Mubadalah.id – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kaysi Buntet, Nyai Fadilah Munawwaroh, mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam membangun pola asuh yang sehat, penuh kasih sayang, dan berlandaskan nilai-nilai agama. Pesan tersebut ia sampaikan dalam program televisi Damai Indonesiaku yang disiarkan langsung di TVOne pada Selasa (5/5).
Dalam tausiyahnya, Nyai Fadilah menegaskan bahwa kehidupan manusia pada dasarnya adalah ibadah, termasuk dalam menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua. Karena itu, mengasuh dan mendidik anak harus dipahami sebagai amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
“Ketika kita diamanahi seorang anak, maka itu adalah bagian dari tanggung jawab kita yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya di hadapan jamaah dan pemirsa.
Ia mengutip pesan Al-Qur’an tentang pentingnya menjaga diri dan keluarga. Menurutnya, seseorang tidak akan mampu membimbing keluarga dengan baik apabila belum mampu mengelola dan memahami dirinya sendiri.
“Bagaimana kita bisa menjadi panutan kalau diri kita sendiri belum memahami esensi hidup kita?” katanya.
Dalam ceramahnya, Nyai Fadilah juga menyinggung fenomena sosial yang masih sering terjadi di masyarakat, di mana kesalahan anak kerap dibebankan sepenuhnya kepada ibu. Ia mengajak para orang tua untuk lebih banyak melakukan introspeksi terhadap pola pengasuhan yang diterapkan di rumah.
“Kalau anak berprestasi, semua bangga. Tapi kalau anak bermasalah, sering kali ibu yang orang-orang salahkan. Padahal pola asuh adalah tanggung jawab bersama,” tuturnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kesiapan mental dan emosional sebelum memasuki pernikahan dan menjadi orang tua. Karena itu, ia mendukung upaya pemerintah dalam mencegah perkawinan usia dini serta menolak praktik kawin paksa.
Menurutnya, perempuan yang masih berada dalam usia belajar seharusnya kita berikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Pendidikan, kata dia, merupakan bagian penting dari ibadah dan investasi masa depan.
“Jangan sampai perempuan kita terus batasi. Sebab perempuan dan laki-laki sama-sama punya kesempatan untuk berkembang bersama,” tegasnya.
PDKT
Dalam kesempatan tersebut, Nyai Fadilah memperkenalkan konsep pola asuh yang ia singkat dengan istilah “PDKT”. Konsep tersebut, menurutnya, dapat menjadi pedoman sederhana bagi orang tua dalam mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi saleh dan salehah.
Huruf “P” dalam PDKT berarti pendidikan agama. Ia menilai pendidikan agama sejak dini menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter anak.
“Kalau pondasinya kuat, imannya kuat, maka anak akan tumbuh menjadi insan yang baik,” ujarnya.
Sementara huruf “D” merujuk pada doa. Sebagai orang tua, kata dia, doa harus menjadi bagian penting dalam proses pengasuhan. Ia mengajak para jamaah untuk senantiasa mendoakan anak-anak agar menjadi generasi yang saleh dan salehah.
“Jangan hanya menyalahkan anak. Orang tua juga harus introspeksi, apakah pola asuhnya sudah benar atau belum,” katanya.
Adapun huruf “K” berarti kasih sayang. Menurut Nyai Fadilah, anak-anak, terutama generasi muda saat ini, membutuhkan pendekatan emosional yang hangat dan penuh perhatian.
“Peluklah mereka dengan kasih sayang. Pahami perasaan dan kondisi anak-anak zaman sekarang,” pesannya.
Sedangkan huruf “T” berarti teladan. Ia menekankan bahwa orang tua harus mampu menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya, baik dalam perilaku maupun dalam kehidupan beragama.
“Kita harus menjadi teladan. Anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari,” ungkapnya.
Di akhir tausiyahnya, Nyai Fadilah mengajak seluruh jamaah untuk terus memperkuat iman dan menjadikan kehidupan sebagai jalan ibadah. Ia berharap setiap ikhtiar dalam membangun keluarga dan mendidik anak mendapatkan keberkahan dan pertolongan dari Allah SWT.
“Semoga apa pun yang kita jalani selalu mendapatkan syafaat dan apa yang kita harapkan Allah SWT kabulkan,” pungkasnya. []










































