emosional. Berikan air minum padanya, bantu ia mengatur posisi (termasuk jongkok atau jalan selama kontraksi), atau usap-usap punggungnya.
Setelah Kelahiran
Istri Anda butuh waktu untuk mengembalikan tenaganya, dan masa 6 minggu pertama sesudah kelahiran adalah masa yang sangat penting. Selama itu ia butuh banyak makan dan banyak istirahat.
Anda (sebagai suami) bisa melakukan seluruh pekerjaan rumah tangga: mencari kayu bakar, mengambil air, mengasuh anak-anak, mencuci popok atau pakaian ibu serta bayi, bahkan memasak. Bila Anda tidak bisa atau tidak sempat mintalah bantuan orang lain.
Bayi yang masih sangat muda itu bisa Anda bantu perawatannya, misalnya mengganti popok, memandikannya, dan lain-lain.
Dengan begitu, istri Anda bisa mendapat kesempatan untuk tidur dan lebih cepat pulih. Lagipula, dengan mengerjakan pekerjaan itu, Anda bisa lebih dekat dengan si bayi.
Jangan melakukan hubungan seks dengan istri sebelum pendarahannya berhenti, agar tidak terjadi infeksi. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 130.







































